Sangkring Art | Pameran Tunggal Treeda “Strangers on My Pillow”
153
single,single-post,postid-153,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

Pameran Tunggal Treeda “Strangers on My Pillow”

Pameran tunggal : Treeda Mayrayanti
Pembukaan : Rabu, 10 Februari 2010, Jam 19.00 wib
Pameran dibuka oleh : Sun Ardi
Pameran berlangsung : 10 – 22 Februari 2010

Pameran Tunggal Threeda


MENGEJAR PELANGI
Vertikalitas yang

Runcing, Curam dan Tajam dari Treeda Maryati
Oleh Afrizal Malna

Setiap saya berkunjung ke rumah Treeda Maryati, ada

2 dunia yang selalu saya temukan, sudah pasti, dan dunia itu tidak pernah

berubah dalam garis besarnya. Bagian luar rumah itu dindingnya dipenuhi poster-poster pertunjukan mime Jemek Supardi, suaminya. Dan

bagian dalam rumah dindingnya dipenuhi

karya-karya Treeda, di antara beberapa sepeda, motor, dan sepeda listrik koleksi mereka. Matahari, hampir

pasti tidak pernah singgah di rumah ini. Rumah yang bagian depannya menuju ke jalan raya, terhalang oleh deretan bangunan pertokoan yang menjual dari berbagai makanan, toko sepeda, studio foto, bengkel motor, foto copy, sampai ke toko-toko yang menjual peti mati. Kawasan yang kaya visualitas dengan berbagai bentuk dan jenisnya

.
Pemisahan ruang visual dalam rumah mereka, antara poster-poster mime

Jemek dan lukisan-lukisan Treeda, tampaknya bukan karena sebab pembagian ruang semata, yang mungkin mereka membuatnya jadi begitu adanya. Tetapi rupanya juga melibatkan pembagian ruang kehidupan mereka masing-masing: yang satu bergerak ke dunia publik, dan satunya lagi, Tre

eda sendiri, hidup dalam dunia domistiknya sebagai ibu rumah tangga. Dalam ruang domistik inilah Treeda membangun dan menggali ruang hidupnya yang hampir selalu vertikal sifatnya, ke atas maupun ke dalam. Ruang domis

tik yang kadang terasa runcing, curam dan tajam.
Beberapa benda dalam studio kerjanya yang kecil, memperlihatkan vertikalitas itu: kaca cermin vertikal yang pecah — menyisakan ketajaman dan keruncingannya — masih tergantung di antara patung Bunda Maria yang tetap terjaga dalam keanggunannya; player untuk pita kaset dan blur cahaya matahari yang masuk lewat genteng kaca dari sudut studio. Tembakau dalam kaleng biskuit untuk Treeda melinting. Lintingan yang hampir selalu dilakukan Treeda dengan cepat dan tepat, lalu menghisapnya. Udara yang masuk seperti selalu terasa basah. Atau tidak ada udara, hanya basah. Rasa hidup yang tipis, tetapi dalam dan intens.

