Sangkring Art | TRYOUT by DJAGOER @ Sangkring Art Project
745
single,single-post,postid-745,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

TRYOUT by DJAGOER @ Sangkring Art Project

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pameran : TRYOUT
Oleh : I Wayan Danu, I Wayan Arnata,I Wayan Gede Santiyasa, Gus De Jagiran
Pembukaan : Rabu,9 November 2011 Jam 19.00 wib
Penulis : Hendra Himawan
Pameran berlangsung : 9 – 23 November 2011

 

TRY OUT, catatan perjalanan dan try to get out !
Oleh : Hendra Himawan

“(Pameran) ini sebagai upaya untuk mengapresiasi diri dari proses yang sudah kami lakukan selama ini. Dengan usia kelompok yang masih muda, yang selama ini hanya berpameran di Bali, maka kami dari Kelompok Djagoer ingin mencoba pameran keluar Bali.”

Demikian gagasan dan konsep awal yang diajukan oleh Kelompok Djagoer dalam pameran yang di gelar di Sangkring Art Project (SAP), 9-23 November 2011 ini. Kelompok Djagoer beranggotakan empat sekawan seniman. Mereka adalah I Wayan Danu, I Wayan Arnata, I Wayan Gede Santiyasa, dan Ida Bagus Putra Wiradnyana atau yang akrab di panggil Gus De Jagiran. Meski mereka menyebut kelompok ini baru, senyatanya para personelnya bukanlah orang-orang baru. Mereka adalah seniman-seniman yang telah banyak berbaku hantam dan berasam garam dengan hiruknya seni rupa.
Dalam wawancara singkat kami, I Wayan Arnata, mewakili Kelompok Djagoer mengkisahkan ;

“Keberadaan Kelompok Djagoer sebenarnya dapat dikatakan mulai pada tahun 2003, ditandai dengan pameran kami bertajuk “From the Inner Self” yang diselenggarakan di Art Center Denpasar Bali. Digawangi oleh Wayan Danu, Wayan Arnata, Wayan Gede Santiyasa. Seiring waktu, walaupun kami ‘tetap berkomunikasi’ di jalur kesenian masing-masing, barulah pemikiran tersebut mulai dikristalisasikan kembali, dengan menghasilkan pameran di Ten Fine Art Sanur, karena kami makin menyadari akan kebutuhan kami untuk berkesenian, antara satu dengan anggota yang lainnya.”

Sebagai sebuah kelompok, Djagoer ibarat alat kendara. Tempat mereka menampung spirit untuk terus me-laju-kan karya dan menjaga api keseniannya. Bersama, mereka menempuh perjalanan gagasan dan artistik, perjalanan ruh (soul) estetik dan fisik. Dengan satu wadah, mereka sama-sama terpacu. Agar tidak ada yang alpa, lalai atau tertinggal dari ‘khittah’ kesenimanan dan i’tikad kesenian yang mereka junjung. Hal ini mereka upayakan karena, “masing-masing sudah mempunyai kegiatan keseharian sendiri-sendiri, akan tetapi, “mereka masih menempatkan kehendak serta kegiatan berkesenian melebihi aktifitas lainnya”, demikian tutur I Wayan Arnata.

Mengandaikan pameran mereka kali ini sebagai sebuah perjalanan, maka tema lawatan ke Yogyakarta ini, Kelompok Djagoer mengambil tema yang lugas, TRY OUT ! Sebuah takar uji, yang akan menjadi tolak ukur dari pencapaian diri dalam ranah estetik dan artistik. Secara gamblang, I Wayan Arnata bercerita,

“Latar belakang kami (Kelompok Djagoer) memakai judul TRY OUT adalah untuk menguji kemampuan kami sesungguhnya di dalam berkesenian, paling tidak untuk diri kami sendiri mulanya. Masih pantaskah kami berada di dunia kesenian yang hingar bingar, dan mencoba menawarkan “sesuatu olah visual” yang menurut kami ini pencapaian karya-karya paling akhir yang bisa kami tawarkan, sembari selalu melakukan studi berkesinambungan untuk karya-karya kami selanjutnya.”

Berirama dengan tajuk ‘perjalanan’ mereka saat ini -TRY OUT-, setiap seniman mempunyai catatan yang ingin dan hendak diungkapkan melalui karya-karya mereka. Melihat ke dalam karya, para punggawa Kelompok Djagoer lebih banyak merekam dan berkisah tentang lingkungan keseharian. Potret-potret natural dari adat budaya mereka yang kental.

Sebagaimana gagasan I Wayan Gede Santiyasa dalam karya-karya mixed media on board-nya. Ia berusaha menangkap perubahan “aura lingkungan” sekitar dan pergeseran citra serta nilai tradisi dalam lingkungan tersebut. Hal itu dijadikannya sebagai kasus pembelajaran dalam pengembangan keseniannya. Dengannya, lahir karya-karya Hard to Combine (2011) dan Terikat Romantisme II (2011). Di mana secara simbolis, ia hadirkan nuansa dan narasi klise dari ambiguitas tradisi dan lingkungannya.

Inspirasi dari lingkungan sehari-hari, melandasi segenap proses kreatif I Wayan Arnata. Hal ini dapat kita lihat dari karya-karyanya. Meski sangat eksploratif dalam mengolah media, judul dan visualitas karya hadir dengan lugas. Ngombe Bareng (2010) adalah satu judul yang tentunya menggelitik pikiran kita.

“Karya-karya yang diciptakan dalam berkesenian saya adalah tentang kehidupan keseharian. Selain berkesenian, ada kegiatan yang tidak bisa lepas dari keseharian yaitu; sosial masyarakat. Hampir 30% kehidupan keseharian saya adalah sosial masyarakat. Banyak pengalaman didapat dalam sosial masyarakat. Maka dari itu timbul kegelisahan-kegelisahan dirasakan untuk mengungkapkannya ke dalam bentuk karya seni dan sebagai gagasan dalam berkarya.”, demikian tandasnya.

