Sangkring Art | Jogja Editions
21438
single,single-post,postid-21438,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,side_area_uncovered,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive
poster JE_ok (1)

Jogja Editions

poster JE_ok (1)
 
Ruang Berlapis Intaglio Sebuah Catatan untuk JIMB 2017

Jogja International Miniprint Biennale (JIMB), sebuah ajang internasional dua tahunan berhasil menempatkan dirinya sebagai tolak ukur perkembangan seni grafis di Indonesia. Berbeda dengan tradisi bienale di arus utama yang rumit dan gigantik, JIMB justru secara leluasa dan responsif menawarkan kesederhanaan melalui karya-karya berukuran mini. Model bienale ini melancarkan terciptanya mobilitas dan efisiensi. Sejak digelar, JIMB pada gilirannya telah menjadi sebuah ajang yang turut mewakili nama Indonesia di forum seni grafis kontemporer dunia. JIMB telah menawarkan berbagai kemungkinan dalam teknik seni grafis yang belum dikembangkan penggrafis tanah air (dengan alasan miskinnya infrastruktur studio grafis yang bisa segera bisa dimaklumi bersama), terutama kekayaan teknik intaglio dan litografi. Pengalaman melihat karya-karya grafis mancanegara ini sangat penting guna mengukur semaju apa perkembangan seni grafis kita dan, tentu saja sejauh mana kita sudah tertinggal.  Dari perjalanannya, JIMB membuktikan bahwa karya-karya cetak sanggup menembus keterbatasannya yang mana kemudian bisa dihargai sebagai analisa kritis atas representasi kebudayaan kontemporer yang selama ini didominasi seni lukis.

Karya-karya yang mendapat perhatian istimewa dalam JIMB kali ini menampilkan teknik intaglio yang berkembang di Eropa setelah cukilan kayu. Intaglio – populer di Indonesia dengan sebutan cetak dalam –  menggunakan plat tembaga sebagai bidang yang ditoreh sehingga area cekungnya menahan tinta. Saya sebelumnya mengatakan bahwa teknik ini belum seberapa berkembang mengingat masih sedikit karya-karya di tanah air yang sanggup keluar dari sejumlah kendala. Bagi penggrafis yang berkutat pada teknik ini, mereka bertahan tak lebih dari sekedar teknik kalau tidak bisa disebut belum memperlihatkan penjelajahan tema yang dengan kerangka konseptual dan estetika yang maju. Kita akan melihat bagaimana kualitas teknik intaglio dalam pameran JIMB saat ini dan bagaimana karya karya terpilih dari seniman Paolo Ciampini, Dimo Kolibarov, dan Deborah Chapman unggul dari segi teknik, konseptual dan estetika.

Karya Paolo Ciampini (Italia) cenderung memadukan nuansa gelap di mana impresi manusia dan hewan muncul akibat pencahayaan yang menempatkan mereka ke dalam sebuah situasi sunyi, puitis sekaligus nostalgis. Sementara beberapa sosok di situ tampil secara ikonografis, yang lainnya berpose untuk sebuah komposisi fotografis yang ganjil. Potongan anatomi atau pose-pose wanita di situ juga seakan menata keilahian yang telanjang dari sebuah inspirasi klasik seraya mengembalikan bayangan kita pada seni-seni renesans. Semua itu tak hanya memperlihatkan teknik grafis Ciampini dengan efek tonal yang tampil secara prima, tetapi juga untuk mengembangkan gagasan. Karyanya menghadirkan tingkat kesulitan dan juga sebuah bukti keterampilan dalam menggambar. Ini tentu bukanlah pekerjaan mudah bagi pengamat yang memahami bagaimana teknik intaglio dalam seni grafis dikerjakan.

Dimo Kolibarov (Bulgaria) tampaknya berminat pada ruang-ruang berlapis yang saling menghubungkan satu tempat ke tempat lain, menghubungkan satu citra ke citra lainnya. Ruang itu menempatkan manusia ke dalam situasi abnormal meski masih mengacu pada realitas dan kita kenali sebagai pantai, labirin, atau sebuah sudut rumah dengan kursinya. Kolibarov juga mempersoalkan transisi ruang yang mengubah imaji manusia sebagai hewan sehingga mengesankan peristiwa janggal – kalau tidak bisa disebut surealistis. Seorang anak kecil tampil simultan di beberapa karya dalam sebuah obsesi kejiwaan. Ia mendekap seekor hewan (atau sebuah boneka) yang menjaganya dari sebuah ancaman dan dari konflik antara ruang pribadi dan ruang publik, antara ruang keluarga dan ruang sosial, antara ruang budaya dan ruang yang berguna, antara ruang santai dan pekerjaan. Anak itu mewakili kehadiran tersembunyi yang suci.

Dengan teknik mezzotint, Deborah Chapman (Canada) melayani fantasinya yang tak terbatas melalui perpaduan janggal antara benda, buah, hewan dan figur manusia. Dengan latar gelap (ciri khas teknik ini), objek-objek itu berjalinan membangun narasi misterius. Sementara di karya lainnya, Chapman lebih memperkuat komposisi – suatu keseimbangan untuk menyempurnakan simbolisme. Objek bola memantulkan bayangan di sekitarnya: sebuah tangga teronggok di celah lubang kotak. Kesan bayangan itu mengambil sifat-sifat teritorial manusia, dengan pengawasan sadar dan bawah sadar tentang kehadiran dan ketidakhadiran, masuk dan keluar. Pengungkapan akan demarkasi perilaku dan batasannya memungkinkan terjadinya definisi tentang apa yang ada di dalam dan di luar dan yang dapat mengambil bagian dari sublimasi yang melekat.

Sehelai hasil cetakan semula hanyalah sebuah kesan pada kertas dari sebuah gambar yang ditinggalkan oleh objek lain. Itu berbeda dengan melukis, di mana kesan ditinggalkan oleh kuas yang gambarnya  sudah terbentuk sempurna. Namun peradaban berhutang ingatan pada cetakan ini. Ketika dia dibebaskan menjadi kerja otonom seniman, seni grafis mengambil tempat dalam berbagai gejala seni, termasuk gejala-gejala yang meninggalkan prinsip seni modern melalui duplikasi merek panganan kaleng oleh Andy Warhol. Seni grafis tampaknya akan terus keluar-masuk menjadi bagian dari peradaban dan berpeluang besar menjadi instrument kritikal di tangan seniman.

Leiden, 29 April 2017

Aminudin TH Siregar

 

admin

sangkring@gmail.com
No Comments

Post a Comment