Sangkring Art | Exhibition: BUMBON_19 Maret 2016 @Sangkring Art Project
1284
post-template-default,single,single-post,postid-1284,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

Exhibition: BUMBON_19 Maret 2016 @Sangkring Art Project

BUMBON_

Pameran: BUMBON
Seniman: Caroline Rika Winata | Tina Wahyuningsih | Trie ‘Iin’ Afriza | Theresia Agustina Sitompul | Wahyu ‘Adin’ Wiedyardini
Penulis: Ida Fitri | Zuliati
Pembukaan: Sabtu, 19 Maret 2016
Di buka oleh: Yustina Neni
Pameran berlangsung: 19 Maret – 4 April 2016

 

BUMBON
Ida Fitri

Orang Jawa lebih sering menggunakan istilah “bumbon” –dengan makna majemuk, ketimbang istilah “bumbu” dengan makna singular. Karena masakan tak pernah cukup dengan satu jenis bumbu saja. Demikian, pameran bersama oleh lima perupa perempuan ini bermetafora. Satu bumbu atau sendirian dianggap tak cukup, maka mereka bersama-sama mengolah kemampuan dari dapur imajinasi untuk dicicipi oleh khalayak. Mereka tak hanya menguasai teknik secara baik, akurat dalam menakar, terampil membuat komposisi yang sesuai, tetapi juga setia menjaga api kreatifitas tetap menyala.

Pameran bersama para perupa perempuan, dibawah judul yang telanjur melekat sebagai domain perempuan –Bumbon, bisa menggiring pada pesan untuk dipahami sebagai isu feminis. Sesungguhnya tidak. Para perempuan ini tidak memerlukan penyetaraan karena posisinya tidak lebih rendah dari pria. Mereka yang memiliki kepekaan terhadap sekitar, bakat kuat dan juga kreatifitas tak terbatas ini, dengan caranya sendiri menunjukkan kualitas yang sama ada pada perupa pria.

Meskipun, sekali dua masih sering dibandingkan dengan perupa pria terkait intensitas berkarya, keterlibatannya dalam pameran dan jangkauan wacana yang ingin disampaikan. Hal ini bisa dilihat sebagai cerminan situasi struktur yang menopangnya ketimbang keterbatasan yang ada pada diri perupa perempuan. Yaitu pada kondisi eksternal, seperti pasar, situasi sosial, politik dan budaya yang merengkuhnya. Perempuan memang jarang membicarakan perkara ekonomi, sosial, politik dan budaya. Tetapi pada kenyataannya, merekalah yang paling bernegosiasi dengan situasi ekonomi yang merugikan, kondisi sosial yang tidak mendukung dan paling lihai menyiasati imbas politik yang tak berpihak.

Bisa dikatakan, pameran ini adalah serangkaian testimoni yang terucap lewat karya. Pengakuan tentang bagaimana menjalani hidup di lingkaran sosial, lingkungan di dalam rumah dan di arena seni rupa. Karya-karya ini tidak hanya menggambarkan situasi dirinya dengan seni rupa, tetapi gambaran nyata situasi sosial yang lebih luas yang dialami perupa perempuan.

Caroline Rika Winata, Trien ‘Iien’ Afriza, Agustina Wahyuningsih, Theresia Agustina Sitompul dan Wahyu Adin Wiedyardini, dalam kesempitan bisa menghapus batas yang secara dikotomis membedakan peran perempuan yaitu domestik dan non-domestik. Dari bumbon dan pawon (dapur) sebagai representasi aktifitas dosmestik perempuan dan karya seni rupa di ruang pamer adalah aktifitas yang tak perlu dipisahkan. Dua hal yang bagi sebagian perempuan terkategori tidak mudah, tetapi nyata bisa. Dalam karya-karya ini mungkin tak terdeteksi bahwa terjadi negosiasi yang sulit antara diri dan situasi di sekitarnya saat berkarya. Strategi sebagai solusi yang dsepakati oleh mereka berlima adalah mengelola distraksi yang bertubi-tubi menjadi karya serta menganggap bahwa seni rupa merupakan urusan domestik yang mesti pula menjadi prioritas.

Hasilnya, Rika menggunakan bahasa jumputan di kain untuk membunyikan responnya terhadap situasi alam. Iien bersikeras untuk liat menghadapi kejutan dalam hidup seperti saat membuat keramik, tertempa dan terbakar. Sementara Tina melalui media soft sculpture, menggoyahkan pengkotakan karya yang membedakan craft dan art dengan menjahitkan berbagai wacana pada karya-karyanya. Begitu pula Adin, benda mainan anak-anak yang biasa berserakan di lantai diangkatnya menjadi karya yang semakin mengukuhkannya sebagai perupa perempuan. Di antara mereka, Tere memilih cetak karbon yang dikenal sebagai salah satu teknik seni grafis. Melalui jejak karbon dari benda-benda keseharian, Tere berhasil menyimpan memori-memori penting dalam hidupnya.

Selamat menikmati pameran lima perupa perempuan “Bumbon”, sejumput gagasan perupa perempuan, yang larut dalam cat di kanvas atau tercetak di lembar-lembar karbon, ditempa dan dibakar seperti keramik, tetapi tetap lembut seperti boneka.

 

Jogjakarta, 14 Maret 2016

Mari Berbagi