Sangkring Art | Pameran Perupa Muda #4
21567
single,single-post,postid-21567,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive
WhatsApp Image 2019-10-31 at 08.39.52

Pameran Perupa Muda #4

Perupa Muda #4 mengundang rekan-rekan sekalian dalam pameran seni rupa bertajuk:

PAP! (Post  A Picture)

Opening : Senin, 4 November, 19.00 WIB
Dibuka oleh : Heruwa (Shaggydog)
@heruwa
Writer : Ryani Silaban @ryanisilaban

4 November ’19 – 3 Desember ’19
Di Bale Banjar Sangkring
Nitiprayan RT 1 RW 20 no.88 Ngestiharjo Kasihan, Bantul, Yogyakarta. .
.
Supported by :
@perupamuda @sangkringart
@cushcushgallery
@syangartspace @cansgallery
#perupamuda4 #perupamuda2019 #PAP! #exhibition

WhatsApp Image 2019-10-31 at 08.39.52

 

WhatsApp Image 2019-10-31 at 08.39.52(1)

 

Perupa Muda #4 mengundang rekan-rekan sekalian dalam pameran seni rupa bertajuk:

PAP! (Post  A Picture)

Opening : Senin, 4 November, 19.00 WIB
Dibuka oleh : Heruwa (Shaggydog)
@heruwa
Writer : Ryani Silaban @ryanisilaban

4 November ’19 – 3 Desember ’19
Di Bale Banjar Sangkring
Nitiprayan RT 1 RW 20 no.88 Ngestiharjo Kasihan, Bantul, Yogyakarta. .
.
Supported by :
@perupamuda @sangkringart
@cushcushgallery
@syangartspace @cansgallery
#perupamuda4 #perupamuda2019 #PAP! #exhibition

 


