Sangkring Art | MACHINE NO. 6 by six A and six needles six @ Sangkring Art Project
523
single,single-post,postid-523,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

MACHINE NO. 6 by six A and six needles six @ Sangkring Art Project


Pembukaan : Rabu, 1 Juni 2011, Jam 19.00
Pameran berlangsung : 1 – 7 Juni 2011
Organizer : HONF (the house of natural fiber Indonesia)
Tempat : Sangkring Art Project

MESIN No # 6.

Sound: the invisible, pervasive energy source.

Suara mengelilingi kita secara keseluruhan, menghubungkan kita melalui komunikasi. Suara tersebut mengendap di sekitar kita selama kita masih ada. Hal tersebut membentuk sebuah dasar sound-scape untuk semua pengalaman sensorik kita. Kita berkomunikasi melaluinya, dan akhirnya menyadari bahwa nada dan tekanan suara memainkan peranan penting bagi penyampain kata dan makna.

Di pedesaan yang masih asri suara yang berasal dari kehidupan sehari-hari akan melintasi lembah lembah – elemen – elemen yang tampaknya acak dibangun secara rutin serta memberikan rasa keberadaan pada diri kita masing – masing. Pada sore hari ketika kabut menyelimuti secara perlahan sampai ke lembah itu, bagaikan sebuah perahu, menelan pemandangan; siluet gelap di batas pinggiran; turunnya cahaya melalui jendela dan bangunan sekitarnya hanya berubah menjadi serupa dengan potongan balok kayu  dan mengubah petualangan malam kami ke dalam sebuah perjalanan yang membuat gugup namun menakjubkan. Kita menjadi terlalu keras – sehingga terasa sebagai tindakan tidak terpuji. Kita bagaikan sebuah iring-iringan peziarah yang hilang ke dalam bayangan bunyi yang memekakan telinga : kelembaban kabut.

Machine no.#6 is an attempt to amplify the voice and energy of nature.

Di karya ini kami akan mencoba membuat sebuah konfigurasi sirkuit air yang berasal dari kehidupan sehari-hari, sesuatu yang tipis, benang halus yang menghubungkan rumah dengan rumah, tubuh dengan tubuh, tanah dengan tanah.

Air terdapat di mana-mana, di dalam tubuh kita, di pemandangan yang kita lihat, di dalam atmosfir kita – di lembabnya kabut tebal yang menyelimuti kami di desa. Gelombang dan struktur itu bergema di dalam tubuh kami. Ia menyesuaikan dan mengubah bentuk untuk lingkungan sekitarnya – seperti yang kami lakukan. Air adalah universal – melintasi budaya dan geografis. Kita dapat terhibur oleh bunyi itu, kita digantikan olehnya ketika mengkonsumsinya, di masa depan mungkin kita harus melakukan perang atas kepemilikannya – air sangat penting untuk keberadaan kita selanjutnya.

Namun – masih saja hal tersebut menghubungkan kita – makhluk-makhluk buta yang bersanding bersama- sama dengan cahaya lemah kita; suara suara yang mendesak dari dalam diri kita.

Suara kita mempunyai kemungkinan menghilangkan dan menenggelamkan bunyi dari hal lain yang memiliki irama lebih minim. Hanya di dalam keheningan dan di dalam sebuah kontemplasi kita berkemampuan untuk menerima bunyi; menjadikannya sebagai penerima bentuk energi yang begitu mudah untuk terabaikan.

Yogyakarta.

We land.

Kami berada di punggung sepeda motor melalui jalanan dengan lalu lintas yang padat . Semuanya terdapat disini – molekul-molekul ruang diantara obyek-obyek yang bergerak hampir semuanya terlihat sebagaimana kendaraan-kendaraan berlalu dengan intuisi-intuisi yang hampir tidak nampak. Proses dari bel-bel kendaraan yang menemani padatnya lalu lintas; bagaikan sinyal-sinyal sonar yang memberikan batasan bagi para pengendara yang bersangkutan.

