Sangkring Art | Blog Large Image Whole Post
18956
page-template,page-template-blog-large-image-whole-post,page-template-blog-large-image-whole-post-php,page,page-id-18956,page-child,parent-pageid-1815,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

[Exhibition] YAA 11, D1RECT1ON – Group Exhibition

Ingatan Tubuh, Jejak Penciptaan (Embodied Knowledge: The Traces of Artistic Practice) Oleh Nadiyah Tunnikmah Kemampuan teknis dalam penciptaan karya seni tidak tumbuh secara linear, berkembang melalui praktik yang berulang, dalam kompleksitas yang menuntut ketekunan. Kemampuan ini bukan diukur dari berapa banyak karya yang dihasilkan, berapa lama waktu yang dihabiskan, atau berapa tahun pengalaman yang tercatat, melainkan dari konsistensi yang perlahan mengubah penguasaan teknis melampaui hafalan prosedur dan menjadi pengalaman yang menubuh, tersimpan dalam otot dan refleks, bekerja bahkan sebelum pikiran sempat merumuskannya. Tangan yang berulang kali memegang pensil, kuas, pahat, atau cukilan mengembangkan kepekaan yang melampaui instruksi. Mata yang terlatih membaca ruang, komposisi, dan permukaan material tidak lagi membutuhkan panduan eksplisit untuk menilai sebuah keputusan visual. Pengetahuan semacam ini tidak tinggal di kepala melainkan tinggal di tubuh, tidak mudah hilang karena tidak pernah sepenuhnya disimpan dalam otak dan menghasilkan kepekaan artistik. Kepekaan artistik pertama kali dibentuk dalam proses belajar-di ruang kelas-ketika seseorang masih dalam proses membangun ketrampilan tekniknya. Kepekaan artistik dan pengalaman menubuh tersebut tidak berhenti bekerja ketika peran berubah menjadi pengajar. Ketika seseorang kemudian berdiri di sisi lain ruang kelas, pengalaman itu tidak ditinggalkan tetap dibawa, dan di sana bertemu dengan kondisi yang berbeda. Pengalaman menubuh tetap aktif saat mengamati mahasiswa yang sedang mencari, menyaksikan pergeseran paradigma dari generasi ke generasi, memfasilitasi proses yang dahulu pernah dijalani sendiri. Kali ini pengalaman itu diaktifkan bukan untuk pengulangan, melainkan perpanjangan dari kepekaan yang sama, dalam dimensi yang terus berkembang. Peran sebagai pengajar dalam lingkup pendidikan tinggi dihadirkan dalam tiga lapisan yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Tiga lapisan ini adalah kewajiban yang masingmasing menuntut perhatian penuh. Dalam perguruan tinggi seni masih ada lapisan lain, memang bukan kewajiban tapi tidak bisa diabaikan yaitu berkarya seni. Energi yang dibutuhkan untuk menciptakan karya seni adalah energi yang sama dimana setiap hari diklaim oleh berbagai tanggung jawab lain. Tidak ada ruang dan energi yang tersisa secara otomatis, harus direbut, dijaga, dan dipertahankan secara sadar di tengah tekanan yang tidak selalu mengakui praktik penciptaan sebagai kebutuhan mendasar. Ketika seorang pengajar berdiri di ruang pameran sebagai seniman, ia tidak bisa sepenuhnya menanggalkan pengalaman bertahun-tahun mendampingi proses orang lain. Cara ia membuat keputusan artistik, membaca karyanya sendiri, memposisikan diri di hadapan publik, semuanya telah diwarnai oleh pengalaman pedagogis yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Bukan berarti karya yang dihasilkan adalah karya seorang pengajar yang sedang mendemonstrasikan sesuatu tapi bukan pula karya seseorang yang berkarya dalam kevakuman, seolah pengalaman mengajar tidak pernah ada. Karya-karya dalam pameran ini adalah jejak dari sebuah kondisi yang terus berlangsung, pengalaman yang mengendap dalam tubuh, kepekaan yang diperbarui oleh setiap pertemuan pedagogis, dan praktik penciptaan yang harus terus menemukan caranya sendiri untuk hidup di tengah segala yang mengitarinya.