Keempat kawanan seniman ini memang terbilang asyik mengolah medium. Dari kayu yang dipahat cermat hingga merespon barang-barang bekas yang mudah didapat. Kesemuanya tersuguhkan dengan apik dan artistik. Sebagaimana keunikan gagasan dan proses kreatif yang dipaparkan oleh I Wayan Danu berikut :

“(Bicara) konsep; secara fisik/visual karya, saya lebih menyukai merespon benda-benda bekas di sekitar saya, atau dengan cara memungut-mungut. Secara tema; saya merespon kejadian-kejadian yang akan atau belum terjadi pada lingkungan kita. Yang selalu mengusik rasa, dan saya coba suguhkan dalam proses perwujudan sebuah karya.”

Fenomena dan nomena yang ada di dalam lingkungannya, dimaknai dan dipahami, kemudian dituangkannya dalam proses dan bahasa visual yang lugas dan binal. Lukisan seperti Wabah ‘Jari Tengah’ (2011), menjadi satu ungkapan lirisnya atas tingkah nafsu yang mendominasi hidup manusia.

Seperti tiga seniman lainnya, Gus De Jagiran pun banyak mengeksplorasi ruang dan bahan. Ia banyak memanfaatkan apa- apa yang ada di sekitarnya untuk mewujudkan ide dan gagasan dengan bahasa perlambang sebagai gambaran tentang permasalahan-permasalahan sosial, alam dan lingkungan. Aroma tradisi kental tersirat dalam karyanya. Topeng kayu bertajuk Purwa (2011), hadirkan sosok wajah yang cekam. Di pahat di atas kayu waru, berhias ragam ornamen dan kain poleng, semakin menegaskan akar adatnya. Kepiawaian mengolah medium terwujud dalam Sato (2011). Berbahan telethong (tahi) sapi, ia hadirkan bentuk binatang dalam deformasi bentuk yang unik. Dari medium yang ‘tidak bernilai’, diubahnya menjadi karya seni tinggi.

Laju perjalanan kreatif Kelompok Djagoer telah melintas banyak sekat ruang. Bukan saja ruang gagasan, estetik ataupun artistik individu (dan kelompok), kini, perjalanan kreatif mereka menyeberangi pulau! TRY OUT, bukan lagi perkara uji diri, tetapi, Try to get Out !, ‘mencoba untuk keluar’. Keluar dari iklim seni rupa yang mereka rasakan di Bali dan mencari spirit yang ‘lebih’ di kota pelajar ini. Sebagaimana jawaban mereka saat kami lontarkan pertanyaan,

Kenapa Kelompok Djagoer memilih Yogyakarta sebagai tempat untuk presentasi karya?
“ Jogja! Di mana kami ditempa saat itu, -(Di era 90’an, para personel Kelompok Djagoer pernah tinggal, berkarya dan mengeyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta)-, memberikan aura imajinatif bagi kami untuk berupaya lebih memacu diri dalam berkesenian ini. Kami tidak menganggap di Bali tidak ada… akan tetapi kami menganggap Jogja masih sebagai salah satu pusat studi terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini … maka wajarlah kiranya bila kami memulai perjalanan kami yang lebih serius dan panjang itu di sini, dan juga melihat Jogja sebagai salah satu ‘mindframe’ pendidikan budaya (khususnya seni rupa) di Indonesia. Untuk daerah lain tentulah kami akan mencari dan menunggu kesempatan-kesempatan itu berikutnya.”

Kota ini memang selalu menarik perhatian siapapun yang pernah singgah, untuk kembali. Terlebih bagi para seniman yang pernah merasakan ‘aura imajinatif’nya- sebagaimana yang diungkapkan di atas. Lawatan ‘kembali’ Kelompok Djagoer ke Yogyakarta, mungkin membawa romantika tersendiri bagi para personelnya. Dan bahkan mungkin, menjadi ‘titik awal (lagi)’ dari perjalanan kesenimanan yang akan mereka tempuh selanjutnya. Sungguh, bagi kami, perjalanan mereka memberikan penghayatan yang lebih. Akan spirit yang harus terus dijaga, tanggung jawab yang mewujud dalam kerja keras, dan ke-bijak-an diri dalam menjalani proses kreatif. Sebuah kesantunan yang tersirat jelas dari jawaban mereka, saat kami lontarkan pertanyaan sebagai penutup perbincangan.

Melalui karya-karya yang akan dipamerkan di Sangkring Art Space Yogyakarta ini, apa yang hendak di tawarkan Kelompok Djagoer kepada publik seni, khususnya di Yogyakarta?

“Kami, Kelompok Djagoer, belum mampu manawarkan apa-apa.. hanya pemaparan proses kami.. dan rasa pertanggung jawaban kami terhadap lingkungan kesenian. Paling tidak diawali untuk diri sendiri, dan tentu “memperkenalkan diri kembali” pada lingkungan seni di Yogyakarta. Kami tidak berekspektasi jauh, tentang nilai yang kami berikan, biarlah semua mengalir lewat pemahaman masyarakat seni Yogyakarta itu sendiri.”
(+++)

Sangkring Art Project (SAP), 1 November 2011, 19:08 wib.
___________________________________
Semua data dan keterangan di atas, diracik dari wawancara yang dilakukan penulis dengan Kelompok Djagoer, yang diwakili oleh I Wayan Arnata, via surat elektronik pada Minggu, 30 Oktober, 2011, 18:41 wib.

 

Art Work

[nggallery id=49]

Mari Berbagi