Strategi visual: setiap orang adalah cerita
Treeda datang dari keluarga pelukis, ayah dan beberapa adiknya juga pelukis. Pendidikan yang dijalaninya di SMSK dan FSRD seni murni di ISI Yogyakarta, menurutnya memberikan pelajaran panjang untuk mengamati berbagai varian dan varietas berbagai karya senirupa. Ia merasa dekat dengan Affandi, dan lebih dekat lagi dengan karya-karya Sudjojono. Karya-karya Affandi menurutnya memberikan jiwa yang hidup, insting yang terjaga. Tetapi karya-karya Sudjojono menurutnya memiliki ruh. Treeda membedakan istilah “ruh” dan “roh” dengan cara: analogi “ruh” dengan “weruh” sebagai yang tahu, yang melihat, yang membaca. Sementara “roh” sebagai figur-figur super-natural atau “guru spiritual” yang hadir di luar dimensi-dimensi manusiawi kita namun membanjiri kita dengan kepenuhannya.
Kedua tokoh itu melahirkan semacam “realisme jiwa” dan “realisme ruh” yang tidak mimesis terhadap kenyataan, melainkan membaca kenyataan. Karena itu realisme keduanya bukan “realisme potret”, melainkan realisme hasil pembacaan. Ini merupakan wilayah pembacaan dari realisme Treeda yang digelutinya. Wilayah pembacaan yang merupakan medan kreatifitasnya, di samping keterbukaannya kepada dimensi lain: yaitu kehadiran roh. Roh bisa ada dimana-mana di sekitar kita. Kita hidup dikelilingi roh-roh. Kita tidak bisa menolak kehadiran mereka, karena kita adalah bagian dari dunia yang natur sekaligus yang super-natur.
Roh-lah yang membuat kita mengalir dan mengombak. Ide tidak pernah habis. Ide terus mengalir. Treeda memetakan perjalanan mengalirnya ini mirip seperti tingkat-tingkat pencapaian spiritual yang dijalani seorang seniman: dari tahap sungai, danau atau telaga, laut dan samudra. Seorang seniman yang sudah menemukan samudranya, menurutnya, tidak selalu harus berada dalam samudra itu. Ia bisa merindukan sungai dan kembali ke sungai, dan bermuara lagi ke laut, dan bertemu lagi dengan samudra lewat rasa sungai dan laut. Intinya: mengalir tidak akan terjadi kalau seorang seniman tidak melihat pentingnya hulu dan hilir. Mengalir tidak akan terjadi kalau tidak ada siklus horisontal dari sungai ke samudra, dan siklus vertikal lewat penguapan, awan dan hujan. Lihat salah satu karyanya: Mengamati sungai-sungai hingga lautan dan samudra.
Treeda cenderung melakukan rasionalisasi dari pembacaannya hanya untuk memiliki catatan dan membaca kembali catatan-catatan itu sebagai pemahaman dan pemetaan pengalaman. Kebutuhan terhadap cerita di sini menjadi penting. Cerita bagi Treeda mirip diperlakukan sebagai metoda untuk mendeskripsikan pembacaan-pembacaan yang dilakukannya.
Dunia cerita Treeda terbentuk sejak masa kanak-kanaknya yang gemar membaca majalah Tintin. Cerita baginya merupakan “pembacaan” dan “hasil-pembacaan”, yaitu menulis. Sebagai seorang perupa, ia menulis dengan cara melukis. Jadi hampir setiap karyanya merupakan “pembacaan” dan “hasil-pembacaan” dari keadaan maupun kenyataan yang dihadapinya.
Setiap karya ada ceritanya dan harus ada ceritanya. Kalau tidak ada, ia tidak mengerti karya itu untuk apa dan mau kemana arahnya. Keyakinan ini berakar pada pandangannya bahwa setiap orang adalah cerita, atau setiap orang membawa cerita. Ia melukis figur, karena figur itu membawa cerita. Karya-karyanya jadi dekat dengan “senirupa bertutur”.
Kita hidup dan berkarya, karena semuanya membuat dan memiliki cerita. Cerita yang membuat kita disadari, mendapat pencerahan, atau memberikan ruang kepada kita untuk menikmati keheranan. Setiap cerita tidak berdiri sendiri. Sebuah cerita dibayangi oleh layer-layer cerita yang lain. Setiap kata juga memiliki cerita. Guru menurutnya, adalah cerita dari “gugu” (manut) dan “tiru”. Koneksitasnya kadang tidak terlalu penting lagi, yang penting adalah cerita harus mengalir. Ia sudah membaca bencana sumur gas Lapindo misalnya, lewat video klip Michael Jackson yang bernyanyi di antara semburan-semburan asap dan kobaran api. Konteks dan referen tidak dihubungkan melalui teks, melainkan melalui imajinasi.

Mengalir dan mengejar pelangi
Cerita itu membuat alur. Memiliki logika dari gramatika antara kenyataan dan peristiwa. Kalau alur atau logika cerita ini tidak dihadapi, maka hidup tidak mengalir. Maka orang hidup hanya dalam bayangan “mengejar pelangi” yang selalu hilang setiap didekati. Mengejar pelangi adalah tidak mengalir. Adalah mimpi. Kita hanya memiliki dua cara menghadapi kenyataan: menghadapinya atau lari, katanya. Mengejar pelangi adalah tindakan yang indah, tetapi absurd. Dan realisme dalam persepsi dunia senirupa Treeda bukanlah realisme yang mengejar pelangi itu.
Sejumlah masalah muncul dari cerita yang tidak memiliki konsekuensi sebagai akibat yang harus diambil dari alurnya sendiri. Treeda, misalnya, melihat semua orang sudah membawa HP, banyak yang bekerja dengan komputer yang bisa mengakses apa pun, memiliki kendaraan atau akses transportasi lainnya, tetapi kenapa banyak orang tumplek di kota-kota besar, tumplek di Jawa. Untuknya ini tidak mengalir, ini macet.
Treeda kemudian berdoa untuk keselamatan banyak orang. Berdoa dengan seluruh agama yang diyakininya. Semua agama adalah agamanya.

