Sangkring Art | BLOOM IN DIVERSITY at BALE BANJAR SANGKRING
21385
single,single-post,postid-21385,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,side_area_uncovered,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive
17424818_10209354131510894_9078228450556290201_n

BLOOM IN DIVERSITY at BALE BANJAR SANGKRING

17424818_10209354131510894_9078228450556290201_n

 

Pameran Seni Rupa kolaborasi antara Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta  (FSR ISI Yogyakarta) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014 dengan judul “Equal Liberium” yang dilaksanakan di kota Bandung. Pameran kolaborasi dua institusi seni ini kembali akan diadakan pada tanggal 25 Maret 2017 dengan mengambil tempat di Bale Banjar Sangkring Art Space Yogyakarta. Pameran kali ini mengambil judul “BLOOM IN DIVERSITY”, sebuah tema yang diharapkan melampaui pembahasan mengenai relasi kedua institusi. Tema ini berangkat dari situasi keberagaman bangsa Indonesia secara luas yang memiliki sejarah panjang dalam mengelola kemajemukan.

Situasi hari ini mempertontonkan ujian yang semakin kompleks bagi kesepakatan kita berbangsa. Kebebasan berpendapat yang membuka ruang bagi beragam ekspresi identitas itu memiliki dua sisi, di satu sisi memberikan kesempatan yang luas bagi munculnya keberagaman, di sisi lain berdampak pula menggoyahkan simbol-simbol kesepakatan kita berbangsa. Bhinneka Tunggal Ika seakan mulai diabaikan karena konflik perbedaan kepentingan di antara bermacam identitas itu. Banyak lembaga baik pemerintah maupun swasta yang berusaha mengembalikan keutuhan tersebut, namun peran serta anggota masyarakat sebagai elemen terkecil bangsa ini perlu untuk ditumbuhkan kembali kesadarannya.

Di tengah gejolak persoalan yang krusial seperti ini, sudah saatnya bagi para mahasiswa seni yang kelak menjadi generasi penerus bangsa ini untuk ambil bagian dalam menyuarakan pernyataan mereka masing-masing terhadap persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Kedua institusi baik Institut Seni Indonesia Yogyakarta maupun  Institut Teknologi Bandung sudah memiliki modal pengalaman yang kuat perihal mengelola kebhinekaan dalam kehidupan kampusnya masing-masing. Mahasiswa kedua kampus ini berasal dari bermacam identitas, baik budaya, agama, etnisitas, maupun bahasa, yang secara organik menumbuhkan kesadaran masing-masing pribadi dalam memahami dan mengalami perbedaan. Pengalaman tiap-tiap individu itu diharapkan dapat menumbuhkan gagasan-gagasan kreatif dalam merespon persoalan keberagaman di Indonesia.

“BLOOM IN DIVERSITY” dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna “Mekar dalam Keberagaman”. Diversity dalam konteks ini adalah suatu kondisi yang memiliki atau terdiri dari berbagai elemen yang berbeda. Mekar dalam perbedaan adalah harapan agar perbedaan itu dapat secara organik menumbuhkan kemampuan warga bangsa ini dalam mengelola dan belajar demokrasi secara terus menerus. Menjadi berbeda adalah memahami bahwa keberadaan masing-masing identitas itu ada karena adanya identitas yang lain. “Bloom in Diversity” ingin menyajikan masing-masing identitas itu bersanding dengan identitas yang lain secara bersama. Pengertian identitas pun dipahami bukan sesuatu yang statis, namun dinamis, negosiatif, dan partikular. Dalam pemahaman seperti itu, maka identitas menjadi hal yang selalu tumbuh dalam keberagaman; Bloom in Diversity.

Situasi global hari ini memberikan tempat pada keragaman justru melalui lanskapnya yang memiliki kanal-kanal instrumen yang sama. Dalam ranah seni rupa kontemporer, kanal-kanal itu antara lain institusi pendidikan, acara-acara seni rupa seperti biennale dan semacamnya, galeri seni, museum, media, pasar, dan para pelakunya. Pendidikan seni rupa yang mengadopsi banyak pola pendidikan sejenis di dunia global, pada satu sisi memberi perhatian yang lebih pada perkembangan seni modern dari barat, tetapi di sisi lain memberikan peluang bagi tampilnya ragam identitas yang dijalani para mahasiswa. Wacana seni kontemporer hari ini pun memberi perhatian pada perkembangan seni yang tidak tunggal, dan membuka peluang bagi munculnya praktik seni di luar arus sejarah utama sebelumnya yang terlalu mengacu ke barat. Peluang ini memungkinkan untuk menampilkan banyak identitas lain di luar arus utama yang selama ini menjadi perhatian.

Pada pameran ini, nampak bahwa para mahasiswa seni sudah melampaui perbincangan yang sebelumnya mengenai persoapan di dalam seni itu sendiri. Mereka dengan fasih menggunakan bermacam media seni sesuai dengan minat dan gagasannya, seperti fotografi, video, patung, instalasi, lukisan, grafis, kriya, dan sebagainya. Pilihan menggunakan bermacam media itu mereka gunakan untuk menampilkan ragam identitasnya, dalam situasi makin terbukanya sumber pengetahuan dan jaringan seni hari ini.  Setidaknya ragam karya yang tampil dalam pameran ini dapat menjadi salah satu gambaran dari praktik anak muda yang selalu bertumbuh dan berkembang dalam mempraktikan demokrasi sehari hari.

Rain Rosidi, Hakim Faizal & Cindy Poh

admin

sangkring@gmail.com
No Comments

Post a Comment