Sangkring Art | Blog Large Image Whole Post
18956
paged,page-template,page-template-blog-large-image-whole-post,page-template-blog-large-image-whole-post-php,page,page-id-18956,page-child,parent-pageid-1815,paged-4,page-paged-4,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

[Performing] Hari Bahagia – Konser Keberbakatan DIY 2019

hari bahagia an intimate concert - keberbakatan diy 2019Program Keberbakatan DIY 2019 proudly present!!

Untuk mengakhiri project setelah berproses bersama selama beberapa bulan, teman teman dari Keberbakatan DIY akan melakukan serangkaian promo album dan perfoming concert. Kali ini, kami menggagas “HARI BAHAGIA” intimate concert pada Jumat besok, tanggal 25 Oktober 2019 jam 7 malam, di Sangkring Art Space, jl. Nitiprayan.

Mari mengapresiasi, karena tidak ada kesan tanpa kehadiran kalian

Salam budaya ?

#haribahagia #keberbakatandiy2019

Dokumentasi

Dokumentasi Video

[Pameran] Ugemi

Pameran Lukisan
Rina Kurniyati & Astuti Kusumo
UGEMI

24 Oktober – 04 November 2019

Sangkring Art Space
Jl. Nitiprayan 88 Ngestiharjo, Kasihan Bantul.

Jam buka setiap hari 09.00 – 20.00 WIB

Pembukaan: 24 Oktober 2019, 19.30 WIB

 

 

Ngugemi, secara harfiah berarti “menggenggam erat”. Bagi orang Jawa, kata tersebut merupakan simbol yang mengikat diri, secara lahir dan terutama batin, dengan tradisi yang dicanangkan dan diwariskan oleh para leluhur. Bagi perempuan Jawa, ngugemi terkait dengan posisinya sebagai rekan penyeimbang bagi suami (sarimbit), pengampu rumah yang berjiwa besar sebagai manifestasi tata dunia (kosmologi) dan unit terkecil dari masyarakat, dan sebagai ibu yang melahirkan dan pendidik yang meneruskan nilai-nilai tradisi pada anak-anaknya sejak usia dini. Ngugemi, bagi perempuan Jawa, merupakan fitrah dan martabat, sebuah sikap batin demi kelangsungan masyarakat dalam skema kosmologi tradisi.

Ugemi_sangkringart_okDengan konsepsi semacam itu, Rina dan Astuti ingin tetap mengedepankan keluhuran tradisi dan kearifan lokal Jawa dengan mengekspresikannya ke dalam lukisan. Dua puluhan lukisan yang disajkan menjadi simbol penyeimbang diri sekaligus penyelaras bagi kosmologi di lingkungannya masing-masing. Posisi istri (atau peran ibu) bagi mereka bukan sekadar melayani, tetapi juga mampu memberi pelajaran bagi manusia di sekitarnya. Lukisan-lukisan mereka berdua adalah wujud perantaraan dunia yang penuh pesan: keterpaduan antara yang maskulin dan feminin, yang ekspresif dan realistik, yang kasar dan halus, yang keras dan lembut. Semuanya dirangkai melalui warna, garis dan tekstur. Medium kaca (karya Rina Kurniyati) dan kanvas (karya Astuti Kusumo) adalah bagian dari pesan tentang penyeimbang dan satuan keselarasan. Mari menjadi saksi pameran dua perempuan perupa dari Yogyakarta ini.

