Sangkring Art | SURPRISE 11 “Avant-Garde” at Bale Banjar Sangkring
21473
post-template-default,single,single-post,postid-21473,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

SURPRISE 11 “Avant-Garde” at Bale Banjar Sangkring

index

SURPRISE 11
“Avant-Garde”

At Bale Banjar Sangkring
23-26 Oktober 2017
Have fun your experience

Day 1: 23 Oktober 2017 – start 18.30 WIB
OPENING CEREMONY
-Shadow batik
-Fashion show
-Musik etnis
-Keroncongan
-Sasenigaya
-Yessy yoanne
-Ardo tong

Day 2 : 24 Oktober 2017 – start 09.00 WIB at kampus isi Yogyakarta
SEMINAR :
-“how to survive” -“creative indie market steps”
Houze of piratez ( Oky Rey Montha )
Indieguerillas ( Santi ariestyowati )

Day 2 : 24 Oktober 2017
Start : 09.00-12.00 WIB
Gedung ajiyasa FSR ISI Yogyakarta – WORKSHOP
– Terrarium with Taman Kecil – eco Print with Novi Bamboo ( ecoprint Indonesia)
– Resin Bening With Cleanmix ( HTM 40 K )
Day 2 : 24 Oktober 2017
Start : 13.00-17.00 WIB
Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta

Day 3 : 25 Oktober 2017
At ISI Yogyakarta
– Bedah Karya
– Diskusi FKMKI
– Gala Dinner
– Perform Delegasi

Day 4 : 26 Oktober 2017
At Bale Banjar Sangkring
Music performance:
– City tour
– Closing
– Mamahima
– TCRS
– Kopi loewak
– Kavaleri
– Half Eleven pm

Closing Party by:
– DJ sanjonas

Share your experience with #11surprise ?

Panitia pameran Surprise 2017 memilih judul Vantguardindies sebagai provokasi untuk para peserta pameran dalam menciptakan karya kriya. Terma ini diambil dari kata avant garde dan indies. Avant garde dalam bahasa Perancis secara literal berarti garda depan.  Dalam seni, pengertian avant garde (vanguard) merujuk kepada orang atau karya yang eksperimental, inovatif, dan menunjukkan perlawanan terhadap batas-batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan.

Kata “Indies” diambil dari penyebutan nama Indonesia pada masa kolonial yang dalam konteks produksi kebudayaan mewantah pada apa yang disebut sebagai ‘kebudayaan indies’. Daerah kepulauan Indonesia dahulu disebut pula dengan nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelagol’Archipel Indien),  Hindia Timur (Oost IndieEast Indies, Indes Orientales), atau “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais). Secara politis dibawah jajajah Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda).

Terbentuknya negara Republik Indonesia tidak lepas dari fase kolonialisme Belanda pasca surutnya kekuasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Kolonialisme tidak saja merupakan praktik penjajahan politik dan ekonomi, tetapi juga melahirkan bentuk-bentuk akulturasi budaya antara timur-selatan (Nusantara) dengan Barat. Perkawinan budaya yang disebut kebudayaan indies itu turut memberi pengaruh terhadap lingkungan kesenian Indonesia yang kita kenal sekarang, termasuk dalam perkembangan seni, termasuk kriya.

Vanguardindies membuka secara luas bagi para kreator kriya dari berbagai perguruan tinggi peserta pameran Surprise, untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan mutakhir dalam kriya yang dapat menggambarkan semangat inovatif, eksperimental, dan melampaui batasan konvensi kriya pada umumnya. Penjelajahan kreatif itu tetap menekankan pentingnya identitas yang berelasi dengan kesadaran akan latar sejarah dan kebudayaan masing-masing peserta. Dengan kata lain kesadaran akan identitas itu dapat secara kreatif termanifestasikan dalam gagasan-gagasan dan praktik karya yang aktual dan kontekstual. Semangat kreatif ini tidak lantas meninggalkan sama sekali jejak warisan praktik kekriyaan di Nusantara, terkait dengan teknik, media, ataupun motif dan ragam hias. Hal-hal tersebut sebenarnya sudah menjadi bagian penting dalam proses berkriya sejak ribuan tahun yang lalu.

Vanguardindies juga mengisyaratkan keterbukaan yang lebih cair antara kriya dengan praktik kebudayaan masyarakat sehari-sehari, seperti ekspresi masyarakat dalam karnaval dan festival rakyat. Dalam sebuah festival, kriya menjadi bagian penting ekspresi masyarakatnya, seperti busana, perangkat upacara, dan sebagainya. Bentuk busana karnaval memiliki unsur-unsur yang tidak umum, bentuknya indah, megah, nonkonvensional, berunsur budaya dan seringkali tidak masuk akal. Busana karnaval bukan busana yang umum digunakan dalam keseharian masyarakat, sehingga apabila ada masyarakat yang menggunakan busana karnaval dalam kehidupan sehari-harinya, otomatis dia akan menjadi pusat perhatian dan kebingungan masyarakat. Walaupun begitu busana karnaval menjadi agenda wajib yang ditunggu-tunggu masyarakat tiap tahunnya. Mereka merindukan ketidak-wajaran yang disajikan dari pembuat busana karnaval tiap tahunnya, keinginan untuk terkejut oleh kreativitas pencipta busana karnaval dengan segala gagasannya tanpa meninggalkan unsur budaya. Hal ini juga serupa ogoh-ogoh di Bali, festival bola api Jepara, dan Reog Ponorogo. (Rain Rosidi)

Mari Berbagi