Auto-sugestion
“Saya ingin menjadi seorang biksuni ketika masih remaja.” Tidak memiliki pamrih atas keberadaannya. Tetapi Treeda akhirnya menjadi seorang seniman. Ia sempat menjalani ngelakoni untuk menjadi seorang biksuni itu. Di sinilah ia berkenalan dengan istilah yang disebutnya sebagai auto-sugestion. Istilah yang menggabungkan beberapa hal antara auto, sugesti, dan ion. Istilah ini kiranya menjadi kunci sebagai “mata-diri” saat melukis. Mata dimana antara naluri, insting dan rasa berada dalam pusat yang sama saat melukis. Tubuhnya dan gestur tubuhnya harus tunduk pada auto-sugestion ini. Dalam istilah Treeda sendiri: tangan kanan untuk berbuat, bekerja; dan tangan kiri untuk bertahan. Kita tidak bisa menggunakan kedua tangan kita untuk bekerja saja atau bertahan saja. Keduanya harus berimbang. Tangan yang bertahan dan tangan yang berbuat keduanya sama pentingnya.
Auto-sugestion ini pula yang menyeimbangkan pertemuan antara jiwa, ruh dan roh sebagai sebuah jalinan saat melukis. Tanpa auto-sugestion, ketiga entitas ini pecah, bisa saling tarik-menarik satu sama lainnya sebagai kekuatan-kekuatan yang dislokasi.
Auto-sugestion ini hampir pasti bekerja lewat napas. Peran Napas sangat penting saat Treeda melukis. Napas adalah kepastian, hitungan, waktu. Napas adalah hidup, irama, kesadaran akan yang di luar dan yang di dalam. Napas adalah siklus yang membawa dari luar ke dalam dan dari dalam ke luar. Setiap momen untuk mengambil keputusan-keputusan visual yang akan ditempuhnya saat melukis, sama dengan sebuah hembusan napas besar. Napas yang dilakukan sebelum membuat garis, saat membuat garis, atau setelah membuat garis saat melukis, bagi Treeda penting untuk disadari.
Mengambil napas dalam konteks auto-sugestion itu lebih banyak dilakukannya ketika tahap melukis telah melampui dasar, yang disebutnya dengan bat-bet sana-sini, dan setelah itu menentukan posisi-posisi sampai finishing.

Konfigurasi tangan dan wajah
Ruang domestik Treeda dengan dimensi vertikalnya, visualitasnya tampak pada cara-cara Treeda memposisikan tangan dan wajah dalam karya-karyanya dengan konfigurasi tertentu. Tangan-doa dan wajah-doa berkali-kali muncul di beberapa lukisannya: tangan saling bertumpu atau diletakkan di dada, wajah menengadah ke atas atau ke bawah. Tangan dan wajah ini dibuat jernih, bahkan hampir polos, berbeda sebaliknya dengan latar yang padat dan ramai di sekitarnya.
Treeda, tampaknya, menolak mencampur adukkan sesuatu yang kodrati sifatnya. Perempuan adalah perempuan, lelaki adalah lelaki. Apa pun profesi yang dijalankan seorang perempuan, untuknya, dalam istilah Treeda sendiri, pekerjaan utamanya adalah seorang “ibu rumah tangga”. Hal ini sama seperti keteguhannya melihat cinta dan kesucian harus selalu berjalan bersama. Keluar dari keteguhan ini, baginya adalah liar. Treeda tidak menempatkan tindakan “liar” sebagai sesuatu yang negatif. Tetapi kalau keliaran dijadikan prosedur untuk menjadi avand garde, atau kemajuan jaman, ia lebih memilih tetap tinggal sebagai “manusia masa lalu” dengan seluruh romantika yang memenuhinya; dan menolak untuk ambil bagian sebagai “manusia jaman sekarang”.
Manifestasi yang mengharukan itu, tampak pada konfigurasi tangan dan wajah pada lukisan-lukisannya. Lihat saja pada karyanya: Di bawah pohon yang tinggi-tinggi, Akar sandaran persahabatan, Di luar mendung, Kalah oleh luka, Konslet cinta lokasi, atau Menepis ketakutan dan cemas. Hampir tidak ada karya Treeda yang memperlihatkan kemarahan. Emosi lebih banyak ditumpahkan menjadi vibrasi pada latarnya atau bentuk-bentuk non-persepsi.