Katalog Ugemi

Dokumentasi

Dokumentasi Video

[Pameran] Metalik

Refreshing with Metalic

Mohon maaf judul tulisan ini berbahasa asing, karena sungguh saya tidak menemukan padanan kata yang tepat untuk menuliskannya secara ringkas.
Dalam semacam wawancara dengan pelukis Bambang Pramudiyanto a k a Benk; kata “refreshing” alias penyegaran adalah kata yang paling banyak disebut. Selain “Metalic/Metalik” yang memang asalnya bahasa inggris atau asing yang bersifat logam.
Pameran tunggal Benk kali ini menampilkan obyek sederhana yang dekat dengan keseharian kita menjadi sesuatu yang bisa muncul lagi menjadi lebih baru, modern, kinclong, mewah bahkan glamor. Dan pemilihan “melogamkan” setiap benda yang dilukis ini punya dua makna sekaligus.
Pertama, menyegarkan benda itu sendiri sebagai sebuah karya seni yang selesai. Kedua, perbuatan ini menjadikan si pelukisnya merasa segar kembali. Tanpa harus melukis yang rumit dan njelimet sebagaimana lukisannya selama ini kita kenal, Benk dapat memenuhi kebutuhan artistiknya secara paripurna. Serta masih memiliki ikatan benang merah dengan karya-karya sebelumnya.
Perhatikan beberapa benda biasa yang menjadi luar biasa atau setidaknya jadi berbeda plus lebih indah. Lukisan yang menggambarkan buah pare menyadarkan pada kita bahwa teksturnya ternyata punya pola yang menarik. Bukan sembarang totol-totol tak beraturan. Lihat juga lukisan jagung yang multi tafsir itu. Wow… Very inspiring…
Adalah tidak sia-sia usaha kerasnya dalam setahun terakhir mempersiapkan pameran ini. Apabila cukup lama beliau tak berpameran tunggal, terakhir tahun 2003. Apabila (lagi) Benk menamai kegiatan ini, selain sebuah usaha refreshing, juga tantangan, batu loncatan mendapatkan energi, spirit dan semangat demi pameran berikutnya yang lebih besar.
Dengan kata lain sejatinya Benk sedang mengumpulkan modal. Meski sesungguhnya Benk sudah memiliki banyak modal kesenian yang kuat. Ia pembelajar yang baik. Ia pekerja keras. Ia punya teknik yang memadai. Ia punya konsep dan pemikiran yang unik.
Salah satu statementnya cukup mengejutkan, “saat ini seni rupa kontemporer sedang didominasi oleh style tertentu saja”. Maka dari itu harapannya pameran di Sangkring Art Project ini adalah ingin memberi sebuah warna yang semoga baru.

Yogyakarta, 24 Agustus 2019

Yuswantoro Adi

——
Perjalanan kreativitas Beng Beng di Abad Milenial
Saya mengenal pelukis Bambang Pramudiyanto yang biasa disapa Beng Beng sewaktu masih kuliah di STSRI-ASRI yang sekarang disebut sebagai ISI (Institut Seni Indonesia). Pada waktu itu beliau sangat piawai didalam bentuk lukisan realisme, terutama dalam melukis mobil-mobil tua buatan Amerika Serikat atau Inggris seperti Dodge, Ford, Chevrolette, Austin dan lain-lain yang dilukis secara unik dengan mengekspos kulit-kulit dari badan mobil tersebut dengan dibuat berkarat. Mobil-mobil tua yang teronggok di pelosok-pelosok kota dan desa-desa menjadi wilayah perburuannya untuk mendapatkan referensi-referensi dan sekaligus sebagai subject-matter tema besar karyanya.
Beng Beng dikenal sebagai orang yang rapi dan perfeksionis dalam mengerjakan karya-karyanya. Seluruh peralatan kerja serta bahan-bahan untuk mempersiapkan lukisan, semuanya tersusun rapi. Beliau mengikuti pameran “Tiga Kota” (dengan peserta pameran dari para mahasiswa seni ASRI, ITB dan IKJ) pada tahun 1989 yang bertempat di ruang pameran IKJ Jakarta, dimana di dalam pameran tersebut saya juga terlibat. Pada waktu itu yang menjadi fenomena adalah keheranan masyarakat di Jakarta yang merasa aneh dengan seniman Jogja yang melukis secara realistik dan nge-pop. Seakan-akan pelukis dari Jogja tidak layak atau tidak patut membuat lukisan realistik yang nge-pop sebagai wujud berekspresi kelompok masyarakat yang urban dan heterogen, dimana pada waktu itu karya-karya dari para seniman Jogja distigma dan dikategorikan sebagai seniman-seniman yang hanya terinspirasi oleh seni-seni tradisi dan menyuarakan isu-isu sosial-politik.
Pada sekitar tahun 90’an karya Beng Beng mengalami perubahan, dimana beliau tidak lagi mengekspos objek-objek mobil tua dengan karat-karatnya, namun melukis benda-benda produk masa kini yang di-closed up atau diperbesar sehingga objek-objeknya terlihat lebih abstrak. Kalau Piet Mondrian mengesensikan bentuk-bentuk dan warna-warna menjadi primer, dimana benda-benda hanya menjadi bentuk-bentuk geometris saja, berbeda dengan Beng Beng yang masih peduli dengan objek-objek yang tidak komplit namun menghasut persepsi penonton pada bentuk-bentuk yang telah mereka kenal.
Pada tahun 2000’an saat umat manusia di bumi memasuki Milenium ke-3, Beng Beng merespons situasi perubahan kemajuan kehidupan dalam hal kebudayaan dan peradaban manusia melalui kritikan-kritikan mengenai perubahan yang terjadi didalam memperlakukan materi-materi alam yang kemudian digantikan dengan bahan-bahan baru yang bersifat artifisial dan juga dengan warna metalik yang berkilauan.
Karya-karyanya yang ditampilkan kali ini dalam pameran tunggalnya yang berjudul MeTAL(i)K, yang kalau saya persepsikan menjadi Me TALK atau saya berkata dan I dalam huruf kecil: “I” atau “Saya” memberikan penegasan ke-Aku-annya akan eksistensi dirinya di jagat seni lukis Indonesia menunjukkan bentuk ekspresi yang dihadirkan merupakan pendirian cara dan bentuk pengekspresian karyanya yang juga merupakan ciri khas dan gayanya yang merupakan sumbangsih kreativitasnya di jagat seni rupa Indonesia.

