Sangkring Art | [Pameran] Anětěs
21934
single,single-post,postid-21934,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

[Pameran] Anětěs

ANĚTĚS

 

Tejaning garuda ike, manuk mahaçakti, anak bhagawān Kāçyapa ri sang Winatā ike.

 

 

Dua minggu saja setelah melansir lukisan pertamanya yang bertema Garuda, obsesi Putu Sutawijaya (PS) seolah mencapai klimaksnya ketika kami menengok proses penggalian Situs Petirtaan Sumberbeji, Jombang. Perjalanan ke timur ini terjadi secara mendadak. Sabtu tengah malam (22 September 2019), PS dan Bu Jenni menjemput saya dan – tanpa mampir ke mana-mana lagi – kami langsung menuju target. Memasuki Jombang selepas fajar, kami baru tiba di  Sumberbeji pada pukul 08.30. Tak ada yang kami lakukan di situ, kecuali semata menyaksikan keramaian “pasar tiban”, berkenalan dengan Pak Dukuh, Pak Said (Kepala BPCB Jatim), dan Mas Wicak yang memimpin ekskavasi. Selebihnya hanyalah penantian panjang, menanti dan menanti sampai dengan, tiba-tiba, sekitar jam 3 sore PS berteriak memanggil-manggil nama saya.

Rupanya arca Garuda yang didambakannya sudah tersibak dari kedalaman endapan lumpur. Sosok Garuda yang masih tampak segar dan bersih itu… sempurna! Tiada cacat di sekujur tubuhnya yang terbuat dari batu andesit tunggal. Sang Garuda berada dalam posenya yang khas seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk terbang. Di tangannya tergenggam sebuah cupu yang berisi tirta amrta. Entah bagaimana memaparkan perasaan kami ketika itu. Saya sendiri berdesir menyaksikannya! Kami menyentuh Sang Garuda, mencoba merasakan getarnya langsung, setelah terkubur selama beratus-ratus tahun. Penantian sejak pagi itu akhirnya memuncak dalam perjumpaan dengan Sang Garuda. Jelang magrib kami baru beranjak meninggalkan Jombang. Agaknya tak perlu diceritakan lagi bila di sepanjang perjalanan pulang ke Yogya, topik perbincangan kami melulu soal Garuda, baik yang ditemukan di Sumberbeji, Candi Kedaton, Candi Kidal, dll.

Setelah fase klimaktik itu, PS seperti “hamil tua” untuk kemudian menetaskan telur-telur gagasan kreatifnya lebih lanjut di seputar tema Garuda. Bukan hanya lukisan-lukisan dengan pola gestural yang khas Bali, seperti miber dan asana, tetapi juga patung-patung dan instalasi. Tidak semua karyanya dapat ditinjau dalam catatan singkat ini. Karya instalasinya lahir melalui sebuah refleksi sepulang dari Suberbeji. Saat itu ia mengajukan sebuah pertanyaan retoris kepada saya, “Bukankah logikanya, jika Garuda itu telah terkubur berabad-abad, ia tentu sudah menjadi tulang-belulang?” PS menjawabnya sendiri lewat instalasi kerangka-kerangka Garuda dalam formasi yang secara diagramatik mengacu kepada konsep Dewata Nawa Sanga. Sementara, mengenai serial lukisan Garuda yang bertubuh cungkring dengan sayap-sayap mungilnya, PS mencatat, “Apa pun hambatannya […], akan selalu terbang dengan sayapnya yang kecil.”

Setidak-tidaknya ada dua lukisan Garuda garapannya yang menunjukkan sensibilitas sosial dan politis. Pertama, lukisan adegan Garuda bertanding catur. Tiada lawan-tanding dalam adegan ini, sebab Sang Garuda tengah berjuang untuk melawan dirinya sendiri. Kedua, Sang Garuda memegang balon yang di permukaannya tergambar peta kepulauan Indonesia. Balon ini tentulah balon metaforik. PS hendak mengatakan bahwa Indonesia bukan “harga mati” sebagaimana sering diserukan melalui slogan-slogan. Ya, kita perlu menyadari bahwa identitas kebangsaan kita selalu dalam proses negosiasi, proses becoming yang dinamis, yang tidak akan pernah selesai atau mencapai level “harga mati” tadi. Konsepsi bangsa dan konstruksi sosial atas identitas kebangsaan adalah produk imajinasi bersama para founding fathers/mothers yang pada dasarnya rentan. Mudah meledak dan pecah seperti balon. (Fragile! Handle with care.) Maka dari itu, kita – anak-cucu yang menjadi ahli waris bangsa ini – perlu terus menjaga dan mempertahankannya.

