Sangkring Art | [Pameran] Nol
21965
single,single-post,postid-21965,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive
pameran_nol_sangkring_2020

[Pameran] Nol

NOL : Pertemuan dan Permulaan

 

Nol, adalah sebuah pameran seni lukis yang digagas oleh tujuh orang perupa yang berdomisili di Yogyakarta. Ketujuh perupa ini adalah Arbi Rangkito, Ary Kris Susanto, Bagus Sadewa, M Syarif Hidayatullah, Nur Aziz, Ramadhyan Putri Pertiwi dan Sidik Ardiansyah. Dalam definisinya, nol adalah salah satu dari bilangan angka yang secara umum dapat dipahami sebagai salah satu nilai kuantitas. Pemaknaan yang dimaksud oleh ke-tujuh perupa ini dengan mangangkat tajuk “Nol” adalah untuk menggambarkan situasi dan kondisi sebelum menggagas pamerannya, dan tidak terlepas juga pengangkatan tajuk tersebut berkaitan dengan salah satu titik di pusat kota Jogja yaitu Nol kilometer, tempat dimana ketujuh perupa ini memulai pertemuannya. Pertemuan inilah yang akhirnya membentuk energi baru bagi mereka dan tanpa disadari saling memberikan support  dan spirit baru dalam berkarya sehingga menggiring pertemanan yang semula biasa saja menjadi lebih dekat melalui jalan berkesenian.

Dalam berkarya, ke-tujuh perupa ini tentu saja memiliki perbedaan baik dari segi teknik, corak maupun gagasan yang dituangkan pada karya. Arbi Putra, dalam berkarya banyak terisnpirasi dari kepolosan dan spontanitas coretan anak-anak. Karya-karyanya mengungkapkan perasaan yang berkelana dengan goresan yang ekspresif. Setiap goresan merupakan visualisasi dari perasaan yang berkelana dari satu emosi ke emosi yang lain. Bagus Sadewa, berkarya dengan menangkap emosi yang ada dalam sebuah lagu. Perasaan serta pengalaman estetik saat mendengarkan lagu atau musik seakan terkontemplasi menjadi pengalaman tersendiri baginya dan dituangkan ke dalam sebuah karya. Ramadhyan Putri berkarya dengan mengambil tema besar irama alam. Momen-momen estetis yang ditangkap melalui indera perasaan memberikan kesan tersendiri baginya dalam memahami kebesaran Sang Pencipta. Syarif Hidayat berbicara tentang kehidupan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang dalam karyanya. Eksplorasi emosionalnya tidak sebatas keindahan cinta itu sendiri, tetapi juga termasuk segala akibat dari cinta dan kasih sayang itu sendiri yang menjadi kecenderungannya dalam berkarya. Nur Aziz mengangkat kekakayan alam dalam berkarya. Kekayaan alam yang memberikan banyak manfaat bagi manusia. Ada sedikit yang berbeda dari teman perupa lainnya di kelompok ini, Aziz cenderung mencipta karya dengan eksplorasi media yang terinspirasi dari seni rajut yang memberikan kesan tersendiri pada karyanya. Ary Kris Susanto, menuangkan keresahan dalam karyanya. Baginya, kerusakan alam yang terjadi di kampung halamannya di Dompu, Nusa Tenggara Barat sangat mengkhawatirkan. Abstrak figuratif adalah cara Kris dalam mencurahkan keresahannya terhadap permasalahan alam yang terjadi. Sidik Ardiansyah, tidak jauh berbeda dengan Kris, Sidik mengangkat tema besar tentang kerusakan alam semesta dan kerusakan pada manusia. Eksploitasi besar-besaran yang terjadi secara tidak langsung menunjukan sifat manusia yang serakah. Kekecewaan akan hal itu yang mendorong Sidik dalam berkarya dengan mengabstraksi emosi dari kerusakan yang terjadi.

Sebuah pameran seni rupa tidak mungkin terbentuk begitu saja tanpa didasari sesuatu yang menjadi pemicunya. Secara umum pameran seni rupa bisa dibilang sebagai ajang apresiasi. Begitu pula dengan ketujuh perupa ini yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda serta berasal dari daerah yang berbeda pula dan pada akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah pameran kelompok perdana mereka. Tema “Kami” diangkat dalam pameran ini yang mana memiliki korelasi yang erat dengan tajuknya, yaitu sebagai perkenalan tentang siapa mereka dan faktor apa yang mempengaruhi mereka dalam berkarya. Tema ini diangkat bukan hanya sebagai acuan dalam membentuk keharmonisan kelompok semata, melainkan sebagai sebuah salam perkenalan kepada khalayak seni dan dunia apresiasi serta tentunya sebagai penyampaian dari pemikiran maupun pangalaman estetis berdasarkan latar belakang masing-masing ketujuh perupa yang diwadahi dalam tajuk “Nol” tersebut secara bebas.

 

 

 

Mari Berbagi