Bersama kita berkumpul dan mendiskusikan berbagai kemungkinan konstruksi. Di antara pengembangan organisme kota ini tampaknya tepat untuk bekerja sama mengkonsolidasikan sebuah struktur. Jalan-jalan telah berevolusi untuk mengisi semua ruang yang tersedia. Kami merasa jenuh dengan situasi di kota. Kami memaksa diri kami untuk mengumpulkan ide ide dan memolesnya di antara kata-kata bagaikan mengasah batu yang berharga. Yang terjadi sangatlah mengejutkan semuanya terangkum dalam sebuah kesimpulan yang sempurna : sirkuit sederhana ; yang menunjukkan sebuah sistem kerja sederhana: Air, bekerja dan melawan gravitasi; dan semuanya berarti menyuarakan energi yang melekat pada sumber daya alam.

Kami akan membuat saluran pipa untuk jalannya aie, mengarahkannya ke segala penjuru ruang bagaikan aliran arteri; dan air akan membentukkan dirinya ke dalam aliran yang berkesinambungan. Bambu membentuk sebuah strata yang terisi cekungannya oleh bentukan tangan; sebuah bentuk yang mengadaptasi medan alami dari air yang jatuh. Dan ini terletak – di atas struktur rancangan besi, kemudian di tempelkan ke beberapa titik, sensor-sensor yang dapat mendeteksi bunyi energi yang berasal dari air yang diubah terlebih dahulu menjadi sebuah gelombang suara, kemudian menjadi sebuah bunyi orkestra yang abstrak. Tidak ada rekayasa efek bunyi-instalasi ini hanya mempresentasikan yang ada-esensi dari energi yang terkandung pada sirkuit air, memberikan suara untuk didengar.

The Long Table experiment

Banyak tangan untuk melakukan pekerjaan ringan? Terlalu banyak koki akan merusak kaldu?

Praktek kolaboratif adalah proses penyeimbangan yang menawarkan kesempatan untuk memohon, meminjam dan bertukar ketrampilan serta ide dengan seniman lain. Dalam hal ini – kesempatan untuk bertukar ide antar budaya yang berbeda adalah hal yang tak ternilai harganya.. Kami memiliki perbedaan pada latar belakang, media, pengalaman dan pengetahuan – sebuah bank informasi yang mengesankan untuk digambarkan secara kolektif.

Kami datang dengan kekayaan kami akan pengetahuan ini kemudian terjalin menjadi sebuah konsep yang jauh lebih baik; seperti bagaimana pipa-pipa di desa saling berhubungan, seperti juga lalu lintas yang mulus dan lancar, kami mengkombinasikan pikiran-pikiran bebas kami menjadi satu suara padu.

Kami melakukan segala sesuatunya sendiri – berjalan berpasangan maupun sendiri di antara masing-masing kelompok, kami melakukan penyelidikan tentang diri kami dalam hubungannya dengan air, dan ini berkaitan juga dengan keragaman unsure yang melekat pada air dengan mempelajari efek pada awan, resonansi morfik, teori warna, menggerakkan buih, serta komunikasi. Kesemuanya ini memainkan peranan di antara eksperimen serta menghasilkan sebuah meomentum untuk sekali lagi mengembangkannya melalui hasil yang kolektif.

Kami menggunakan papan sirkuit untuk melajutkan metafor mengenai proses kolaborasi dan tentang hidup itu sendiri. Masing-masing komponen memainkan peranan pentingnya sendiri sendiri – sirkuit tidak akan terbentuk tanpa kontribusi dari masing-masing aspek- secara mirip dapat dikatakan bahwa dinamisme proses bekerja secara kolaboratif terletak pada proses komunikasi yang terbuka dan transparan; sebuah transmisi dari ide-ide dan pengetahuan, serta yang paling dibutuhkan adalah sistem tanpa horarki diantara struktur kerja kolaborasi.