Sebuah catatan pendek perlu saya tambahkan perihal Anětěs yang menjadi pilihan tajuk pameran tunggal PS kali ini. Sepatah kata yang dipinjam dari kisah Garudeya dalam Adiparwa ini berarti ‘menetas’ – sebuah tindakan aktif yang bertolak belakang dengan tinětěs yang pasif, ‘ditetas(kan)’. PS memilihnya bukan semata-mata untuk menandai hari kelahirannya, tentu saja, melainkan untuk menjadi sebuah penanda yang mampu menjangkau makna-makna metaforik lebih dalam dan luas. Selamat ulang tahun, Pak Tu! Semoga butir-butir makna ini akan menetas tiada habis di sepanjang ziarah kulturalmu.

 

BWCF, 22-23 November 2019.

Kris Budiman

 

 

ANĚTĚS

 

Tejaning garuda ike, manuk mahaçakti, anak bhagawān Kāçyapa ri sang Winatā ike.

(That is the light of Garuda, a supernatural bird, the son of Bagawan Kasyapa and Sang Winata.)

Just two weeks after his first painting on Garuda theme, Putu Sutawijaya’s obsession raised into its climax when we visited the excavation of Sumberbeji Site in Jombang, East Java. After this climactic phase, Putu looked like “bearing” a creative eggs of thought and immediately incubated it further around the same theme. This theme was captured not only by his paintings, with the special characteristic of Balinese gestural patterns, but also by his sculptures and installation. His installation work appeared from a reflection after he came back home from Sumberbeji. He responsed through an installation of Garuda skeletons in a formation that refers to diagramatic concept of Dewata Nawa Sanga. At the same time, related to his painting serials on Garuda with the lean body and small wings, Putu noted, “Whatever hard the obstacle is, he will always fly with his small wings.”

There are at least two paintings of Garuda that represent his social and political sensibility. First, it could be seen from the painting of Garuda in a chest competition scene. There is no opponent in this scene because Sang Garuda was fighting against himself. Second, Sang Garuda holds a big baloon depicted by Indonesian map. It is of course a metaphoric baloon. Putu wants to say that Indonesia is not a “fixed price” (“harga mati”) as often shouted through slogans. Yes, we have awared that our national identity is always already negotiated or in the process of dynamic becoming, which never be finished or reaching its level of “harga mati.” Our conception of nation and social construction of national identity is the product of our founding fathers/mothers’ imagination that basically frail. It is explosive and easily fragmented like a baloon. (Fragile! Handle with care.) Therefore, we –  the children who are the heirs of this nation –  have to keep and maintain it continuously.

A short additional note is about Anětěs, a tittle preferred by Putu and a term borrowed from the Garudeya story in Adiparwa which means ‘hatch’ or ‘crack open’. This meaning refers to an active act opposing to tinětěs which is pasive, ‘hatched’. Certainly, instead of signifying his birthday (27 November), Putu has chosed this term as a signifier that is able to find broader and deeper metaphoric meanings.

 

BWCF, 22-23 November 2019.

Kris Budiman

Serba – serbi Garuḍa : Dari Sastra Parwa hingga Mantra

 

 

Oleh : Apriadi Ujiarso

 

 

Sebelum melihat, menelisik, menikmati dan mengapresiasi atau sebaliknya mengkaji pameran lukisan Putu Sutawijaya bertajuk anetes, yang menghimpun ragam eksplorasi visual perupa terhadap sosok Garuḍa sebagai fokus utamanya, ada baiknya kita memenuhi kembali pengetahuan kita terhadap sosok dan peran burung mitologis itu di dalam lini masa dinamika kebudayaan Indonesia, dahulu dan sekarang. Meski begitu perlu dipahami bahwa pengetahuan kita berkait sosok Garuḍa sangat mungkin banyak ragamnya.