[Exhibition] Dramatic by Gunawan Bonaventura

DRAMATRIX

Panggung Laku: Narasi, Satir, dan Kontemplasi Orang Jawa

Pameran Tunggal Gunawan Bonaventura

DRAMATRIX mempertemukan dua medan penting dalam praktik Gunawan Bonaventura: drama dan matriks. Drama adalah ruang narasi, konflik, satir, dan kontemplasi kehidupan manusia. Matriks adalah papan kayu tempat gagasan bermula, dia dicukil, dilukai, dan menyimpan jejak proses penciptaan.

Melalui karya-karya cukilan kayu berukuran besar, Gunawan menghadirkan figur-figur yang bergerak layaknya lakon di atas panggung. Detail yang padat, teknik cetak tinggi reduksi, dan jejak cukilan yang tak dapat diulang menjadi metafora tentang pilihan, risiko, serta kehilangan dalam kehidupan.

Berangkat dari pandangan hidup orang Jawa, karya-karyanya menghadirkan kritik sosial melalui satir yang halus, humor yang reflektif, dan sikap yang penuh welas asih. DRAMATRIX mengajak kita melihat bahwa proses adalah drama, dan matriks adalah panggungnya.

Kurator: M. Rain Rosidi


DRAMATRIX

The Stage of Action: Narrative, Satire, and Contemplation in Javanese Life

A Solo Exhibition by Gunawan Bonaventura

DRAMATRIX brings together two essential realms within Gunawan Bonaventura’s artistic practice: drama and matrix. Drama is the space of narrative, conflict, satire, and contemplation of human life. The matrix is the wooden block where ideas begin, carved, wounded, and bearing the traces of the creative process.

Through large-scale woodcut prints, Gunawan presents figures that move like characters performing upon a stage. Dense visual details, the reductive relief-printing technique, and irreversible carved marks become metaphors for choice, risk, and loss in human experience.

Rooted in a Javanese worldview, his works offer social critique through subtle satire, reflective humor, and a profound sense of compassion. DRAMATRIX invites us to see that the creative process itself is a drama, while the matrix serves as its stage.

Curated by: M. Rain Rosidi

[Exhibition] Group Exhibition Galeri Lorong “9×9+1”

9×9+1: Merawat Ruang, Menyemai Perupa

Pameran 9×9+1 lahir dari gagasan Putu Sutawijaya sebagai bentuk kepedulian terhadap regenerasi perupa muda. Di tengah makin terbatasnya ruang bagi seniman yang sedang berproses, ia memilih pendekatan yang berbeda: memberi ruang sejak awal, bukan saat seniman telah “jadi”. Alih-alih selektif terhadap nama yang sudah dikenal, Sangkring Art Space membuka pintunya bagi mahasiswa seni yang masih berproses pada fase-fase akhir perkuliahan, yakni mereka yang sedang meraba arah kekaryaan. Dalam proses ini, mereka tak hanya menyumbang karya, akan tetapi juga proses belajar mengangkat, menata, dan menghadapi realitas ruang pamer. Ini bukan sekadar pameran, melainkan secara personal latihan menyeluruh menuju kemandirian artistik. Setiap peserta pameran diminta menghadirkan sembilan karya kecil (maksimal 80×80 cm). Jumlah karya yang diminta bukan semata-mata agar ruang pamer terlihat penuh. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk memperbanyak latihan, memperluas kebiasaan berkarya, dan membiasakan diri menyentuh kanvas (atau media lain) secara rutin. Bukan soal seberapa “jadi” atau “sempurna” hasil akhirnya, melainkan bagaimana proses demi proses itu ditempuh dengan kesungguhan. Dalam sembilan karya, ada ruang untuk mencoba, gagal, menebak-nebak, lalu menemukan sesuatu yang baru dari diri sendiri. Tambahan “+1” merujuk pada penyeimbang sekaligus penyambung dialog lintas-tahap perjalanan seni karena bertepatan dengan Yogya Annual Art #10. Lintasan Sangkring di Sangkring Art Space dipilih sebagai lokasi jalur penghubung fisik yang juga simbol keterhubungan antargenerasi. Dengan program ini, Sangkring menjelma sebagai ruang yang tidak eksklusif, sebaliknya inklusif dan mendekat ke semangat muda. Ini cara untuk terus bertemu perupa baru, memperluas pergaulan, dan menjaga denyut hidup ruang seni. Melalui 9×9+1, Derry Sembiring, I Kadek Galang Nararya, I Kadek Wahyu Budi Wastita, Ibob Hariyatmoko, Ida Bagus Angga Aditya, Sulthan Jordhi, Putu Lontar Zhengkang Vijaya, Vito Ariyanto, Yunan Pramudita, dan Zalfa Zahira, diundang selain untuk menunjukkan juga untuk mengalami prosesnya secara langsung. Sangkring Art Space tidak hanya memamerkan karya, melainkan menyemai masa depan seni rupa. Sebab ruang yang tak memberi tempat pada generasi muda, lambat laun akan kehilangan maknanya sendiri.

