Sangkring Art | ADU KARYA DUA DOMBA
1154
single,single-post,postid-1154,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,side_area_uncovered,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive
Adu Domba, Sangkring Art Project

ADU KARYA DUA DOMBA

Sangkring Art Project menggelar pameran berjudul “Adu Domba” untuk kali pertama. Sebuah program baru yang bakal digelar setiap tiga bulan sekali selama dua tahun kedepan. Kelak, program yang berhasil dijalankan akan menjadi bagian dari proyek dokumentasi dalam rangka perayaan 10 tahun galeri Sangkring.

Sebanyak 12 karya menghiasi galeri Sangkring Art Project selama kurun waktu 25 Agustus sampai dengan 8 September 2015. Ada lukisan dengan mengambil objek berupa figur yang terbuat dari tanah liat. Sejumlah patung ukuran kecil dari tanah liat turut hadir berderet, yang juga sebagai objek dari lukisan itu sendiri. Karya tersebut dibuat oleh I Made Agus Darmika atau yang lebih akrab di panggil ‘Solar’. Karya berikutnya berupa kumpulan titik dan garis-garis. Saling melintang terkadang melengkung, namun seirama,  juga mengambil warna yang cenderung terang. Terdapat motif seperti yang sering kita jumpai pada anyaman, bisa juga kemeja atau sarung. Karya kedua dikerjakan oleh Putu Sastra Wibawa. Pameran sengaja digelar dalam rangka pemenuhan program galeri berjudul “Adu Domba #1”. Selama pameran berlangsung, keduanya, Solar dan Sastra tak ubahnya domba yang sedang di adu.

Perhelatan ini sukses digelar tanpa ada pihak yang menjadi korban atau dikalahkan. Gelaran ini sesungguhnya menjadi kemenangan sekaligus kekalahan bersama. Sebab seri pameran Adu Domba ini hanyalah rangkaian simulasi yang diinisiasi oleh Sangkring Art Project. Dalam pengantarnya, Ida Fitri, penulis pameran, menyampaikan “Seri pameran ini justru bermaksud memunculkan karakter dan kualitas pengkaryaan yang tangguh. Sebab dalam satu pameran, dua perupa akan mengasah konsep, menguji kemampuan teknik dan mempertaruhkan karya visual masing-masing untuk dipertandingkan dalam ruang pameran yang terbuka.” Jika kita melihat lebih jauh lagi, seringkali dalam laku adu domba terdapat persaingan yang keras, lalu masing-masing pihak mengerahkan kekuatan sebisa mungkin. Atmosfer inilah yang hendak panitia hadirkan dalam proses pengkaryaan peserta pameran.

Hadirnya ruang Sangkring Art Project memang sengaja untuk membuka kemungkinan bagi para perupa dan penghayat seni dalam melakukan eksplorasi artistik dan produksi pengetahuan. Bentuknya bisa pameran, pengkajian estetika dan riset visual. Adu Domba berangkat dari rancangan itu. Dalam kesempatan ini menghadirkan perupa yang boleh dibilang masih baru dalam memulai karir keseniannya. Solar dan Sastra, keduanya juga tercatat sebagai mahasiswa akhir di kampus ISI Yogyakarta jurusan Seni Lukis. Mereka juga berasal dari tempat lahir yang sama, Bali. Titik utama Adu Domba adalah melibatkan dua seniman yang bisa di kata sepadan, baik karya dan kesenimanan-nya. Sementara, Ida Fitri dipilih sebagai penulis yang memiliki latar belakang mahasiswa CRCS UGM juga penyiar radio Sonora FM. Ia menyajikan karya tulis yang khas dengan sudut pandang ilmu sosial. Disinilah eksperimen terbentuk. Satu sama lain saling berbagi dan mengisi.