 

Secara umum kita tahu bahwa sosok (burung) Garuda pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950 diresmikan sebagai lambang negara, dikenal sebagai Garuda Pancasila. Jika membuka lagi lembaran sejarah kita pun mafhum bahwa bentuk visual Garuda, sebagaimana usulan Sultan Hamid II yang memuat kesan antropomorfis, ditolak oleh beberapa politikus Masyumi. Perbaikan bentuk Garuda Pancasila agar tidak kuat kesan mitologinya terus dilakukan, hingga waktunya tiba ketika Soekarno memerintahkan Dullah, salah satu pelukis istana untuk melukiskan hasil perbaikan betuk tersebut. Sekali lagi bentuk jambul Garuda berubah ketika Republik Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan. Sebaliknya rancangan visual Garuda Pancasila antropomorfis (bertubuh manusia) adalah kunci pembuka bahwa sosok Garuḍa telah lama lekat di dalam pandangan masyarakat Nusantara.

 

Jauh pada masa perundagian sekitar 2000 tahun silam, sosok Garuḍa telah dikenal oleh masyarakat penggemar burung. Mereka terpesona pada aspek visual, bunyi dan tentu saja  gerak sosok Garuḍa. Masyarakat penggemar burung itu tidak sekadar terpesona, tetapi juga berupaya mengabadikannya, lewat gerak, bunyi dan juga aspek visualnya. Beberapa ahli Arkeologi menyebut ada kemungkinan gambar burung garuda dan atau bulunya menjadi bagian ragam hias pada nekara Pejeng dan atau menjadi disain di dalam temuan cetakan batu dari desa Manuaba. Terhadap dugaan ini kita hanya berharap bisa mengakses gambar – gambar detail Nekara Pejeng yang dibuat oleh W.O.J. Nieuwenkamp pada 1906, dan mungkin sketsa – sketsa dari Walter Spies berkait cetakan batu dari Manuaba. Walter Spies dan  K. Ch. Crueq adalah “penemu” artefak berupa cetakan batu Manuaba dan keduanya mengklaim bahwa cetakan batu itu berkaitan erat dengan Nekara Pejeng. (H. R. van Heekeren H. R.,  1958 : 21 – 22).

 

Memasuki masa klasik sosok Garuda semakin menjadi bagian penting dalam pandangan masyarakat Nusantara. di Bali Jejaknya masih bisa kita lihat hingga kini, misalnya perwujudan patung Garuḍa, dengan media batu padas, andesit atau batu karang, telah menjadi bagian penting dari arsitektur Bali klasik, menjadi sendi alas tiang jajar pada struktur umah Bali. Secara visual pula sosok Garuḍa juga ditempatkan di belakang bangunan suci Padmasana, gedong bata, pada “tugeh” (tiang penyangga atap puncak) pada Bale Dangin, juga pada Bade (menara pengusung jenasah dalam upacara Ngaben). Penempatan sosok Garuḍa dalam bentuk patung sebagai bagian arsitektur Bali Klasik agaknya merefleksikan simbol – simbol yang dilekatkan pada sosok burung mitologis ini.

 

Di Jawa pada masa Kuno, sosok Garuḍa diwujudkan ke dalam bentuk pahatan relief dan patung (arca), seturut situasi dan statusnya. Pada relief Candi Śiwa di kompleks Candi Prambanan, kita bisa melihat status Garuda sebagai wahana dewa Wiṣṇu. Ekspresi minimalis Garuḍa sebagai wahana Wiṣṇu agaknya berasal dari reruntuhan candi Banon, yang kini menjadi koleksi Museum Nasional. Dimana wujud arca Wiṣṇu berdiri utuh dari ujung kaki hingga mahkotanya, sedang wujud Garuda terasa simbolik, yaitu sepasang sayap garuda, bahkan tidak sedang dalam posisi mengembang. Sementara representasi Garuḍa sebagai wahana Wiṣṇu paling epik berasal dari petirtaan Belahan, Mojokerto, Jawa Timur. Bentuk arca dan komposisinya lazim disebut sebagai Wiṣṇu Garuḍanarayanamurti atau Wiṣṇu Garuḍãsana. Agaknya bentuk Wiṣṇu Garuḍanarayanamurti ini terus menerus direproduksi dan secara visual mengalami stilisasi baik sebagai seni atau sekadar sebagai kerajinan di Bali hingga sekarang ini. Tentu saja pada masa klasik itu, muncul pula sosok Garuda yang otonom atau berdiri sendiri. Baik dalam bentuk relief, seperti termaktub di candi Kidal, candi Kedaton, dan candi Sukuh. Bahkan sosok Garuda dalam bentuk arca yang otonom tercatat lebih banyak, di antaranya berasal dari candi Banon, Kab. Magelang, atau berada di kompleks Candi Sukuh, juga beberapa arca Garuḍa dari berbagai tempat di Jawa yang telah lama menjadi koleksi Museum Nasional.