MACHINE No. #6 and The Long Table experiment is:

Sebuah kolaborasi performans dan instalasi antara seniman Tasmania Six_a (mish Meijers, Amanda Shone, Astrid Woods-Joyce and Trcky Walsh) and seniman kolektif asal Yogyakarta Six needle Six (Ipo Synthetic, Robert Kan, Fahla Fadhillah dan R.Bonar Diat). Para seniman ini diperkenalkan melalui HONF dan kemudian mereka menghabiskan waktu selama satu minggu penuh di sebuah dusun kecil, di ujung pegunungan menoreh, Kulon Progo, satu jam dari Yogyakarta. Di sana mereka secara bersama-sama mengembangkan dasar-dasar dari instalasi ini.

Proses kolaborasi diantara dua kelompok yang jauh berbeda tersebut bertujuan untuk menemukan sebuah format sederhana yang dapat mewakili ide dan visi ke 8 seniman di dalamnya. Berkolaborasi dengan seniman lokal memberikan pandangan dan wawasan baru kepada seniiman yang berkunjung tentang bagaimana kebudayaan di Indonesia sesungguhnya, hingga pada hal yang paling sederhana.Inspirasi mereka pada pameran ini  adalah pengetahuan lokal yang didapat selama tinggal di sebuah dusun kecil. Melalui pengalaman tinggal disana, kedua kelompok sepakat untuk menggunakan pengalaman sehari-hari tentang pergulatan mereka dengan masalah air sebagai pacuannya.

Diskusi dimulai dengan munculnya kemungkinan untuk menciptakan sebuah perangkat pengarah air dan kolaborasi berubah ketika menyaksikan kenyataan di dusun; di mana masyarakat dusun memperdayagunakan sumber material lokal (kebanyakan bambu) untuk membangun, menyaring dan melakukan distribusi air ke seluruh lembah. Pemilihan material bambu sangat ‘terjangkau’ ,mudah didapat bagi para seniman lokal sedangkan bagi para seniman dari Tazmania, bamboo adalah sesuatu yang baru dan menarik yang belum pernah mereka temukan sebelumnya. Bambu kemudian menjadi salah satu elemen kunci pada diskusi-diskusi selanjutnya karan sifatnya yang fleksible, bermanfaat, bersahaja serta elegan

Elemen performatif pada pameran kali ini akan ditampilkan di sebuah meja panjang dimana setiap seniman akan melakukan eksperimen menggunakan air yang diambil dari sirkuit. . Air yang ‘telah terenergi ini’ digunakan sebagai dasar untuk setiap aliran yang akan dinvestigasi oleh setiap seniman yang berpartisipasi. Disini, performans akan disampaikan dengan penuh permainan dan melalui proses imajinasi ilmiah melalui investigasi akan format energi yang nyata dan tidak nyata. Performans akan bertempat di dalam ruang galeri; footage akan diproyeksikan di dinding luar galeri sehingga para pengunjung di luar dapat menikmati. Masing-masing seniman akan melakukan eksperimennya di dalam ruang galeri yang tertutup, para pengunjung akan diajak memasuki ruang ketika performans mendekati akhir, para pengunjung akan ditinggalkan dalam keadaan tertentu sehingga mereka dapat merasakan telah tertinggal. Kehampaan ini akan diakhiri ketika para seniman muncul kembali.

Apa yang tertinggal dari performans ini adalah sebuah meja kosong dengan beberapa aksi yang baru saja dilakukan. Residu ini menyampaikan tidak hanya proses kerjasama yang natural di dalamnya namun keintiman dari gerakan kreatif yang tercipta; kreativitas dan penemuan kadang terjadi pada sebuah tempat yang terisolasi, ini hanya merupakan salah satu dari konsep-konsep yang dihasilkan dan hasilnya dapat dinikmati oleh publik lebih luas. Di sini, artefak, peralatan ilmiah, objek, teks, notasi skema dan lain sebagainya, disisakan di atas meja sehingga memungkinkan para penonton untuk bereksplorasi, ataupun berkontribusi.

