Sangkring Art | Figuring Text –Texting Figure ogz Jogja Contemporary at Sangkring Art Space
865
single,single-post,postid-865,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,side_area_uncovered,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

Figuring Text –Texting Figure ogz Jogja Contemporary at Sangkring Art Space

Group Exhibition

Agus “Baqul” Purnomo, Anis Ekowindu, Dedy Sufriadi,Farhansiki, Januri, Popok Tri Wahyudi dan Seno Andrianto

Figuring Text –Texting
Opening : Friday, April 12 2013  19.30 wib
Esai : Stanislaus Yangni
Exhibition current until : mey 15 2013

Artist Talk: Senin, 22 April 2013. 15.00 – 17.00 wib

 

Figuring Text, Texting Figure merupakan tawaran menarik untuk mencari kembali “greget” yang hilang di dunia seni lukis kita. Dengan kata lain, tema ini membuka peluang bagi kita untuk menemukan aisthesis, yang sensible dalam karya seni, yang ternyata telah hilang ditelan oleh representasi.  Aisthesis inilah yang diistilahkan Lyotard sebagai Figur, Figural. Ia hilang lantaran ditelan logika pemaknaan yang dikuasai oleh wacana, semacam sistem tertutup dari bahasa yang mampu membuat orang selalu takut “terpeleset.”  “Yang Figural” bukan tokoh dalam lukisan figuratif, tak sekadar rangkaian huruf atau kalimat dalam sebuah teks, melainkan ritme, intonasi, semacam ‘pemenggalan-pemenggalan’ yang belum ternamai.  Ia lah yang agaknya, dalam istilah Klee, “invisible force,” dan dalam istilah Sudjojono “Jiwa Ketok.” Maka, menemukan “Yang Figural” berarti menemukan kembali logika seni yang khas, bahasa karya yang selalu rela untuk keliru.

Jogja Contemporary mengajak 7 seniman: Agus “Baqul” Purnomo, Anis Ekowindu, Dedy Sufriadi, Farhansiki, Januri, Popok Tri Wahyudi dan Seno Andrianto untuk merangkai bentukan figural dan tekstual dari apa yang mereka tangkap dengan inderawi-seninya dari lingkup hidup sekitarnya.

 =============================================================================

Figuring Text, Texting Figure is an interesting offer in rediscovering the “zest” missing from our world of painting art.  In other word, the theme provide opportunities for us to find the aisthesis, a sensible one within the artwork, which apparently has been lost as it was swallowed by representation. It is aisthesis that Lyotard referred to as Figure, Figural. It  is lost because it is being overwhelmed by the logic of meaning ruled by discourses, like a closed system of language that’s able to make people fear of “slipping”. “The Figural” is not the figure in figurative paintings, not merely a series of letters or sentences in a text, but the rhythm, intonation, a type of ‘truncation’ that is yet to be named. It is  seemingly, in Klee’s terminology, the “invisible force,” and in Sudjojono’s term, “Visible Soul.” Thus, finding “The Figural” is rediscovering a distinctive art logic, the language of work that is willing to be wrong.

Jogja Contemporary invited 7 artists: Agus “Baqul” Purnomo, Anis Ekowindu, Dedy Sufriadi, Farhansiki, Januri, Popok Tri Wahyudi and Seno Andrianto to compose figural and textual visuals from what they perceived using their artistic senses from their niche.

admin

sangkring@gmail.com
No Comments

Post a Comment