Yogyakarta, 15 Juni 2025

Fasmaqullah

[Exhibition] Yogya Annual Art #10 “NEXT MOTION”

Kris Budiman

GERAK BERIKUTNYA: YOGYA ANNUAL ART #10

Segala sesuatu bergerak, tunduk pada hukum gerak (the law of motion). Tanpa kecuali, semuanya merupakan energi yang niscaya mengalir. Zarah-zarah bergerak dinamik, tidak pernah berada dalam posisi atau momentum yang konstan. Prinsip dasar dalam fisika Newtonian ini tetap kukuh hingga kini karena tidak bertabrakan dengan nalar kita yang awam (common sense). Kita memandang gerak serupa garis, entah lurus, lengkung, melingkar, berpusar, bergelombang, atau kombinasi-kombinasi lain. Aspek keruangan gerak ini serempak dengan aspek kewaktuannya. Kita membayangkan gerak sebagai pergeseran atau perpindahan dari satu titik (posisi) ke titik (posisi) lain secara dinamik. Dinamika spasio-temporal ini turut memicu sematan adjektif next yang mendampingi motion sebagai frasa tematik Yogya Annual Art #10 (2025).

Untuk mengekspresikan gerak dalam dinamika ruang dan waktu, beragam sarana puitika visual dapat dikerahkan, bahkan dimaksimalkan. Dengan sarana-sarana ini peluang tafsir yang lebih lapang dapat tersingkap. Kita lihat Liang Hsiao-Chin merunut tilas-tilas (traces) gerak yang terus berubah, Pei Ling Liao mengomparasikan gerak pikiran dan ingatannya dengan awan berarak, dan Pecut Sumantri membangun suasana bagai-mimpi, memanggil-manggil dari kedalaman yang samar. Diana Puspita menyusun komposisi musikal dengan tempo cepat, bergegas, melalui repetisi dan ritme visual. Sebaliknya, Arya Panjalu justru mengajak kita kembali bergerak lambat vi-à-vis “ruang kecepatan” hari ini, sebagaimana pernah digagas dengan kritis oleh Paul Virilio, seorang pemikir sosial kontemporer.

Ritme gerak tersebut menjelma sebagai metafor botanik di mata Icka Gavrilla dan metafor predikatif (ber-gerak) di tangan Sonia Prabowo yang menjalin subjek dengan objek bunga, pun kupu-kupu dan capung. Anang Batas menyusun sekuens foto seekor burung yang tak hanya berpotensi metaforik, melainkan juga naratif. Putu PW Winata, dengan persepsi sinestesia atas visualitas bentang alam Jatiluwih, melantunkan sebuah elegi. Prajna Dewantara bermeditasi atas makna samsara ― siklus kelahiran dan kematian dalam balutan metafor warna merah serah (carmine) dan efek chiaroscuro yang sangat sugestif, mencekam.