Selamat berpameran Beng-Beng dan selamat menyaksikan karya-karyanya!

Yogyakarta, 22 Agustus 2019

Heri Dono

—–

MeTAL(i)K

Satu hal yang terlanjur lekat di benak saya perihal Bambang Pramudiyanto adalah citra mobil-mobil. Dikatakan terlanjur karena imaji ini sulit sekali saya hapuskan dari memori, meskipun Bambang yang sudah saya kenal lama adalah sekaligus seorang pengamat yang cermat dan selalu ingin memberikan komentar sosial (social commentary) lewat lukisan-lukisannya. Mobil-mobil di atas kanvasnya bukanlah semata mewakili objek-objek acuannya itu sendiri. Sebab Bambang ingin berbicara tentang banyak hal lain. Dia mengatakan one thing and means another. Ya, inilah konsep general atau paling mendasar bagi ekspresi metaforis. Jadi, tidak mengherankan jika dia memberi tekanan pada detail tertentu seperti cat yang terkelupas, karat atau mendampingkan mobilnya dengan daun kering atau kodok origami. Dia tidak menyalin realitas yang diamatinya sebagai realitas sui generis, melainkan sebagai majas visual untuk menyampaikan gagasan, komentar-komentar sosialnya. Oleh karena itu, dengan teknik realismenya yang kuat, dia lebih tepat disebut sebagai seorang hiper-realis.

Begitu lama tidak berjumpa dengannya, baru beberapa tahun terakhir ini saja saya dapat mengamati dan bersentuhan lagi dengan sedikit lukisan Bambang terbaru. Ada kesinambungan dan pergeseran yang telah atau sedang terjadi padanya. Dia melukis figur manusia, tokoh-tokoh seperti Bung Karno atau Marylin Monroe. Dia melukis pula objek-objek yang bukan mobil, terutama benda-benda yang dipungut dari kehidupan sehari-hari semisal uang atau Coca-Cola. Objek-objek keseharian itu berjukstaposisi dengan sosok manusia dan, masih tetap, potongan bagian tertentu dari mobil atau objek metalik lain. Secara ideologis estetis Bambang hari ini kesannya cenderung mendekat kepada seni rupa pop (pop art). Namun demikian, satu hal yang tetap hadir di dalam lukisannya adalah ketidakhadiran objek apapun di latar belakang. Lukisan-lukisannya berlatar “kosong”. Dan sebagaimana Bambang sejak dulu, dia tidak mengkopi realitas. Dia ingin berbicara, menyampaikan gagasan-gagasan kritisnya tentang dunia sosial melalui serangkaian objek sebagai majas visual.