Pada malam pembukaan, seremonial dipimpin oleh Samuel Indratma. Ia mengantarkan upacara pembukaan yang justru sama menariknya dengan karya pameran. Atmosfer humor sekaligus provokatif mengalir, dibungkus dengan gimmick panggung yang responsif, misal seperti saat kedua perupa dipanggil ke depan untuk saling beradu arguman, tentu dengan pertanyaan yang tidak umum. Tersimpul bahwa pameran berlangsung bukanlah bentuk perayaan, namun ujian. Berikutnya, Putu Sutawijawa turut memberikan sambutan mewakili galeri. Ia mengungkapkan latar belakang hadirnya pameran.  Suatu kisah tersampaikan, sebenarnya Adu Domba adalah hal yang selalu ada tanpa kita sadari, hampir di berbagai aspek kehidupan. “Saya terinspirasi ketika bermain jejaring sosial, saat itu saya dan teman-teman (Folk Mataraman Institute) membuat turnamen berhadiah dua ekor ayam, yaitu dengan melakukan sesuatu di dunia kreatifitas.” ucap Putu. Pemilik Galeri Sangkring ini melihat bahwa  proses itu justu menghasilkan hal luar biasa, “Ada sikap berfikir dengan cara main-main, akhirnya kenapa tidak dijadikan konsep berkarya saja, agar bisa naik kualitasnya, karena kebetulan kami punya ruang”. Pemilihan nama ‘domba’ sendiri agar terlihat lebih elegan, jika mau dibandingkan dengan ayam. “Kita memang terlihat selalu banyak gojeknya, tapi kita berfikir terbalik, dari gojek jadi serius” tutup Putu.

Pameran dibuka oleh Edi Sunaryo, seniman yang juga staf pengajar Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta. Sebelumnya, ia memberi sambutan, menyampaikan perihal proses kreatif di berbagai lapangan, dari perupa berumur sampai pemula. Ia juga merasa spesial dengan karya yang hadir, di mana menurutnya punya potensi berbahaya. Lebih dari itu, juga menyinggung soal pendidikan. “Aktifitas galeri seni juga sebagai pendidikan alternatif sekaligus praktik langsung karir kesenimanan. Seperti menyiapkan pameran dengan matang, dan bekerja bersama kurator maupun publik”. Lebih dari itu, Edi Sunaryo juga terbuka dengan berbagai masukan tentang wacana di luar kampus, nantinya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk pendidikan formal. Ida Fitri juga turut memberikan sedikit sambutan, ia menyampaikan bahwa gelaran memang meniru situasi adu domba. “Dengan ini, jika para perupa suatu saat menghadapi, berkontestasi, kemudian mendapatkan pertentangan. Maka dapat menyikapi hal tersebut dengan cara  elegan.”

Terselenggaranya pameran Adu Domba memiliki kesan tersendiri bagi Sastra. Dapat berpameran di galeri Sangkring merupakan kebanggaan tersendiri, sesuatu yang luar biasa. “Sebagai perupa muda, ruang seperti ini sangat perlu dihidupkan. Banyak pelajaran dan pengalaman yang menarik ketika saya pameran di Sangkring.” ucap perupa yang pernah meraih “Best Award 1st Painting Dies Natalis XXXI ISI Yogyakarta 2015”. Galeri Sangkring bekerja dengan professional, menempatkan orang-orang sesuai bidangnya, dari pendisplay juga update informasi seputar pameran. “Saya sangat dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ada, terima kasih atas kerjasamanya dalam pameran” terangnya. Sementara bagi Solar, sebagai rival ia menyatakan “Melalui program Adu Domba, Sangkring telah mendukung ekspresi bagi perupa muda, dan cukup kreatif untuk memacu semangat perupa muda secara total, demi berkembangnya gagasan-gagassan baru.” Kinerja manajemen  baik, dengan sigap menerima informasi yg di butuhkan seniman. “Dan yang paling oke adalah kinerja tim display yang cekatan, rapi dan profesional.”

Menilik Gelaran Adu Domba 1 yang diikuti oleh dua perupa Bali, terlihat kedua perupa memiliki kecenderungan dalam mengeksplor ke-bali-annya, baik secara tersirat maupun tersurat. Seolah Bali dengan segala daya hidupnya, baik sebagai ide juga realitas merupakan materi yang tak pernah habis untuk digali. Dalam hal ini terlihat bagaimana karya Sastra Wibawa menghadirkan alam bali melalui garis dan titiknya. Begitu juga Agus Darmika, menyandingkan tanah liat yang merepresentasikan rasa cinta kepada ibu, dan segala cerita – kebiasaan di Bali, terutama di masa lampau. Sementara, pertimbangan estetika karya menjadi perhatian tersendiri, terlihat molek dan jinak. Perjalanan Adu domba tahap pertama menjadi rangkuman mengenai ruang eksperimen, persilangan disiplin ilmu, kecenderungan karya, dan juga upaya alternatif dalam rangka memberikan ‘sesuatu’ bagi dunia seni rupa. Sangkring masih terus mencari domba dan membuka pintu lebar bagi publik yang ingin turut serta. (Sangkring/ Huhum Hambilly)

 

admin

sangkring@gmail.com
No Comments

Post a Comment