Sangkring Art | Solo Exhibition Dewi Candraningrum “Dokumen Rahim” @ SAP
1095
single,single-post,postid-1095,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

Solo Exhibition Dewi Candraningrum “Dokumen Rahim” @ SAP

Solo Exhibition

Dewi Candraningrum

“Dokumen Rahim”

Opening : Friday, march 13th 2015  7.30 Pm

Opened by :

Saras Dewi

Curator by:

Kris Budiman
Exhibition will be held until : march 25th 2015

 

Dokumen Rahim

 1.

Gagasan-gagasan di dalam benak niscaya berseliweran tidak sistematis. Menuangkan gagasan ke dalam sebuah tulisan pada dasarnya adalah membuatnya menjadi sistematis, terstruktur. Begitulah dunia Dewi sehari-hari, baik sebagai seorang akademisi maupun pemimpin redaksi sebuah jurnal ternama, yakni menata kata-kata dengan tertib. “Kata-kata membutuhkan engkau untuk disiplin dalam ritme terstruktur,” ujarnya. Yang mungkin belum banyak diketahui khalayak adalah sisi lain dari dunia Dewi. Ia bagaikan sisi lain dari sebuah koin yang sama, namun memiliki karakteristik yang berkebalikan. Melukis adalah dunia lain seorang Dewi Candraningrum. Dia sangat terobsesi dengan kerja melukis, mengolah warna, semenjak beberapa tahun belakangan ini. Warna-warna, dalam pandangannya, merupakan ranah diksi yang jauh berbeda, yang tidak membutuhkan sistematisasi demi membangun tatanan. “Tetapi warna-warna? Mereka meminta engkau untuk tak waras seutuhnya,” demikian simpulnya.

2.

Ratusan gambar dan sketsa charcoal-nya, dengan garis-garis liris dan permainan bayang nan lirih, menyodorkan gugusan tanda-tanda monokromatik yang sebagian berupa tubuh-tubuh perempuan telanjang, di samping potret. Di dalamnya mungkin dapat kita tangkap makna-makna emosional tentang kesedihan, duka dan derita. Akan tetapi, seperti pernah dikatakan juga oleh Dewi, toh “[k]esedihan tidak niscaya monokromatik. Kesedihan juga memiliki warna.” Maka dari itu, tidak perlu heran jika melalui sebagian besar karya-karya lukisnya kita akan diterpa oleh karnival warna. Lukisan-lukisan yang memanfaatkan media akrilik dalam genre potret (portraiture), rangkaian closeup wajah-wajah itu, menghadirkan goresan-goresan liar dan bidang-bidang chaotic yang gila warna.

Di luar aspek yang menerpa mata ini, pilihan genre-nya sendiri telah berhasil membangkitkan kembali ingatan saya akan pernyataan yang pernah dikemukakan oleh Michael J. Shapiro dalam The Politics of Representation (1988: 126), bahwa potret adalah sebuah genre yang cenderung “tersedia” bagi mereka yang berstatus menengah-ke-atas. Oleh karena itu, adalah suatu pengalaman yang menarik ketika kita melihat potret seseorang yang tergolong “freak”, yakni mereka yang dianggap “menyimpang”, yang terpinggirkan dari tatanan sosial yang mapan. “As a result,” lanjut Shapiro, “the viewer, whose interpretive codes are challenged, is inclined to reflect upon status or place within the social order.” Di titik inilah kita dapat menempatkan sebagian dari lukisan potret Dewi yang menantang determinasi kode genre-nya. Sebab dia telah melukiskan sosok-sosok yang dengan cara dan kadarnya masing-masing tergolong sebagai devian, mulai dari Yesus sampai dengan Hannah Arendt; pun sosok-sosok marginal yang anonim, tanpa identitas, kecuali sebagai anak-anak perempuan korban pemerkosaan. Serial lukisan yang terakhir ini, bagi saya, merupakan salah sebuah penanda empati Dewi yang paling ketara.

3.

Apabila pameran ini dibubuhi tajuk Dokumen Rahim, hal ini pun kemudian menjadi sebuah pilihan yang masuk akal. Sebab Dewi telah mencoba untuk mencatat pengalaman-pengalaman personalnya, perjumpaan-perjumpaan intersubjektifnya dengan beragam duka-cerita manusia dan peristiwa. Dengan kesengajaan memilih istilah dokumen, Dewi seolah hendak merekam, pinjam sepenggal larik dari Goenawan Mohamad, “sesuatu yang kelak retak” dan dia ingin “membikinnya abadi” di atas permukaan kanvas dan kertas. Peristiwa dan beragam manusia itu pun dia ringkaskan ke dalam sepatah kata, yaknirahim. Kita tahu, baik di dalam percakapan sehari-hari maupun wacana religius tertentu, kata ini secara konvensional dipahami sebagai kualitas yang bahkan cenderung ilahiah (divine), yaitu penyayang, welas-asih, dan mengampuni. Kecuali itu, sebagai kata benda, rahim juga merujuk kepada organ reproduksi tertentu pada tubuh perempuan, yaitu kandungan (uterus). Dari ruang sakral yang dinamakan rahim inilah kelak dilahirkan anak-anak kasih-sayang. Dengan demikian, di sini rahim telah menjelma sebagai sebuah tanda metonimik bagi Yang Feminin (the Feminine), yang tentu saja perlu kita pahami tanpa implikasi pembatasan biologis (seksual) apapun.

Kris Budiman

 

Mari Berbagi