 

Relief dan arca Garuḍa dari masa Kuno yang selamat sampai kepada kita, pada umumnya memberi gambaran kisah tentang sosok Garuḍa yang di antaranya bersumber dari kisah Ādiparwa, kitab pertama dari wiracarita Mahābhārata Jawa Kuno. Di dalam kisah parwa ini: Garuḍa adalah anak kedua dari Kāśyapa dan Winata. Garuḍa adalah anak pembebas perbudakan yang dialami sang ibu. Winata, ibu Garuḍa kalah bertaruh berkait warna kuda Uccaihcrawa dengan sang Kadru, ibu para naga. Para kritikus sastra menggaris bawahi bahwa Garuḍa jelas memperlihatkan aspek loyalitas, percaya diri, dan pemberani. Terpenuhinya janji Garuḍa menjadi wahana Wiṣṇu, Sang Pemelihara itu, setelah bebasnya sang ibu dari perbudakan, memperlihatkan aspek kesetiaan, keyakinan, dan ketangguhan.

 

Itu sebabnya pada periode Jawa Kuno, sosok Garuḍa bukan lagi sekedar cerita, atau semata bahan kreativitas pematung. Sebaliknya nama Garuḍa wajib ditulis, hukumnya. Tentu dengan tujuan – tujuan yang baik lagi mulia, juga harapan agar kekuatan Garuḍa selalu hadir menaungi berbagai peristiwa atau keputusan politik. Pada rentang masa pemerintahan di Jawa Kuno, mulai dari Mataram Kuno hingga era Kerajaan Kadiri, setidaknya terdapat sekitar sebelas prasasti yang menuliskan Garuḍa, dan frasa Garuḍamukha. Prasasti – prasasti itu lazim ditulis di atas batu, dan biasanya dalam ukuran besar. Ada dua prasasti yang menarik seturut ketuaannya dan nasibnya. Pertama Prasasti Sugih Manek 837 Saka atau (koleksi Museum Nasional no. Inv. D.87; Selasar Selatan), berbentuk batu berukuran tinggi 94 cm, lebar 72 cm, dan tebal 18 cm. Prasasti yang ditemukan lagi di wilayah Singosari ini, diduga menjadi prasasti tertua memuat kata Garuḍa di dalamnya, sejauh yang sampai kepada kita. Prasasti Sugih Manek terdiri dari 30 baris kata di bagian depan dan 31 baris kata di bagian belakang. Pada bagian depan disebut pula nama raja Mataram Kuno, Śri Dakṣottama bahubajrapratipakṣakṣaya. Sedangkan penyebutan Garuḍa terdapat di bagian belakang pada baris ke 26. Sementara Prasasti Sangguran 846 Saka merupakan prasasti yang sempat dibawa mengarungi lautan luas. Stamford Raffles agaknya tak gentar melihat prasasti setinggi 2 meter dengan bobot 3,8 ton. Entah apa yang merasuki Raffles sehingga ia tak gentar menatap batu berukuran 2 meter dengan bobot 3,8 ton, dan memuatnya ke kapalnya berangkat ke Britania Raya. Selanjutnya Raffles menyerahkan prasasti Sangguran ini kepada Lord Minto sebagai hadiah. Maka selama sekitar tiga abad lebih prasasti Sangguran disimpan di kastil Lord Minto di Skotlandia dan lebih dikenal sebagai prasasti Minto. Hal yang menarik lagi dari prasasti ini adalah penyebutan nama dua tokoh besar di dalam prasasti ini, yaitu Śrī Mahārāja Rakai Phangkaja dyah Wawa Śrī Wijayaloka Nāmostungga, dan  mapatiḥ I hino Śrī Iśānawikrama yang tidak lain adalah pu Siṇḍok. Adapun penulisan Garuḍa terdapat pada bagian belakang baris ke. 24.