Karya-karya yang menantang tafsir di dalam pameran ini, antara lain, adalah “MeTAL(i)K #2” “MeTAL(i)K #3” dan “MeTAL(i)K #6”. Pada yang pertama dia melukiskan butiran jagung yang salah satunya mengalami topikalisasi karena cemerlang keemasan. Biji jagung keemasan ini menjadi majas visual yang secara tajam mewakili kebiasaan orang-orang desa yang ingin mendisplai distingsi sosial melalui gigi emas sebagai modal ekonomis dan simbolisnya yang paling eye catching.

Lukisan selanjutnya menampilkan objek tulang-tulangan (mainan untuk seekor anjing) yang mewakili sejenis makanan berbahan baku daging hewan sahabat setia manusia itu. Penulisan frasa “BITE ME” dan “EAT ME” yang terbalik seperti mewakili sikap Bambang atas tradisi kuliner yang sudah terlanjur dianggap “biasa dan bukan sesuatu yang aneh” ini. Lukisan ketiga merupakan komentar sosial terhadap perubahan kultural yang eksesif. Di sini dia menunjukan kepada kita bungkus metalik yang merupakan majas bagi perubahan kultural produk-produk makanan lokal yang telah mengalami pengemasan-ulang yang lebih menawarkan nilai-tanda (sign-value) yang prestisius.

Catatan terakhir adalah perihal judul. Singkat saja, judulnya: MeTAL(i)K. Berhadapan dengan permainan kata, huruf dan tanda baca ini, kita seperti ditawari ambiguitas. Pertama, ia dapat dibaca sebagai metalik, yakni (sesuatu) yang bersifat seperti logam. Akan tetapi, proses tafsir tidak berhenti di sini saja. Sebab ada kemungkinan kedua. Melalui kombinasi huruf besar/huruf kecil dan tanda kurung, mencuat makna lain tentang seseorang (me) yang berbicara (talk), yang tiada lain daripada Bambang sendiri yang ingin bercakap dengan kita melalui lukisan-lukisannya. Jadi, mari kita simak bersama!

Kris Budiman

Dokumentasi

Dokumentasi Video

[Pameran] YAA #4 Incumbent

Download now!!!

67126667_10219198422379482_5998149981821730816_n

YAA #4 “Incumbent” 2019

           Tahun ini Yogya Annual Art memasuki tahun ke empat. Sebuah angka yang cukup berbahaya dalam filosofi dan hitungan China. Angka ini disebut “Si” yang artinya mati. Makanya tidak heran dalam banyak kegiatan bersifat regular, urutan ke empat ini sering dianggap sial, penuh rintangan dan hal buruk lainnya, Namun jika berhasil melewatinya, hasilnya akan luar biasa.

Jadi tidak perlu terlalu khawatir sebab dalam kegiatan kesenian berkelompok, seperti grup band misalnya. Kelompok yang beranggotakan empat orang, banyak yang berhasil. The Beatles, Queen, Rolling stone, Koes Bersaudara, Koes Plus, Gigi, Noah, Sheila on 7 adalah beberapa contohnya. Grup lawak Kwartet Jaya dan Jayakarta adalah contoh lainnya di grup lawak. Bahkan ada kelompok superhero beranggotakan 4 orang yakni The Fantastic Four.

Apalagi YAA bukanlah sekadar kegiatan kesenian atau senirupa biasa. Aktivitas regular bersifat tahunan yang diselenggarkan di Bale Banjar Sangkring ini lebih tepat disebut sebagai Kebudayaan dengan huruf K besar. Dimulai dengan “Niat” di tahun 2016. Dilanjutkan dengan “Bergerak” di tahun 2017 . Lalu sampai pada “Positioning” di tahun 2018 kemarin. Nah di tahun 2019 ini YAA memilih tema “Incumbent”