Kesegaran setelah mandi dan “abstrak puitis”
Treeda bercerita setelah berdoa: “Setiap aku mandi. Aku bahagia. Tubuhku segar, mendapat anugrah air. Bagaimanakah melukiskan kebahagiaan setelah mandi?” tanyanya. “Lucu kalau aku melukiskannya dengan tetesan-tetesan air di tubuhku, rambut yang basah, atau handuk yang melilit tubuhku.”
Treeda menolak melakukan deskripsi visual untuk sesuatu yang dirasakannya lewat benda-benda yang telah mengakibatkan lahirnya rasa itu. Setiap mandi, ia berbahagia karena tubuhnya menjadi segar oleh guyuran air. Guyuran air di tubuhnyalah yang membuatnya segar dan bahagia. Tetapi ia bukan ingin melukiskan air di tubuhnya, karena yang ingin ia lukis justru adalah rasa bahagia itu sendiri.
Argumen-argumen visual seperti inilah yang kemudian membawa Treeda menghasilkan bentuk-bentuk non-persepsi yang disebutnya sebagai “abstrak puitis”. Umumnya bentuk-bentuk yang disebutnya abstrak puitis ini memenuhi latar objek, atau menjadi semacam aura dari objek. Lukisannya, Karunia kesegaran mandi, memperlihatkan hal itu. Lukisan ini menggambarkan sosok perempuan dalam dominasi biru. Bentuk-bentuk abstrak puitis digambarkan dengan bidang-bidang biru-putih dengan lelehan, dan bulatan-bulatan mirip gelembung, serta bidang-bidang berlorong.
Bentuk Abstrak puitis ini juga bisa dilihat dalam karyanya Mengamati sungai-sungai hingga laut dan samudra. Lukisan ini dipenuhi bidang-bidang tak beraturan dengan warna-warna muda yang cerah. Tetapi dalam karya ini, bentuk-bentuk abstrak-puitis itu tembus melampaui figur. Figur justru tidak mendapatkan detil, hanya sebatas tanda garis. Lihat juga karyanya: Menghela Napas. Warna kuning pada figur, melebar hingga ke latar, dan kemudian pecahan atau tebaran bidang-bidang dalam gradasi hijau muda hingga ke hijau gelap. Tekstur kian kasar pada bidang-bidang yang mendekati batas kanvas. Dimensi tidak diturunkan lewat detil, melainkan lewat gradasi bentuk dan warna.
Dalam karyanya Akar sandaran persahabatan, bentuk-bentuk akar dan bunga berlangsung sebagai kontinyuitas dalam proporsinya masing-masing dari latar hingga ke sosok dua perempuan yang bersandingan. Bentuk-bentuk yang kian mendekati pola batik ketika sampai pada tubuh ke dua sosok perempuan ini. Hal ini terjadi sebaliknya dengan lukisan: Tenang nak, penarimu sehat dan liar. Perempuan dalam lukisan ini tampak sebagai tubuh muda yang seksi, penuh gejolak yang digambarkan lewat bentuk gelembung-gelembung dengan warna muda. Gelembung-gelembung yang berfungsi sebagai pakaian ketat, fashion, tetapi juga gejolak dari dalam. Sementara latar lukisan dibuat lewat bidang-bidang tajam dengan warna-warna keras, dan bentuk-bentuk yang menyerupai kehidupan kosmopolit.
Bentuk-bentuk abstrak-puitis itu tidak semata-mata berfungsi sebagai stylisasi yang dilakukan Treeda pada lukisan-lukisannya. Lihat lukisannya: Kalah oleh luka. Lukisan ini menggambarkan sosok perempuan yang luluh. Kepalanya gundul dengan warna merah, seperti imaji yang tersakiti dan meredamnya. Pada telinganya justru tersunting hiasan mirip telinga wayang orang yang terbuat dari kulit ditatah. Tangannya yang lemah, menutup dada. Buah dadanya besar, menyimpan kesuburan. Sementara latarnya, dibuat bidang yang keras dengan warna dan tekstur yang sama kerasnya. Kontras dengan sosok perempuan ini.
Hal yang sama juga kita temukan pada lukisannya: Kemaluan pria. Lukisan ini betul-betul dilukis dalam arti metafornya. Kemaluan bukanlah melukiskan penis, melainkan melukiskan tangan untuk menutupi sesuatu yang memalukan dari pria itu (yaitu penisnya). Bentuk-bentuk abstrak-puitis kembali saling menembus antara figur dengan latarnya seperti teknik dissolve dalam film untuk mencapai trandisi dari berbagai layer film.