 

Tercatat pu Siṇḍok ketika telah menyandang gelar Śrī Mahārāja rake hino pu Siṇḍok Śrī Iśānawikrama dharmmotunggadewa juga mengeluarkan beberapa prasasti yang menyebut Garuḍa di dalamnya, seperti prasasti Sarangan, 851 Saka / 929 M. (koleksi Museum Nasional no. Inv. D.14, Selasar Selatan). Prasasti ini kepada Wanua I Sarangan. Adapun Garuḍa di sebut singkat pada sisi kiri bagian atas, baris ke – 6: ra garuda gandharwa catwari; Selanjutnya 11 lembar prasasti perunggu dari Jenggala, yang begitu ditemukan lagi, lantas menjadi hadiah untuk pangeran Hendrik dari Belanda. Seturut waktu  prasasti ini absen dari pandangan publik. Hingga kini tiga lembar yang hilang, tak terlacak lagi. (Tijdschr. XXXII p. 111). Adapun penulisan Garuḍa terdapat pada lembaran ke – 6b. :

 

hyang ajñā haji, ndah ta kita kamung hyang brahma, wiṣṇu mahādewa, rawiśaśi, jalapawana, hutāśana gaṇā, jamanaka mṛtyugaṇa, bhutagaṇa, sandhyadwaya, ahorātri yama baruṇa kuwera bāsawa, piśāca pretāgaṇa garuda, gandharwa, widyādara, nandiśwara, mahākāla, nāgarāja, kita samangrakṣa kadatuan, kita masukirikang wuang kabeḥ

 

Empat prasasti lain yang diterbitkan pu Siṇḍok yang memuat kata Garuḍa adalah : Prasasti Kampak, 851 Saka / 929 M. (Koleksi Museum Nasional no. Inv. D. 21; Selasar Selatan). Desa Kampak, Trenggalek Jawa Timur adalah kubu pertahanan penting bagi pu Siṇḍok saat menghadapi serbuan dari Kerajaan Malayu. Prasasti Kampak berisi pembebasan pajak, penetapan sima dan penaikan status dari Kademangan menjadi Kadipaten. Selain memuat kata Garuḍa pada baris ketiga, terdapat juga tulisan i medang i bhūmi mataram, yang merupakan ciri khas prasasti terbitan pu Siṇḍok. Kedua adalah Prasasti Jeru – Jeru 852 Saka / 930 M (Koleksi Museum Nasional no. Inv. D. 70; Selasar Selatan), berisi penyerahan penetapan Sima desa Jeru – Jeru  dari pu Siṇḍok kepada Rākryan Hujung Pu Madhura. Selain memuat kata Garuḍa pada baris ke 27 bagian belakang, ditulis juga aneka macam hidangan yang disajikan pada upacara penetapan Sima termaksud. Ketiga Prasasti Anjuk Ladang atau prasasti Candi Lor, versi Brandes berangka tahun 857 Saka / 935 M (Koleksi Museum Nasional no. Inv. D. 59; Selasar Timur). Prasasti ini selain menjadi data penting sejarah kota Nganjuk, juga bertutur soal penetapan sima Samgat Añjuk-laḍang dari pu Siṇḍok kepada sang hyang Prasāda kabhaktyan i śrī Jayameṛta. Keempat adalah Prasasti Siman (Paradah) 865 Saka / 943 Masehi (In – situ, Desa Siman, Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri). Prasasti ini memuat perintah pu Siṇḍok yang diterima Rākryan Mapinghai i halu pu Saharsa, berkait penetapan sima untuk lokasi bangunan suci.

Terdapat pula tiga prasasti lain yang lebih muda waktu terbitnya. Pertama dikenal dengan Prasasti Patakan abad ke – 11, (Koleksi Museum Nasional no. Inv. D. 22; Selasar Timur). Prasasti ini terbit pada masa raja Airlangga, berisi penetapan sima desa Patakan, utamanya ditujukan kepada Sang Hyang Patahunan. Adapun tulisan Garuḍa terdapat pada baris ke – 28. Kedua, Prasasti Palah 1119 Saka / 1197 M (In Situ, Kompleks Candi Penataran). Prasasti ini diterbitkan oleh raja Śrī wikramāwatāranindita Śrnggalañcaṇa dari kerajaan Kadiri, menerangkan rasa gembira raja Kertajaya. Rasa gembira berkait tidak lenyapnya empat penjuru dunia dari marabahaya bencana alam, lantas diwujudkan lewat penetapan sima untuk kepentingan Sira Pāḍuka Bhaṭare Palaḥ. Adapun tulisan Garuḍa bisa dibaca pada baris ke – 5. Ketiga atau terakhir adalah prasasti dengan media lembaran perunggu tetapi tanpa keterangan yang cukup, meski begitu tulisan Garuḍa pada baris ke – 7, masih bisa dibaca :