Incumbent jelas kata berbahasa Inggris yang terjemahannya petahana, berasal dari kata “tahana”, yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Istilah ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan pemilihan umum, di mana sering terjadi persaingan antara kandidat petahana dan non petahana. Lebih mudahnya dapat dimaknai sebagai, “yang saat ini masih berkuasa/menjabat”

YAA #4 tentu bukan kegiatan politik praktis, namun sebenarnya posisinya saat ini memang menyerupai incumbent. Ini bukan ilmu gothak-gathuk atau dipaksakan. Demi melihat sejarahnya (sebagimana tertulis di atas)  dimulai dengan niat yang tulus, bergerak dengan dinamis lalu menemukan posisi yang ideal dalam positioningnya. Maka saat ini tidak berlebiihan disebut sudah memiliki kedudukan, kebesaran atau kemuliaan dalam politik kesenian dan kebudayaan.

Ini saat yang menguntungkan namun juga bersifat krusial karena mengandung resiko dan bahaya. Maka satu-satunya cara mempertahankannya adalah berbuat terbaik dan kerja keras. Artinya setiap peserta YAA #4 Incumbent haruslah bekerja maksimal sekaligus professional. Selamat berjuang!

Yuswantoro Adi

[Pameran] Made Sukadana

56247971_10214943039510101_6523577262699184128_n

Single Fighter #3:
Pameran Tunggal karya-karya
MADE SUKADANA
@ Sangkring Art Space
jl Nitiprayan 88, Ngestiharjo , Yogyakarta

pembukaan pada
MINGGU, 7 April 2019
jam 19.00

dibuka oleh Bp Ridwan Mulyosudarmo

Pameran berlangsung 7 April – 7 Juni 2019

[Pameran] Perupamuda #3 “Ring Road”

poster prpmuda

index

ww

Youthquake

Menyoal pemuda memang tidak ada habisnya, terlebih soal frasa klise “pemuda adalah agen perubahan” di mana hingga hari ini masih mampu menunjukkan tajinya. Pada 2017 lalu, Oxford Dictionary mengukuhkan terma “Youthquake” sebagai word of the year. Terma tersebut bukanlah hal baru, mengingat Diana Vreeland pernah mengemukakannya melalui majalah asuhannya, Vogue, pada 1965. Jika Diana Vreeland menggambarkan youthquake sebagai kebangkitan budaya pemuda di London yang terjadi pada 1960-an, terutama dalam cara berpakaian, maka Oxford Dictionary menjabarkannya lebih luas. Yakni mengacu pada perubahan budaya, politik, atau perubahan sosial yang signifikan karena aksi atau pengaruh dari pemuda. Hal ini menandakan bahwa pemuda memiliki peran dan caranya masing-masing untuk mendayagunakan energinya merespon geliat zaman atau bahkan menciptakan maknanya sendiri.

Para pemuda masa kini itu dikelompokkan dan diberi nama generasi milenial oleh generasi sebelumnya. Menjadi rahasia umum jika generasi milenial dilabeli hal-hal negatif seperti individualis, apatis, pemalas, dan lain-lain. Namun, ketika Oxford Dictionary memberikan sorotan terhadap terma youthquake, setidaknya sedikit banyak mematahkan label-label yang menempel pada generasi milenial. Hal ini, salah satunya, didasari pada meningkatnya jumlah keikutsertaan pemilih muda di UK dan New Zealand yang mendukung partai oposisi.

Bisa jadi, hal ini pula yang mendorong para capres dan cawapres di Indonesia berlomba-lomba menjadi yang paling mewakili milenial. Daripadanya, menarik kemudian untuk menelisik kembali bagaimana praktik generasi millenial di Indonesia hari ini. Terutama, ketika generasi ini tidak mengalami perang dunia, revolusi, maupun reformasi namun mengalami perubahan zaman bernama kemajuan teknologi informatika.

Satu hal yang perlu menjadi catatan ialah, bahwa menyoal generasi tidaklah mungkin untuk digeneralisir. Meski kemajuan teknologi menjadi payung besar pengaruh sosio-historis generasi milenial, lantas tidak dengan begitu saja menihilkan order di mana mereka mengada. Misalnya, generasi milenial yang lebih sering mendiskusikan ihwal kritis akan berbeda dengan milenial yang mengikuti akademi kepolisian akan jauh berbeda ketika merespon isu-isu kenegaraan. Bukan berarti bahwa yang satu lebih baik dari lainnya, melainkan terdapat perbedaan daya cerap dan mengaktualisasikan diri berdasarkan arena di mana mereka berada.