MACHINE No. #6.

Sound: the invisible, pervasive energy source.

Sound surrounds us in entirety; it connects us through communication, it settles around us when we are still. It forms the basis and sound-scape to all of our sensorial experiences. We communicate through it; and eventually we realise that tone and emphasis belie the overemphasised importance of words and meanings.

In the village the sounds of daily life would travel across the valley – the seemingly random elements constructed a routine and a sense of place for each of us. In the afternoons when the fog rolled slowly up into the valley like ships, it internalised the landscape; dark silhouettes bordered the periphery; light bleeding through windows and surrounding buildings cut beams through the clouds and transformed our nightly escapades into nervous but jubilant journeys. We were too loud – a brazen cavalcade of pilgrims searching for a destination that was swallowed by the immensity of the deafening; dampening fog.

Still – it connected us – blind creatures banding together with our feeble light; our insistent voices.

Our voices have a tendency to drown out those other less obvious rhythms. It is only in the stillness and the contemplation that we are able to receive sound; to be the receptor for those patterns of energy that are so easy to overlook.

Machine no.#6 is an attempt to amplify the voice and energy of nature.

Here then we reconfigure the water circuit that formed the basis of daily life in the village; a thin, tenuous thread to connect household to household, body to body, land to land.

Water is everywhere; in our bodies, our landscape, our atmosphere – in the thick damp fog that enveloped us in the village. The waves and structure of it resonate within our bodily selves. It adapts and transforms to its environment – as we do.  Water is universal – it crosses cultures, geography. We are comforted by the sound of it, we are replenished by the consumption of it, in the future we might well fight wars over it – it is so important to our continuing existence.

Yogyakarta.

We land.

We are taken on the backs of motorcycles through streets of interweaving traffic. Everything gives here – the molecules of space between moving objects are almost visible as vehicles give way with seamless intuition. A procession of conversational car horns accompanies the traffic; like sonar’s signalling the boundary of the available passage.

Together we gather and discuss the possibilities of constructions. Amongst the organic development of this city it seems appropriate to be working together to consolidate the structure. These streets have evolved to fill all the available spaces. We are saturated by the city-scape. We push and pull the ideas and polish them between languages like precious stones.  What comes out surprises us all in its refinement: a simple circuit; performing a simple task: Water, working with and against gravity; and the means to amplify the energy inherent in this natural resource.

We will pipe its pathways, direct its current through the space like arterial flow; replenishing itself in a continuous stream. Bamboo hollowed by hand forms the encapsulating strata; a form to replicate the natural terrain of falling water. It rests – almost ad-hoc upon tenuous structures of iron, attached at points by pressure sensors that track and trace the sound of the water energy and convert it first into sound waves, and then into an orchestra of abstract sound. There are no effects – it is magnifying only what exists – the essence of the energy contained within the water-circuit, giving it a voice to be heard

The Long Table experiment.

Many hands make light work? Too many cooks spoil the broth?

Collaborative practice is a balancing act that offers opportunities to beg, borrow and exchange skills and ideas with other artists.  In this instance – the chance to exchange ideas between cultures is inestimable. We have very different backgrounds, media, experiences and knowledge – an impressive bank of information from which to collectively draw. We come together with our threads of this knowledge to weave the greater concept; like the interconnected water pipes in the village, like the seamless uninterrupted traffic we combine our independent thoughts into one cohesive voice.

We perform alone – pairs and singulars amongst the group to investigate our personal connections to water, and its inherent elemental diversity by studying the effects of clouds, morphic resonance, colour theories, wave generation, communication. These things all play a part within the experiment, and allow singular momentum to develop once again within the collective outcome.

