Sangkring Art | Belas(an) Kasih Sayang
22039
post-template-default,single,single-post,postid-22039,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

Belas(an) Kasih Sayang

Belas(an) Kasih Sayang_suka pari suka_pameran exhibition seniman 2021

 

 

Suka Parisuka dalam

“Belas(an) Kasih Sayang” (2021)

  1. Tema ini dipilih dalam kedekatan dengan beberapa konsep yang hadir dalam istilah khusus: “belas kasih”, “kasih sayang”, “belaian kasih sayang”. Masingmasing mempunyai rujukan yang berbeda satu sama lain. “Belas kasih” menunjuk pada keutamaan manusiawi antar sesama manusia. “Kasih sayang” menunjuk pada relasi dalam keluarga yang diikat dalam kedekatan suami – istri, orang tua – anak. “Belaian kasih sayang” menunjuk pada ekspresi fisik, badani sebagai ungkapan kasih sayang. Sepertinya urutannya berjenjang dari “Belas kasih” yang paling abstrak sampai “Belaian kasih sayang” yang sering menjadi kerinduan banyak orang untuk dialami….
  2. Dalam rangkaian pengertian itu, “Belas(an) Kasih Sayang” dapat ditempatkan untuk merujuk pada pengertian dan pengalaman yang saling berdekatan. Pelakunya, belasan perupa. Jadilah satu ungkapan gabungan menjadi  – belas(an) kasih sayang!
  3. Praktik ungkapan belas(an) kasih sayang yang dilakukan oleh para perupa yang tergabung dalam Suka Parisuka, bermula sekitar duabelas (12) tahun lalu. Dimulai dengan aksi melukis bersama dalam mengisi acara pergantian tahun 2008-2009. Perhelatan melukis bersama di Taman Budaya Yogyakarta yang diwarnai Pidato Kebudayaan Garin Nugroho, hasil akhirnya digelar dalam pameran “Seniku Tak Berhenti Lama” (2009). Sejak itu, menggelindinglah roda solidaritas Suka Parisuka.
  4. Mengapa diistilahkan roda solidaritas Suka Parisuka… Bagi para perupa, aktivitas melukis adalah aktivitas yang sangat privat, pribadi, personal, sarat dan penuh konsentrasi tinggi. Sehingga dilakukan di ruang pribadi yang bebas dari gangguan. Kesempatan pergantian tahun baru, hak khusus yang rutin sehari-hari itu ditabrak. Tiap perupa dipaksa membuka diri, melukis di tempat publik yang terbuka. Dipelototi berpasang-pasang mata. Dikomentari bermacam-macam ungkapan. Bahkan hasil goresan kuas yang sudah dibubuhkan di kanvas, ditimpa dan direspon perupa lain. Riuh rendah suasananya saat itu….. Eh, ternyata karya bersama di tempat publik tersebut kemudian dipamerkan. Sejumlah karya yang ada diminati dan dikoleksi oleh beberapa kolektor. Yang mencengangkan, dan tidak diperhitungkan sebelumnya, hasil penjualannya dijadikan modal untuk memberi santunan bagi para seniman. Santunan berupa sejumlah uang diberikan bagi yang berduka karena meninggalnya seorang anggota keluarga, atau kesusahan karena sakit dan membutuhkan perawatan dan pengobatan. Santunannya menjangkau para seniman, tidak terbatas pada perupa, tapi juga seniman lain seni panggung, sastrawan, pelawak, penyanyi. Bahkan alm Gandung yang berprofesi sebagai penarik becak, keluarganya juga memperoleh dana dari solidaritas Suka Parisuka.
  5. Waktu berjalan, sejarah terukir. Belasan kasih sayang para perupa Suka Parisuka telah menyapa tidak kurang dari 218 peristiwa kematian atau derita karena sakit yang dialami keluarga-keluarga seniman.
  6. Tahun lalu, dalam sudah suasana pandemi Covid 19, beberapa perupa senior yakni Bapak Djoko Pekik, Ibu Kartika Affandi, Mas Nasirun, dan Mas Hari Budiono, mendapat kesempatan kunjungan kekeluargaan ke kediaman Ibu Susi Pudjiastuti yang sudah tidak lagi menjabat Menteri Kelauatan dan Perikanan. Dalam suasana angin segar Pangandaran, mereka melukis bersama. Bahkan kemudian juga dihadirkan dalam programa Metro TV, “Susi Cek Ombak”.
  7. Tidak berhenti sampai di situ. Pundi-pundi dana abadi yang bunganya setiap kali digunakan untuk menyantuni solidaritas Suka Parisuka, mendapat kemurahan hati Ibu Susi Pudjiastuti dan jaringannya. Agaknya diketahui bahwa Solidaritas Suka Parisuka sering bersiasat. Bunga bank yang tidak banyak, terpaksa dicukup-cukupkan karena dana solidaritas kematian dan sakit tidak bisa ditunda. Setelah mendapat tambahan dana abadi, semoga tidak perlu lagi bersiasat menunggu bunga bank bulan berikutnya untuk menyantuni pihak yang membutuhkan.
  8. Itulah kisah roda solidaritas Suka Parisuka, yang tidak selalu lancar jaya. Alhamdulillah, 12 tahun sudah terlampaui.
  9. Setahun pandemi Covid 19, tidak menghentikan hasrat dan aksi belas(an) kasih sayang. Pusaran air pandemi Covid 19 yang membawa ke arus dalam kehidupan tidak menenggelamkan atau membunuh hasrat para perupa. Pasar seni boleh sepi. Kehidupan sosial diatur dengan penggunaan masker, kebiasaan mencuci tangan dan kontak perjumpaan yang menjaga jarak. Hidup sehari-hari yang mengencangkan ikat pinggang, dan penuh siasat agar asap dapur tetap bisa mengebul masih dilakoni setiap hari. Pagelaran Suka Parisuka dalam “Belas(an) Kasih Sayang” tetap akan diluncurkan.
  10. Kalau seniman hanya berpikir romantis, ya hanya berhenti pada bayangbayang, tidak pernah mewujud dalam hal konkrit. Tapi karena digerakkan oleh romantisme berpikir, justru inilah yang mendorong akan mewujudkan “Belas(an) Kasih Sayang”

 

 

  1. Seperti juga ada sekelompok orang yang mendendangkan Maskumambang untuk tolak pageblug, tembang yang mengekspresikan suasana hati dalam derita, tapi sekaligus juga menyiratkan pengharapan.

 

Udaning katresnan                 – hujan rahmat cinta

Kang diimpi-impi                   – yang dirindukan

Gya aparing daya                   – serentak memberi kekuatan gesang enggal mring pra jalmi – hidup baru bagi manusia

Siti suci hawa mulya”            – tanah suci, udara mulia.

  1. Semoga!

 

 

E-Catalogue

Mari Berbagi