“…garuḍa samangkana, samangkana kweh samangulaḥ  i dyaḥ kaki waharu ika ta māngis ni mamiṇ dapangki, …”

Selain Prasasti Patakan, Airlangga, saat berkuasa, juga menerbitkan beberapa prasasti lain. Setiap prasasti yang diterbitkannya selalu ada tulisan Garuḍamukha, yang lebih kurang berfungsi sebagai tanda kerajaan, diantaranya adalah Prasasti Cane, 943 Saka / 1021 M (Koleksi Museum Nasional no. Inv. D. 25; Selasar Timur). Prasasti ini menulis nama raja lengkap dengan gelar abhisekanya, Śrī Mahārāja Rakai halu śrī lokeśwara dharmmawangśa Airlanggānanta wikramottunggadewa. Prasasti Cane berisi penetapan sima, kepada penduduk desa Cane yang ikut berjuang bersama Airlangga. Adapun tulisan Garuḍamukha terdapat pada baris ke – 24 dan ke – 29 pada bagian depan, sementara tulisan Garuḍa terdapat di baris ke – 28, pada bagian belakang. Kemudian ada Prasasti Baru 956 Saka/ 1030 M (Koleksi Museum Nasional no. Inv. D. 16; Selasar Timur). Prasasti ini juga menulis nama raja Airlangga lengkap gelar abhisekanya. Berisi penetapan Sima untuk masyarakat desa Baru. Di dalam bait – bait prasasti terdapat keputusan politik (dekrit) dengan menyebutkan kemenangan raja Airlangga terhadap Pangeran Mahasin. Agaknya ada versi prasasti dalam lembaran perunggu, sebagaimana bisa kita simak sebait konten prasasti termaksud pada  :

 

.. rākryan hujung pu amṛta kumonakën ikanang karāmān ring baru makabehan padamlakna sang hyang ājña haji tāmra praśāsti tinaṇḍa garuḍamukha kmitananya sambandha …

Adalah jelas bila “tamra prasasti” merujuk kepada makna prasasti perunggu.

Terakhir adalah prasasti yang memuat frasa dan bertanda Garuḍamukha yang dikeluarkan oleh raja – raja yang berbeda. Pertama adalah prasasti Turun Hyang 1044 M, diterbitkan oleh raja Janggala. Mapanji Garasakan, memuat penetapan raja terhadap desa Turun Hyang yang setia membantu Janggala melawan Kediri. Kedua adalah Prasasti Talan 1068 Saka / 1136 M (In-situ, Desa Gurit, Wlingi). Prasasti ini juga disebut prasasti Munggut, di dalamnya tercantum frasa Jayabhayalāñcana. Isi prasasti ini adalah penetapan sima swantantra kepada desa Talan berkait jasa dan kerjasama dengan desa Hantang saat melawan musuh. Terakhir adalah prasasti Kambang Putih, berasal dari daerah Tuban (Koleksi Museum Nasional, no. Inv. D.23; Selasar Timur). Isi Prasasti berupa penetapan dari seorang pangeran yang memiliki tanda materai Garuḍamukha di desa Kambang Putih. Disebut pula beberapa hak istimewa yang diberikan di dalam konteks perdagangan maritim.

..  winingkis, samangkana kwaiḥ  nikang rāma i kambang putiḥ, umangkwakën sang hyang ājña haji praśāsti tinaṇḍa garuḍamukha, apagëha tan sigasi.

Di dalam sastra Jawa Kuno, sosok Garuḍa hadir di dalam kakawin Ramayana. Pada sebuah pertempuran besar Indrajit melepas sarppāstrapāśa, panah saktinya, yang ketika dilepas dari busurnya seketika berubah menjadi ular dan naga berukuran besar, tak terhitung jumlahnya (Wiṅśati Sarggah : 58). Akibatnya seluruh pasukan kera menjadi lemas karena dililit ular dan para naga. Bahkan Rama dan Laksamana tak bisa menghindar dari lilitan para naga. Semuanya menjadi tak berdaya. Dengan suka cita Indrajit melaporkan kemenangannya kepada Dasamuka, sāmpun alah musuh mati kapaśa tan pabiṣa ya / Rāghawa Lakṣmaṇātiśaya hīna tan paguṇa ya” (Wiṅśati Sarggah : 72). Ketika krisis memuncak, saat malam hendak berganti pagi, usai resitasi madah pujian kepada Hyang Wiṣṇu, Garuḍa muncul membebaskan Rama, Laksamana dan seluruh pasukan kera dari lilitan dan bisa para ular dan naga. Sang Garuḍa tidak hanya membebaskan, namun memberi semangat kepada pasukan kera dan kembali menumbuhkan rasa hormat dan percaya kepada pemimpinnya, sang Rama. (Ekawiṅśati Sarggah : 149 – 154).