Di antara batas dua ruang
Treeda memiliki alasan tersendiri, kapan bentuk-bentuk yang disebutnya sebagai abstrak-puitis itu harus hadir dan tidak. Sebagian karyanya dibuat detil dari objek sampai latarnya. Dalam karyanya: Di luar mendung, ia melukiskan seorang perempuan anggun dengan sandaran bantal berbunga. Patung anjing kecil di bufet belakang dengan mangkuk bunga-bunga. Sementara dari balik kaca jendela digambarkan bagian belakang punggung seorang lelaki yang sedang duduk, menghadapi serbuan kemuraman yang padat menyerupai tekanan. Treeda membuat kontras yang tajam antara dunia di dalam rumah dengan dunia di luar rumah sebagai dunia perempuan dan dunia lelaki. Semuanya dibuat detil tanpa melakukan stylisasi pada objek-objeknya.
Bahasa visual seorang seniman perupa, untuk Treeda, sering diuji pada bagaimana ia melukiskan ruang batas antara di luar dan di dalam batas itu. Ia mengambil metafora begini: “Kita tidak tahu kita ada di dalam atau di luar. Orang yang melihat dari luar, kita ada di dalam. Orang yang melihat dari dalam, kita ada di luar. Siapa yang menentukan di luar dan di dalam itu? Kalau saya sedang dirawat di rumah sakit jiwa, orang di luar rumah sakit itu menganggap saya sakit. Siapakah sebenarnya yang sakit: orang di dalam rumah sakit jiwa itu atau justru yang ada di luar rumah sakit Jiwa itu?”
Ruang seperti ini dilukiskan sebagai dua cahaya berbeda antara di belakang dan di depan dalam karyanya: Sinar apa itu guru. Cahaya di belakang menggunakan warna merah tembaga, hampir seperti merah karat. Dan di depan dengan cahaya kuning agak keemasan. Kedua cahaya yang berbeda itu dipisahkan dengan bukit karang hitam terjal keras. Manusia seperti menghadapi misterinya sendiri dan harus dihadapi juga oleh dirinya sendiri. Ruang ini juga terbuka untuk dibaca sebagai dunia perempuan yang selalu berada di antara dua dunia.

