Sangkring Art | The Gift
21420
single,single-post,postid-21420,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,side_area_uncovered,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive
poster fix

The Gift

The Gift: 10 Tahun Sangkring Art Space

poster fix

 

Bagaikan bulan sabit mengembang malam demi malam, demikian pemberian adalah tanah berlimpah panen (petikan dari Anucasanaparvan, Kitab XIII Mahabharata).

Perayaan ulang tahun ke-10 Sangkring Art Space dapat kita pahami sebagai sebuah peristiwa yang dalam risalah antropologi biasa disebut sebagai ritual intensifikasi atau ritual penyatuan kembali. Fungsi utamanya adalah sebagai pemanggungan dan peneguhan kembali ikatan-ikatan sosial. Dramatisasi dan reafirmasi sosial. Melalui peristiwa ini, mereka yang tercerai-berai dapat berkumpul lagi. Ikatan-ikatan sosial yang burai pun dibuhul kembali. Barangkali, ditilik dari sisi romantiknya, peristiwa ini segera ingin diberi makna sebagai ajang kangen-kangenan; tetapi, dari sisi yang lebih formatif, ia dapat menjelma sebagai ajang pertukaran. Adalah hal yang jamak jika sebuah perayaan seperti ini sekaligus menjadi momentum untuk memberlanjutkan pertukaran, saling bertukar pemberian atau hadiah.

Pemberian, apakah ia niscaya obligatoris atau sukarela, sarat-kepentingan atau bebas-kepentingan? Pemberian yang generous, adakah? Konsep tentang sedekah, bahkan persembahan dan pengorbanan bagi dewa-dewi atau tuhan sekalipun, sedikit-banyak obligatoris dan sarat-kepentingan. Maka dari itu, jangan heran jika seorang Marcel Mauss, dalam The Gift: Forms and Functions of Exchange in Archaic Societies (1967), masih terus berhadapan dengan para penanggapnya yang kritis. Donasi darah, misalnya, mungkin bisa mewakili imajinasi kita tentang the free gift. Dalam konteks intensifikasi, tentu ia boleh ditafsir secara metaforik: saling memberi spirit, gairah kehidupan. Daya hidup, jika kita pinjam ungkapan Rendra. Pemberian di dalam momentum ini bak darah yang mengalir, memberi daya hidup bagi siapa saja. Ia mengalirkan doa dan harapan.

Terlebih lagi, sebagaimana dikatakan juga oleh Mauss (1967: 66-77), pemberian bukanlah fenomena atau aktivitas yang parsial. Dalam mengartikulasi tatanan sosial, ia tidak semata-mata bermatra moral dan religius, apalagi sekadar morfologis, melainkan juga estetik. Matra terakhir ini tak bakal terengkuh apabila kita memahaminya dari perspektif moral-ekonomi semata-mata, sebab yang bermain adalah sisi artistik dan simbolik yang sarat makna. Pada sisi ini pemberian mencapai kapasitas produktif, yakni sebagai penciptaan tanda-tanda yang, seperti dikatakan tadi, mengekspresikan keberlanjutan daya hidup. Bagaimanakah tanda-tanda dipertukarkan, diperbincangkan? Adakah perbincangannya bergerak ke dalam, involutif, atau meruyak ke luar menemu potensi makna-makna yang lebih demokratis?

Dalam ungkapan metaforik lain yang kita pungut dari Mary Douglas dan Baron Isherwood, The World of Goods (1996): apakah pemberian ini hendak dibubuhi makna sebagai pagar atau jembatan? Sebaris pagar tentu saja bermakna membatasi, membangun eksklusi; sedangkan sebentang jembatan menghubungkan, menjalin relasi sosial yang inklusif. Jika kita kembali ke dalam pemahaman awal tentang peristiwa intensifikasi yang berfungsi untuk menyatukan mereka yang berserak, Sangkring Art Space telah berkomitmen untuk tetap mempertahankan perannya sebagai jembatan yang inklusif itu. Kita ingin melangkah ke seberang bersama-sama, tidak sebatas pada para seniman yang berpartisipasi di dalam pameran besar ini, melainkan juga jagad seni rupa yang begitu jembar.

Teruntuk sebuah ruang seni yang diberkati, the gifted Sangkring Art Space, mari kita serukan: Dirgahayu!

Kris Budiman

 

admin

sangkring@gmail.com
No Comments

Post a Comment