 

Modus kehadiran Garuḍa dalam satu scene, pada situasi kritis juga terjadi pada Bhomantaka (kematian Bhoma). Pada puncak pertempuran Kṛṣṇa mewujud sebagai Wiṣṇu lengkap dengan wahananya, sang Garuḍa. Bhoma tak kalah garang, mewujud secara adikodrati. Sayang dalam duel itu kepala sang Bhoma berhasil kena hantaman tangan Wiṣṇu. Akibatnya mahkota Bhoma jatuh. Terbuka kesempatan bagi Garuḍa menyambar bunga wijayamala. Puncaknya Kṛṣṇa berhasil memenggal leher sang Bhoma. Sekali lagi Garuḍa menyambar tubuh Bhoma yang nyaris menyentuh bumi, dan melemparkannya ke samudra. Hal menarik dari Kakawin periode Jawa Timur yang paling panjang ini, ketika sampai di tangan para undagi/sangging Bali adalah representasi aspek visualnya yaitu mencukupkan dengan menempatkan ukiran karang Bhoma di ambang Kori Agung, pintu masuk sebuah Pura.  Pada periode penciptaan kakawin minor, sosok Garuḍa disebut dalam kakawin Arjunawijaya dan disinggung mirip Adiparwa dalam kakawin Astikayana. Sebaliknya di Jawa, di dalam Serat Damarwulan (abad ke – 18), Garuḍa dipanggil datang pada puncak duel antara Ajar Tunggulmanik lawan Ajar Pamengger. Sosok Garuḍa begitu hidup dan patuh seturut perintah yang memanggilnya. Di dalam duel itu Ajar Pamengger terdesak, lantas mengucap mantra pemanggil naga Taksaka :

 

… / ki ajar nyipta taksaka/ miyos saking pupuneki// gedhene kagila – ila / pan sabongkot ing tal / pethit ireki / ki ajar pamengger gupuh asru denya ngandika / lah mangsanen ajar tunggulmanik iku / …

 

Tanpa menunggu waktu, Ajar Tunggulmanik pun mengucap mantra pemanggil Garuḍa :

 

ki tunggulmanik kagupuh/ ngawe paksi garudha/ tanpa sasangkan garudha ika glis arawuh/ ki ajar alon/ ngandika/ paksi dra baliya maning// wus suringing karsanira sang garudha nulya dedel pratiwi/ awor lan mega wus mumbul/ wus pinasthi dening yang/ ila – ila ula kagawa den manuk/ gupuh sang paksi garudha/ ula sinamber wus keni// ki ajar pamengger mulat/ yen ta akon ginawa dening paksi bramatya nira kalangkung/

(Serat Damarwulan : lbr.385.f.193r.)

 

Tidak ada narasi detail dari lambaian tangan pemanggil Garuḍa tersebut! Mestinya ada sebentuk mantra yang diucapkan sehingga kekuatan yang dipanggil segera muncul dan menuruti perintah sang pemanggil. Sayang di dalam keseluruhan serat Damarwulan tidak ditemukan bunyi rapalan mantra itu. Ternyata, hal yang sama terjadi juga di Adiparwa. Kita hanya bisa membaca adanya aji pangilang wiṣa, tanpa tahu bagaimana bunyinya. Seperti bisa kita simak aji pangilang wiṣa itu tersusun atas kutukan Kadrū kepada para anak – anaknya, para naga yang waktu itu enggan membantu ibunya untuk memenangkan pertaruhan lawan Winata. Dewa Brahmā mendengar bunyi kutukan Kadrū itu, dan menjadi saksi atasnya. Segera Dewa Brahmā menggubah bunyi kutukan itu menjadi aji pangilang wiṣa, dan seketika itu pula memberikannya kepada Bagawan Kāśyapa :

 

Samangkanātah kāla bhagawān Kāśyapa an wineh adyā wiṣa de bhaṭāra Brahmā, aji pangilang wiṣa, makaphala sukā ning rāt kabeh de sang Kadrū. 