Aku tidak mau orang gila masuk sorga
Treeda Maryati beberapa kali harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa karena depresi maupun derita halusinasi yang dihadapinya. Penyakitnya ini baginya adalah sebuah pembelajaran tentang adanya ruang yang bocor, yang tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Halusinasi yang menghadirkan banyak mahluk yang menemaninya, dan membawanya ke ruang di luar dimensi-dimensi kemanusiaannya.
Treeda membuat rekaman yang menarik dari kondisi-kondisi ini yang dilakukannya justru lewat lukisan. Ada 3 lukisan yang dibuatnya tentang ini: 1, Kulukis sebelum dimasukkan RSJ Purinirmala, 1999. 2, Kulukis setelah dimasukkan RSJ Purinirmala, 1999. Dan 3, Kulukis sepulang dari RSJ Magelang, 1997. Lukisan pertama sosok perempuan dengan anatomi mirip wayang, dandanan tradisi, dan warna-wana hijau-biru massif. Intens, bulat. Berada dalam satu vibrasi. Mata dengan warna biru yang tajam. Lukisan kedua justru menggambarkan sosok gadis kecil yang lemah dengan tubuh biru muda, busana bunga-bunga merah mirip darah, dan latar masih dengan vibrasi warna biru-hijau yang massif. Dan lukisan ketiga, setelah pulang dari rumah sakit, justru digambarkan sebagai perempuan desa, muda, ceria dengan karangan bunga di tangannya. Perempuan itu tidak sendiri lagi, melainkan bersama-sama dengan realitas sosial di sekitarnya. Sementara kota digambarkan jauh di belakang, di antara seorang lelaki penyapu jalan. Lukisan ini menggunakan warna yang lebih beragam dibandingkan dengan 2 lukisan sebelumnya.
Bagi Treeda, orang gila itu tetap adalah “orang hidup”. Yang penting adalah “hidupnya” dan bukan “gilanya”. Karena itu ia tidak mau “orang gila masuk sorga”. Karena ia hidup, ia masih hidup, dan harus ada yang dilakukan dengan hidupnya. Ada sebuah lukisannya (Memang Pancen), Treeda melukiskan dirinya sedang berziarah ke makam dimana dirinya sendiri telah dikuburkan di makam itu. Di bagian belakang tampak daratan terbelah menjelujur ke belakang sampai ke proyeksi garis hitam. Pada belahan itu tampak beberapa pot bunga atau ember yang telah kosong. Baginya ia telah mati dua kali: pertama, ketika ia memutuskan menjadi seorang pelukis. Dan kedua, ketika menjadi ibu rumah tangga.
Saya menduga inilah inti “auto-sugestion” dari cara berpikir dan bekerjanya Treeda. Kematian dan kehidupan bukanlah saling meniadakan. Namun justru sebagai saling memberikan kesaksian. Yang satu tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah berlaku tanpa keduanya. Keputusan dan menjalani keputusan itu sama dengan kehidupan yang dikukuhkan lewat kematian.
Visualitas yang bercerita itu, yang merupakan gambaran umum dari karya-karya Treeda, pada satu sisi memang menjelaskan latar-belakang Treeda sebagai seorang perupa. Tetapi pada sisi lain, budaya tutur dari dunia Jawa yang dijalani Treeda tetap memainkan peran penyutradaraan dalam figur-figur yang dilukis Treeda. Budaya bertutur itu kadang dibuat ekstrim, sesuai dengan kondisi kejiwaan yang dialami Treeda sendiri, seperti tampak pada karyanya: Nama-nama hari. Sosok lelaki dalam lukisan ini dibuat dalam keadaan tertidur. Tetapi di sekitarnya, tampak mahluk-mahluk kecil yang saling melakukan komunikasi satu sama lainnya. Lukisan yang menyimpan pesan bahwa rahasia pun tidak bisa dibawa tidur.
Karya-karya Treeda, yang mungkin bisa disebut sebagai realisme dengan bayangannya itu, kadang menjadi sangat simbolik pada karyanya Di balik Tobong. Tobong yang menelanjangi gincu-gincu kehidupan perempuan. Lukisan ini sangat ekspresif tidak hanya pada mimik figur-figur perempuan, tetapi juga seluruh bidang lukisannya. Pesan simbolik ini juga muncul pada karyanya: Joget duel dengan iringan lagu sorga nunut neraka nunut. Atau lihatlah: Reformasi lahir-bathin Bhineka tunggal ika. Lukisan dimana reformasi justru dilihat dari dunia generasi muda yang masih polos dari dunia politik, namun dibanjiri oleh atribut-atribut politik.
Saya merasa telah belajar cukup banyak dari Treeda Maryati. Ia bekerja keras tidak hanya untuk melukis, tetapi juga untuk mengerti.***

Threda: Di Antara Kerapuhan dan Ketangguhan
(Catatan Pribadi untuk Threeda, juga bagi Jemek Supardi dan Sekar)
Oleh: Suwarno Wisetrotomo