Melalui pemahaman atas gerak yang melampaui fenomena fisik belaka, dapat kita hampiri ruang-ruang tafsir yang jembar, termasuk yang lebih peka-konteks. Istana pasir Arahmaiani adalah metafor kekuasaan yang, betapapun, mesti tunduk pada kaidah gerak alur: bahwa kekuasaan yang tampak kukuh itu sesungguhnya rapuh. Pada Maslihar, songkok raja dan nimbus (cakram cahaya) menjadi metonimi kekuasaan yang dikitari oleh burung-burung metaforik. Keduanya menyodorkan komentar sosial kritis, sebagaimana alusi Hari Budiono yang secara intertekstual mempertautkan situasi hari ini dengan jangka Jayabaya dan Ranggawarsita. Begitu pula Budi Ubrux dengan gugus metonimi yang mengingatkan orang pada sindiran “pasukan nasi bungkus” sekaligus mengarahkan mata untuk mengenali kata-kata tertentu di lembar koran pembungkusnya.

Maka, terbentanglah perspektif-perspektif yang menggeser atensi kita ke gerakan dan pergerakan (movement): sosial, politik, lingkungan, dll. Galuh Tajimalela menyorot-balik sejarah pergerakan kebangsaan dan Bung Karno sebagai figur sentralnya ― perhatikan efek gerak yang dihasilkan dari sapuan-sapuan kuasnya. Terra Bajraghosa menggambarkan gerakan perlawanan sosial dalam tubuh bionik dan emanata ― speed lines ini, dalam semiotika komik, tergolong ke dalam kode grafik yang spesifik-komik. Rujukan intertekstualnya adalah Aksi Kamisan dan sebuah poster propaganda El Lissitzky. Melodia, dengan judul karya yang mungkin mengacu kepada sebuah lagu Pink Floyd, “Goodbye Blue Sky” (?), menyadarkan kita akan gerakan ekologis, sedangkan Fitri DK dengan metonimi stagen wadon seakan melontarkan ingatan kepada gerakan ibu-ibu Kendeng melawan penghancuran lingkungan.

Karya lainnya membuka ruang-ruang tafsir atas gerak yang tinubuh (embodied) atau, jika mengikuti Bourdieu, heksis ketubuhan (bodily hexis). Triana Nurmaria bertutur tentang anak-anak yang sanggup menghadapi gelombang ketakutan dan Ayurika tentang tubuh ibu yang dihubungkannya secara metaforik dengan air lindi. Tafsir atas tubuh pun terkuak lewat pendekatan dramaturgi. Di “panggung” Dyan Anggraini, kita saksikan seorang perempuan dengan gestur ikonik beserta metafor (bunga) matahari. Sedangkan “panggung” Gunawan Bonaventura dan Susilo Budi Purwanto terlihat padat oleh gestur-gestur agresif dan berkonflik. Edial Rusli bahkan membangun “panggung” yang kompleks dan berjenjang. Dibutuhkan kecermatan lebih agar mata dapat mengamati ironi di situ. Kecenderungan seperti ini justru dihindari oleh Gusar Suryanto, dengan keheningan (yang seolah) nir-gerak, serta Ugo Untoro, dengan elipsis cerdik menghadirkan yang mangkir (tak-hadir), sudah ber-pulang.

Belum pupus dalam rekam ingatan, bahwa di sepanjang rentang sepuluh tahun Yogya Annual Art kita pernah berkhidmat ihwal preferensi tematik yang masih berada di medan makna yang sama, yakni “Bergerak” (2017), “TransBoundaries” (2021), dan “Flow” (2022). Semoga YAA yang hendak menapaki dekade berikutnya ini tetap teguh dalam gerak langkahnya, terus bergerak ke titik-titik kemungkinan yang tanpa-batas.

NEXT MOTION: YOGYA ANNUAL ART #10

Kris Budiman

Everything moves, subject to the law of motion. Without exception, everything is energy that necessarily flows. Particles move dynamically, never in a constant position or momentum. This basic principle of Newtonian physics remains strong today because it does not clash with our common sense. We view the motion as a line, whether straight, curved, circular, rotating, wavy, or some other combination. This spatial aspect of motion is present simultaneously with its temporal aspect. We imagine motion as a shift or displacement from one point (position) to another point (position) dynamically. This spatial-temporal dynamic triggers the adjective next, an attribute that accompanies motion as the thematic phrase of Yogya Annual Art #10 (2025).