PAP: Pameran ala Perupa-muda

Nukilan Pengantar oleh Ryani Silaban

Seniman-perupa muda kian hari kian dinamis dalam berkesenian. Terlebih dengan
adanya pengaruh teknologi dan informasi yang terus-menerus berkembang, menjadikan laju
publikasi dan terselenggarakannya pameran makin progresif. Ditandai dengan
bertambahnya event kesenian juga pameran dengan konsep baru yang berbeda satu sama
lain.
Sejalan dengan perkembangan seni rupa yang terus bergerak, maka sudah
sewajarnya jika Balai Banjar Sangkring memberi ruang serta kesempatan, khususnya bagi
perupa muda untuk mempublikasikan karya. Kegiatan yang diberi nama Pameran Perupa
Muda ini, berhasil menarik respon anak muda (18 – 30 tahun) untuk mengajukan karyanya.
Hal menggembirakan ini terlihat dari terjadinya peningkatan jumlah pendaftar tiap tahunnya.
Pada pelaksanaan pameran yang keempat ini jumlah pendaftar pameran ada sebanyak 350
orang, naik 20 persen dari tahun lalu dengan tajuk “Ring Road” yang berjumlah 280.
Sementara pada tahun 2016, pendaftar yang mengirimkan aplikasi hanya sekitar 100
pendaftar. Sehingga tak menutup kemungkinan, di tahun berikutnya event ini memiliki
potensi untuk terus berkembang dalam merangsang keterlibatan lebih banyak perupa muda.
Menanggapi intervensi tidak langsung dari arus teknologi dan informasi dalam dunia
seni, diambillah istilah “PAP” sebagai tajuk utama dalam pameran ini. Beberapa orang
masih banyak yang asing dengan istilah ini. Bahkan, meskipun terkenal di kalangan anak
muda, masih ada beberapa teman yang dengan polosnya mencari pengertian kata tersebut
dalam kamus Bahasa Inggris. Hingga menimbulkan kelucuan tersendiri karena muncul
pengertian dari kata pap yaitu bubur bayi. Padahal “PAP” yang dimaksud dalam tajuk ini
merupakan sebuah akronim dari Post a Picture , dengan pengertian mengeposkan foto atau
sebuah instruksi untuk mengirim atau mengupload gambar yang diinginkan oleh lawan
bicaranya. Istilah ini populer digunakan di media sosial. Meski demikian, belum diketahui
siapa yang terlebih dahulu mempopulerkan abreviasi tersebut. Namun, fenomena
pemendekan kata tersebut sangat menarik untuk ditelusuri, karena masih berhubungan
dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi yang merangsang gejala
pemendekan kata, terlebih dalam istilah Post a Picture . Jika ditilik dari perkembangannya,
kebiasaan mengunggah gambar sudah dilakukan sejak media sosial bermunculan, dengan
tujuan yang beragam. Mulai dari memberitahukan berbagai informasi bersifat umum, juga
individu dapat membagikan foto terkait kegiatan yang telah, sedang, dan akan dilakukan.
Jika dilakukan kilas balik dalam sejarahnya, pengunggahan gambar secara digital sudah
dilakukan sejak ditemukannya koneksi daring pertama kalinya (awal tahun 1970). Hingga
mulai dilakukan di Indonesia sejak awal tahun 2000an yang diawali dengan munculnya
jejaring sosial populer seperti Friendster (2002), MySpace (2003), Facebook dan Flickr
(2004), Twitter (2006), Instagram (2010), dan seterusnya. Hingga muncul situs lainnya yang
memberi fasilitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya.
Dalam dunia seni rupa, perkembangan tersebut membuat perupa yang mengikuti
zaman lebih diuntungkan. Saya pernah mengajak beberapa perupa berbincang mengenai
fenomena tersebut. Mulai dari yang sudah berkarya sebelum munculnya teknologi canggih,
hingga yang menikmati masa transisi. Mereka menyampaikan bahwa perupa muda saat ini
memiliki lebih banyak kesempatan dibanding generasi terdahulu. Dimana untuk
melaksanakan pameran dibutuhkan effort yang lebih, karena penyebaran informasi saat itu
kurang merata. Untuk mengirimkan data karya saja tak semudah saat ini, dimana kita bisa
melakukannya sambil duduk santai, minum kopi, menggerakkan ibu jari lalu tekan kirim.
Menurut generasi terdahulu, karya terlebih dahulu harus difoto, dicetak, kemudian dikirimkan
melalui pos, yang baru bisa sampai ke alamat tujuan beberapa hari bahkan minggu. Itupun
pada beberapa event karya belum tentu dinyatakan lolos kurasi oleh penyelenggara.
Meskipun hingga saat ini masih ada beberapa galeri yang menggunakan pos untuk
pengiriman berkas, tetapi pada praktiknya lebih banyak yang terbuka untuk pengiriman
berkas dalam bentuk digital. Selain persoalan tersebut, generasi muda lebih mudah
mendapatkan referensi terkini, juga dapat memanfaatkan jejaring media untuk publikasi
karya. Bahkan tak sedikit individu maupun kelompok yang berpameran di dunia maya.
Kemudahan tersebut pula yang menandakan representasi zaman bagi perupa saat
ini. Tidak adanya batasan dalam mengangkat ide pengkaryaan, secara sadar maupun tak
sadar memicu berkembangnya karya seni lintas media. Seperti dalam pameran yang diikuti
oleh 51 perupa muda berdomisili di Yogyakarta ini misalnya. Karya para perupa tersebut
terdiri dari lukisan, grafis, instalasi, patung, foto, keramik, kriya, yang diolah dengan
kemasan menarik. Dimana beberapa diantaranya menggugah rasa pada lebih dari satu
indera sekaligus dengan penggunaan alat, bahan, dan teknik yang diolah sedemikian rupa.
Berbagai macam gagasan yang mengalami pembaharuan dan perkembangan turut serta
menjadikan karya lebih akrab dengan publik. Sehingga, publik mendapatkan ruang untuk
menginterpretasi melalui berbagai macam perspektif.
Melalui Pameran Perupa Muda #4 ini, para perupa yang telah lolos kurasi secara
serempak diberi kesempatan untuk menampilkan karya dari proses pengolahan ide kepada
publik. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, maka sudah seyogianya
para perupa muda lebih antusias dalam penciptaan dan publikasi karyanya.