Threeda Mayrayanti, lebih dari sekadar suami seorang seniman pamtomimer Jemek Supardi, dan ibu dari Putri Sekar Kinanthi, putri tunggalnya, seorang penari yang cantik, adalah seorang pelukis. Bahwa Threeda itu tampak rapuh, fisiknya juga batinnya, mungkin sudah menjadi rahasia umum, namun hal itu tidak menghilangkan eskistensinya sebagai pelukis. Pada beberapa waktu yang lalu, dalam berbagai kesempatan atau pertemuan, ia beberapa kali menampakkan kondisi yang limbung. Ia melontarkan komentar bernada kekecewaan, kejengkelan, amarah, atau sekadar nggerundel, di tempat terbuka, nyaris tanpa kontrol. Ia tahu tentang kesemuanya itu. Ia harus menenangkan diri (ditenangkan) dengan sejumlah obat. Ia paham akan hal itu. Jemek Supardi sang suami, juga Sekar putrinya itu, juga sangat paham dengan kondisi Threda. Justru karena itulah, karena kesalingmengertian yang tinggi inilah, maka keluarga ini menjadi kompak.
Jemek Supardi, suaminya, saya mengenalnya jauh lebih lama, sebelum ia menikahi Threeda. Dulu, sewaktu pertama kali mendengar ia menikahi Threeda, saya kira hanya kabar bohong canda gurau antar seniman. Ternyata benar adanya. Sepanjang hidupnya, Jemek aktif di dunia teater (saya, yang ketika itu tengah tumbuh, masih ingusan, dan sedang mencari jatidiri, sering bersama-sama dengan Jemek sewaktu aktif di komunitas Teater Dinasti, sekitar tahun 1980-an, saat masa-masa keemasan dunia teater di Yogyakarta). Kehidupan Jemek hingga kini, yang easy going, lucu, akrobatik, teatrikal, dan absurd, sudah menjadi pengetahuan publik (maksud saya, tak pada tempatnya kalau saya menceritakan perihal Jemek). Sejumlah kawan bahkan mengatakan, bahwa sehari-hari Jemek adalah “teater” itu sendiri. Dan saya sependapat dengan kesaksian itu.
Tentang Putri Sekar Kinanti, putrinya yang cantik itu, saya mengenal dengan baik, karena kebetulan usianya sepantaran dengan anakku yang pertama. Sekar kini tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Seni Pertunjukan (Program Studi Seni Tari), ISI Yogyakarta, dan tentu saja sudah piawai menari, bahkan sudah melawat ke berbagai negara. Saya tahu, Sekar sangat memahami, menghormati, dan mencintai Threeda, ibunya. Suatu ketika, ketika saya menguratori sebuah pameran di Taman Budaya Yogyakarta, pada 2005, bertajuk “Menimbang Dunia Perempuan”, saat seremoni pembukaan, Sekar menyajikan pertunjukan ballet, yang diakhir pertunjukan, mendatangi ibunya yang duduk di kursi tamu (Threeda sangat terkejut, karena tidak menduga Sekar menari, dan ada adegan semacam itu), kemudian di tarik ke atas panggung, lalu di peluk dengan erat, sangat lama ia memeluknya. Saya tahu, air mata Sekar bercucuran deras dalam dekapan ibunya (ide menghadirkan Sekar secara diam-diam dalam pembukaan itu datang dari sahabat saya/sahabat kita Hendro Suseno [almarhum], dan kemudian dikelola bersama-sama panitia). Saya, juga banyak penonton lainnya, tak kuasa menahan haru menyaksikan adegan itu. Saya juga tahu (tepatnya menduga dengan kuat), bahwa Sekar akan menjadi penari yang menari dengan “nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuh” – menyatukan niat, penuh semangat, bersungguh-sungguh, tidak berpaling – ketika menari, atau menghayati dirinya sebagai penari.
Baik. Kini kembali ke Threeda. Ia adalah anak ketiga dari delapanbelas bersaudara. Sewaktu menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR, kini SMK) Yogyakarta, penghargaan Pratita Adhi Karya untuk karya terbaik sketsa (1983) dan ilustrasi (1985) ia peroleh. Sejak 1983 itulah, Threeda mulai aktif mengikuti berbagai pameran, atas undangan dari banyak pihak penyelenggara. Tiga kali ia menyelenggarakan pameran tunggal, yakni tahun 1996, Pameran Tugas Akhir saat ia mengakhiri studinya di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, kemudian pameran “Potret Perempuan Biasa” di Bentara Budaya Yogyakarta (1998), dan Pameran “Kami Perempuan-perempuan Ini” di Koong Gallery, Jakarta (2000), dan kali ini untuk yang keempat, pada 2010, Pameran “Dikejar Gas-gasan” di Sangkring Arts Space Yogyakarta. Threeda, dalam segala kondisi dan cuaca, terus berada dalam jalan yang dipilih dan diyakininya; menjadi pelukis dan melukis.

Mari Berbagi