To express motion in the dynamic of space and time, various visual poetic devices can be deployed, even to their maximum. With these devices, opportunities for broader interpretation can be revealed. We see Liang Hsiao-Chin tracing the traces of ever-changing motion, Pei Ling Liao comparing the motion of her thoughts and memories to drifting clouds, and Pecut Sumantri creating a dreamlike atmosphere, calling out from the vague depths. Diana Puspita creates a musical composition with a fast, rushing tempo through visual repetition and rhythm. On the contrary, Arya Panjalu invites us to move slowly vi-à-vis the “speed space” of today, as was once critically proposed by Paul Virilio, a contemporary social thinker.

The rhythm of the motion manifests as a botanical metaphor in the eyes of Icka Gavrilla and a predicative metaphor (ber-gerak) in the hands of Sonia Prabowo, who weaves together the subject with the objects of flowers, as well as butterflies and dragonflies. Anang Batas composes a sequence of photographs of a bird that is not only potentially metaphorical but also narrative. Putu PW Winata, with his synesthetic perception of the visuality of Jatiluwih landscape, sings an elegy. Prajna Dewantara meditates on the meaning of samsara ― a cycle of birth and death ― wrapped in a highly suggestive, gripping metaphor of carmine and chiaroscuro effects.

Through an understanding of motion that goes beyond mere physical phenomena, we can approach expansive interpretive spaces, including those that are more context-sensitive. Arahmaiani’s sand castle is a metaphor for power that, however, must submit to the rules of the plot: the power that seems mighty is essentially fragile. In Maslihar, the crown of the Javanese king and the nimbus become metonymies of power surrounded by metaphorical birds. Both of them offer a critical social commentary, as in Hari Budiono’s allusion, which intertextually links the current situation with Jayabaya and Ranggawarsita’s prophecies. Likewise, Budi Ubrux uses a cluster of metonymies that reminds us of “the rice parcel troops” satire while also directing the eye to recognize certain words on the newspaper sheets that serve as the wrapping.

Thus, the perspectives that shift our attention to social, political, environmental movements (gerakan or pergerakan), and so on, are revealed. Galuh Tajimalela looks back at the history of the national movement and Bung Karno, its central figure ― note the effects of motion produced by his brushstrokes. Terra Bajraghosa depicts a social resistance movement in a bionic body and emanata ― these speed lines, in the semiotics of comics, belong to a comics-specific graphic code. His intertextual references are Aksi Kamisan and a propaganda poster by El Lissitzky. Melodia, with the title of his artwork possibly referring to a Pink Floyd song, “Goodbye Blue Sky” (?), makes us aware of the ecological movement, as Fitri DK, with the metonymy stagen wadon seems to bring back memories of the Kendeng women’s movement against environmental destruction.

Other works open up rooms for the interpretation of embodied movement or, following Bourdieu, bodily hexis. Triana Nurmaria tells the story of children who can face the waves of fear, and Ayurika is about the mother’s body, which she metaphorically connects to leachate. The interpretation of the body is also revealed through a dramaturgical approach. On Dyan Anggraini’s “stage”, we watch a woman with an iconic gesture and the metaphor of the sun(flowers). Meanwhile, the “stages” of Gunawan Bonaventura and Susilo Budi Purwanto looked crowded with aggressive and conflictual gestures. Edial Rusli even built a complex and tiered “stage”. It takes more patience for the eye to observe the irony there. This tendency is avoided by Gusar Suryanto, with a silence that (seems) motionless, and Ugo Untoro, with a smart ellipsis presenting the absence of someone who has passed away.

It has not faded from memory that throughout the ten years of Yogya Annual Art, we have served with thematic preferences that are still in the same semantic field, namely “Bergerak” (2017), “TransBoundaries” (2021), and “Flow” (2022). Hopefully, YAA, which is about to step into the next decade, will remain steadfast in its steps, continuing to move towards points of limitless possibilities.