Sangkring Art | Locus Utopia – Katirin, Single Fighter #2
21490
single,single-post,postid-21490,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,side_area_uncovered,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

Locus Utopia – Katirin, Single Fighter #2

Locus Utopia

 IMG-20180205-WA0030

The artist is an inventor of places. He shapes and incarnates spaces which had been hitherto impossible, unthinkable…..

(Didi-Huberman, 1990: 6)

Saat melihat lahan di Gunung Bangkel bagian atas, Katirin telah menemukan yang dicarinya selama dua bulan lebih. Seturut perspektifnya, lahan berbatu masif dengan kontur bervariasi dan elevasi sekitar 150 mdpl itu, memiliki akses dua pemandangan, di utara gunung Merapi yang megah dan di selatan jajaran perbukitan segmen Patuk – Dlingo. Masih ditambah pula bonus pemandangan sawah dan hiruk pikuk jalan raya Jogya – Wonosari km 9.

Seturut pemikiran Faucault dalam Of the Space (1967), lahan temuan Katirin itu termasuk kategori locus utopia. Sebagai konsep, locus utopia kerap disebut Heterotopia, yaitu lokasi dari utopia yang nyata ada, namun kerap diposisikan sebagai ruang yang berbeda. Di dalam homogenisasi ruang perkotaan, heterotopia dianggap berada di wilayah antah berantah. Hanya single fighter sejati yang berani mencari, menemukan locus utopia dan secara simultan memanifestasikannya ke berbagai wujud representasi. Meski belum tuntas, di lahan milik Katirin itu kini telah berdiri, tiga ruang yang berbeda fungsi. Pertama rumah, kini ditinggalinya bersama keluarga. Kedua, teras belakang yang didirikan tepat di bibir jurang. Dan ketiga adalah studio, tempatnya berkarya.

Dari locus utopia di gunung Bangkel dan karakter bentukan ruang yang diolah oleh Katirin,  sepertinya berbalik mempengaruhinya. Berbagai hal yang sebelumnya dipandang tidak mungkin dan tak terpikirkan telah membentuk cakrawala pengetahuan baru, dan memperkaya ruang batin Katirin. Perspektif baru itu lebih jauh mendorongnya untuk mengeksplorasi cara – cara yang lebih memajukan simpati dan empati terhadap obyek atau subyek pemantik gagasan – gagasan visualnya. Dari tempat itu pula berlangsung pergeseran dominasi warna pada karya – karya Katirin ke warna – warna bebatuan, sephia, oker, cokelat, dan abu – abu. Meski tetap memuat tema kegamangan manusia dalam pergulatannya dengan kehidupan di era modern, karya – karya yang disiapkan Katirin untuk pameran Single Fighter #2 ini, menyajikan pula tema berkait keruangan (spasial), yang fisikal sekaligus yang mental. Katirin mulai menyisir makna ruang – ruang fisik yang pernah ditinggalinya memautkannya, melalui permenunganya, bersama memori, gagasan, mimpi dan refleksi pengalaman hidup yang telah dan tengah dijalaninya.

Delapan belas karya Katirin bisa dilihat pula sebagai metafora karakter kehidupan kontemporer yang mewujud menjadi abstraksi dan figurasi yang hadir terikat oleh cahaya, warna, bentuk, dan pola. Begitu pula fragmen fisik, tubuh, dan kenangan visual hadir dalam karya – karya Katirin. Bentuk, garis tampil membangun ruang kedalaman seturut lokus dan modalitasnya. Tantangan utama pada karya – karya Katirin adalah karakter visualnya yang kuat namun tidak informatif. Meski merupakan narasi personal, Katirin lebih memilih menyajikan ketenangan visual dan vernakuler, seluruhnya dieksekusi dengan sangat percaya diri dan membebaskan. Menjadikan seni rupa Katirin bukan lagi semata destinasi, namun merupakan representasi perjalanan tubuh dan jiwa di tengah pencarian locus utopia, melintasi wilayah peripheri, pusat kota dan urban, pantai, sungai, hutan dan gunung. Seni rupa Katirin berdiri dalam ujian waktu, menjadi penegasan kekuatan hidup yang kuat dan berani !!!

Apriadi Ujiarso

admin

sangkring@gmail.com
No Comments

Post a Comment