[Exhibition] YAA 11, D1RECT1ON – Group Exhibition
Ingatan Tubuh, Jejak Penciptaan (Embodied Knowledge: The Traces of Artistic Practice) Oleh Nadiyah Tunnikmah Kemampuan teknis dalam penciptaan karya seni tidak tumbuh secara linear, berkembang melalui praktik yang berulang, dalam kompleksitas yang menuntut ketekunan. Kemampuan ini bukan diukur dari berapa banyak karya yang dihasilkan, berapa lama waktu yang dihabiskan, atau berapa tahun pengalaman yang tercatat, melainkan dari konsistensi yang perlahan mengubah penguasaan teknis melampaui hafalan prosedur dan menjadi pengalaman yang menubuh, tersimpan dalam otot dan refleks, bekerja bahkan sebelum pikiran sempat merumuskannya. Tangan yang berulang kali memegang pensil, kuas, pahat, atau cukilan mengembangkan kepekaan yang melampaui instruksi. Mata yang terlatih membaca ruang, komposisi, dan permukaan material tidak lagi membutuhkan panduan eksplisit untuk menilai sebuah keputusan visual. Pengetahuan semacam ini tidak tinggal di kepala melainkan tinggal di tubuh, tidak mudah hilang karena tidak pernah sepenuhnya disimpan dalam otak dan menghasilkan kepekaan artistik. Kepekaan artistik pertama kali dibentuk dalam proses belajar-di ruang kelas-ketika seseorang masih dalam proses membangun ketrampilan tekniknya. Kepekaan artistik dan pengalaman menubuh tersebut tidak berhenti bekerja ketika peran berubah menjadi pengajar. Ketika seseorang kemudian berdiri di sisi lain ruang kelas, pengalaman itu tidak ditinggalkan tetap dibawa, dan di sana bertemu dengan kondisi yang berbeda. Pengalaman menubuh tetap aktif saat mengamati mahasiswa yang sedang mencari, menyaksikan pergeseran paradigma dari generasi ke generasi, memfasilitasi proses yang dahulu pernah dijalani sendiri. Kali ini pengalaman itu diaktifkan bukan untuk pengulangan, melainkan perpanjangan dari kepekaan yang sama, dalam dimensi yang terus berkembang. Peran sebagai pengajar dalam lingkup pendidikan tinggi dihadirkan dalam tiga lapisan yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Tiga lapisan ini adalah kewajiban yang masingmasing menuntut perhatian penuh. Dalam perguruan tinggi seni masih ada lapisan lain, memang bukan kewajiban tapi tidak bisa diabaikan yaitu berkarya seni. Energi yang dibutuhkan untuk menciptakan karya seni adalah energi yang sama dimana setiap hari diklaim oleh berbagai tanggung jawab lain. Tidak ada ruang dan energi yang tersisa secara otomatis, harus direbut, dijaga, dan dipertahankan secara sadar di tengah tekanan yang tidak selalu mengakui praktik penciptaan sebagai kebutuhan mendasar. Ketika seorang pengajar berdiri di ruang pameran sebagai seniman, ia tidak bisa sepenuhnya menanggalkan pengalaman bertahun-tahun mendampingi proses orang lain. Cara ia membuat keputusan artistik, membaca karyanya sendiri, memposisikan diri di hadapan publik, semuanya telah diwarnai oleh pengalaman pedagogis yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Bukan berarti karya yang dihasilkan adalah karya seorang pengajar yang sedang mendemonstrasikan sesuatu tapi bukan pula karya seseorang yang berkarya dalam kevakuman, seolah pengalaman mengajar tidak pernah ada. Karya-karya dalam pameran ini adalah jejak dari sebuah kondisi yang terus berlangsung, pengalaman yang mengendap dalam tubuh, kepekaan yang diperbarui oleh setiap pertemuan pedagogis, dan praktik penciptaan yang harus terus menemukan caranya sendiri untuk hidup di tengah segala yang mengitarinya.