(Zoetmulder, Sekar Sumawur; hlm. 100; Siman Widyamanta, Adiparwa : hlm. 50)

 

Rupanya baik mantra pemanggil Garuḍa dan aji pangilang wiṣa, mesti dirunut pada kepustakaan di luar Adiparwa, Kakawin Ramayana, Bhomantaka, Kakawin Arjunawijaya, kakawin Astikayana dan Serat Damarwulan. Begitu juga pada prasasti – prasasti yang menulis kata Garuḍa dan Garuḍamukha. Untungnya di dalam kepustakaan saya masih tersimpan tulisan Juynboll yang membahas sekte Wisnuisme yang pernah hidup pada masa Jawa Kuno, dan jejaknya masih ada hingga kini. Saya sajikan secara utuh teks Garuḍeyamantra, agar bekal pengetahuan kita berkait sosok Garuda menjadi bertambah dan berpotensi lebih lengkap.

 

 

Garuḍeyamantra

 

Nihan tingkah sang hyang Garuḍeya.

Hiḍëp śarïra nira kuning warṇa ning suku nira,

makahingan ing tūr, putih warna ning pupu nira,

makahingan ing nābhi, mirah warna ning ḍaḍa nira,

makahingan ing gulū, hirëng warna ning muka,

makahingan ing śirah mwang patuk, trinayana, caturbhuja sira, bajràstra.

Mangka ta hiḍëpa nira.

 

Mahābhairawarūpañ ca suḍāngṣṭra raktalocanah,

mahānāso mahāgrïwo bāyuwegasamāśritaḥ.

Jnānaḥ kāñcanawarṇac śa nābhiś caiwācalākṛtiḥ,

kaṇthac caiwārkasannibhaḥ ūrdhwābhinña janākṛtiḥ.

Mahāpitam bhawed warṇaṃ  jānwantaṃ pādamūlakam,

mahāśwetaṃ bhawed warṇaṃ nābhyantam ūrūmūlakaṃ.

Mahāraktaṃ bhawed warṇaṃ hṛdmūlāntalukantakaṃ,

mahākṛṣṇaṃ bhawed warṇaṃ wadanādiśirāntakaṃ.

 

Tlas pwa kahiḍëpan ira, dëlö kang pinangan kinasangśayan.

Oṃ akṣipāya namaḥ, ma, wiṣāpaha.

Tëlas kahiḍëpa tāmṛta iking pinangan tëmahanya Nihan mantra:

Oṃ, aṃ. Khagarājāya namas swāhā. 

Tëlas pwa, andëlakën ing padma hṛdaya, wijākṣara nira.

Nihan kasimpënan ira sang hyang Garuḍeya.

Oṃ, hkṣaṃ, oṃ, niśwasa kuṭa nira.

Japa nira muwah, lwëh kunang mantra muwah:

 

Oṃ kuku ni kukuni wiṣahari, wiṣahariharan,

yāṃ, lāṃ, māṃ. bhāṃ, wiṣadaham swāhā.

Mantra pangilang sarwa lwëh wiṣa huwus kapangan.

Oṃ, yāṃ, bāyutatwa, hirëng. Om lāṃ, tejatatwa kuning.

Oṃ hkṣaṃ namaḥ oṃ hiṃ, namaḥ.

Dëlö wiṣa, ma, oṃ, iskara śabda bhaṭāri manghanàkën, iskara bhaṭāra manghëlakën.

Iti sang hyang Garuḍeya samāptam. Rahasya sira, kayatnākna de sang sādhaka.

 

 

 

 

 

Kepustakaan

 

Brandes, J.L.A.            (1913)     Oud – Javaansche Oorkonden.

Juynboll, H. H.            (‎1908)     Bijdrage Tot De Kennis Der Vereering Van Wiṣṇu Op Java

Santoso Soewito          (1980)     Ramayana Kakawin

van Heekeren, H.R.     (1958).     The Bronze-Iron Age of Indonesia. Leiden: KITLV Press.

Widyatmanta, Siman. (1958)      Kitab Adiparwa. Yogyakarta : UP “Spring”

Zoetmulder, P.J.          (1958)     Sekar Sumawur. Djakarta : Obor

Katalog Anětěs

Dokumentasi