We use the circuit board as an extended metaphor of collaboration and life itself. All component parts play their separate important functions – the circuit would cease to exist without the contribution of each aspect – similarly the collaborative dynamic relies on open and transparent communication; the transmission of ideas and knowledge, and the absolute necessity of a non-hierarchical equality-system within the collaborative structure.

MACHINE No. #6 and The Long Table experiment is:

A collaborative performance-installation between Tasmanian artists Six_a (Mish Meijers, Amanda Shone, Astrid Woods-Joyce and Tricky Walsh) and Yogyakarta artist collective Six needle Six (Ipo Synthetic, Robet Kan, Fahla Fadhillah Lotan and R. Bonar Diat). The artists were introduced through HONF and spent a week in a small Indonesian village an hour out of Yogyakarta together developing the basis for the installation.

The collaborative process between these two vastly different groups called for a simplistic form that could cohesively represent the ideas and vision of 8 artists. Collaborating with local artists provided the visiting artists with insight and knowledge into the workings of Indonesian culture right down to the most simplistic tasks, it was this local knowledge that influenced the outcome for this show. Through the shared experience at the village both groups agreed that the everyday dealings with water struck them as poignant.

Discussions started to emerge about the possibilities about creating a water driven device, and the collaboration turned to the solutions witnessed in the village; utilising locally sourced materials (mainly bamboo) in order to filter and distribute water throughout the valley. Sourcing bamboo was ‘affordable’ and easy to find for the local artists and was also a new and exciting material that the Tasmanian artists had yet to use. Bamboo became the key component in the discussions firstly for its flexibility and its utilitarian simplicity and elegance.

The performative element of the exhibition takes place on a long table where each artist will conduct an experiment using water taken from the circuit. This ‘energised’ water serves as the basis for each stream of investigation by the participating artists. Here, performance will convey playful and imaginative scientific processes of investigation through real and unreal forms of energy, and expose each artist’s relationship with the installation. The performance will take place inside the gallery space; the footage will be projected on the outside wall of the gallery for the audience outside. Each individual artist completes their experiment in the closed gallery space, the audience is led up the stairs as the last experiment comes to an end, the audience is left with the sense that its missed something. The liveness finished with the artist absent again.

All that remains from the performance is an empty table with the residue of the action that has just taken place. This residue conveys the not only the inclusive nature of collaboration, but the intimacy of the creative act itself; creativity and invention often occur in isolation, it is only once these concepts have been resolved that the outcome is made available for public scrutiny. Here, the remnants; scientific equipment, objects, text, schematic notations etc, are left on the table for the audience to explore, and possibly contribute to

About Artist

six A
Six_a  provides a supportive environment for artists to take risks and experiment within their practice, and to receive constructive technical and curatorial assistance in their attainment of conceptual resolution. Six_a  encourages its raw, fresh, process-driven vision by encouraging artists to engage with evolutionary development between the stages of initial conception through to installation and exhibition. Six_a  supports an inclusive art culture that incorporates a cross pollination of art, music, film, writing, sound and performance, and whenever possible, offers a platform for these different media to co-exist in dialogue, and without hierarchy.

six needles six
Seni membuat boneka dan toys tampaknya tidak ada habisnya untuk dieksplor.Kali ini oleh kelompok yang terdiri dari enam seniman akan menggelar karya dalam bentuk boneka dan toys. Kelompok tersebut adalah six needles six, yang terdiri dari ipo, sasta, dilla,arya, otong, dan Robert.
Visi six needles six
Six needles six akan bersama-sama mengeksplor dan memperkenalkan karya boneka dan toys secara visual konsep dan teknis, dengan berbagai material atau mix art media dan menggunakan alat Bantu menjahit berupa needles atau jarum.

Sebagai wadah komunikasi antara individu serta komunitas pecinta boneka dan toys.

Display karya MACHINE #6
[nggallery id=26]

Opening MACHINE #6
[nggallery id=27]

 





 

Mari Berbagi