Sangkring Art | Solo Exhibition “GEGAT PENGGALIH GUGAT” by Sri Setyawati Mulyani (cipluk) @Sangkring Art Project
1019
post-template-default,single,single-post,postid-1019,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

Solo Exhibition “GEGAT PENGGALIH GUGAT” by Sri Setyawati Mulyani (cipluk) @Sangkring Art Project

 

Selasa, 15 April 2014
Tuesday, April 15th 2014
 Pukul 19.00 wib
at 7.00 pm
Officiated by:
Subroto S.M 
exhibition until : April 27th 2014
Gegat Penggalih Gugat

Repetisi tubuh dalam konteks karya-karya yang dipamerkan kali ini menjadi sesuatu yang enigmatik lantaran dimanfaatkan sebagai suatu strategi yang dinamakan sebagai masquerade, yakni strategi penyelubungan identitas. Penyelubungan atas tubuh ini terutama beroperasi melalui proses-proses metaforik. Akan tetapi, metafora tubuhan (embodied metaphors) di dalam karya-karya Bu Cipuk ini tidaklah dimaksudkan untuk merujuk kepada metafora tentang tubuh atau yang dilekatkan pada tubuh, melainkan terutama kepada metafora yang muncul dalam pengalaman ketubuhan (bodily experience).

Dengan karya-karya visualnya, Bu Cipuk telah berupaya meng-gugat (untuk tidak mengatakannya sebagai melawan) pemosisian tubuh perempuan sebagai objek hasrat yang tanpa daya. Baginya tubuh itu pertama dan terutama adalah subjek yang mengalami. Dia menyodorkan ke hadapan kita makna terdalam dari menjadi-manusia (baca: perempuan) adalah menjadi tubuh yang mampu mengalami gegat penggalih, mengatasi luka (pain) dan alienasi diri, kemudian menjelmakannya sebagai—dalam ungkapan Bu Cupuk sendiri—ruang permenungan sekaligus siasat untuk bertahan hidup.

 

(Kris Budiman)

 

Art Work

Mari Berbagi