Para  muda di ranah seni rupa, misalnya. Hari ini memang jarang sekali yang menyoal isu kenegaraan atau bahkan menawarkan gagasan-gagasan segar. Jim Supangkat secara implisit dalam sebuah wawancara untuk pameran Manifesto “Multipolar”, mengatakan bahwa seniman hari ini tidak jauh beda dengan wartawan yang memberitakan sebuah realitas melalui produksi visual. Tetapi toh, seperti disebut dalam paragraf sebelumnya, generasi milenial hari ini tidak mengalami gejolak konflik yang konfrontatif seperti generasi sebelumnya.

Lingkar Perupa Muda

Pameran Perupamuda kembali digelar untuk yang ke-3. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan ruang Bale Banjar Sangkring sebagai salah satu upaya mendistribusikan kerja-kerja yang bersifat edukatif dan partisipatif. Program Perupamuda merupakan kesempatan dalam membuka ruang inisiasi dan kolaborasi antara galeri Sangkring dengan anak-anak muda. Pameran ini, seluruhnya diorganisir oleh anak muda, mereka punya hak penuh dari konsep hingga eksekusi sesuai dengan pertimbangan dan kesepakatan kolektif.

Menyimak peristiwa yang berhasil terselenggara sebelumnya, ada upaya panitia dalam meletakkan atau menegaskan kembali terkait prinsip, perspektif, konsep, pemahaman, mengenai perupa muda dan seni kontemporer sesuai dengan konteks di mana peristiwa itu digelar, yang setidaknya menjadi tawaran medan untuk dinegosiasikan bersama subjek yang berkepentingan secara terbuka. Masih dalam wacana kontemporer, setidaknya, tiga kali penyelenggaraan Perupamuda, ada pembacaan ulang mengenai medium karya yang terikat secara tema, misal pameran yang pertama fokus mengenai karya kanvas, kedua kertas, lalu yang ketiga ragam media.

Pameran ini mengambil tajuk “Ring Road”, judul ini sengaja dipilih dengan maksud memberi kesempatan bagi seniman muda secara lebih luas, semacam pemekaran wilayah untuk menjangkau berbagai medan dan disiplin seni rupa. Terkhusus di Yogyakarya, sebab hanya dalam areal yang dilingkari jalan utama saja, bisa menawarkan begitu banyak model kesenian. Dimaksudkan para muda-mudi yang turut berpartisipasi dapat secara bersama-sama membuat lingkaran besar, sekaligus jalan, sebagai kekuatan generasi muda. Perihal mengenai lingkaran, lebih lanjut bisa menjadi simbol atas kebersamaan dan persatuan.

Sebab generasi kini, dengan fasilitas akses informasi yang melimpah justru rentan terpecah belah oleh sebab sajian konten yang provokatif, misal seperti terjadi dalam perang medsos. Maka pameran, dengan kemungkinan aktivitas dan interaksinya secara komunal, dapat memberi ikatan yang lebih intim dan manusiawi. Pameran Ring Road bisa menjadi ruang sosial dan distribusi nilai dan makna antar pemuda, juga sebagai upaya konkrit dalam membedah bias dunia virtual yang menjadi bagian identifikasi para milenial.

Beberapa karya memiliki kemiripan satu sama lain seperti kehadiran warna-warna fosfor, bisa dijumpai dalam karya Aldi Wahyu, Kadek Suardana, Tahta Gilang, Ricky Qaliby dan Yula Setyowidi, yang seolah butuh wahana tersendiri untuk menempatkannya. Karya-karya ini membutuhkan jangkauan ruang tertentu, misal pengaturan cahaya relatif. Karya Suardana menempatkan gambar tradisional Bali yang telah digubah menjadi semacam latar namun juga ornamen. Latar ini seolah hadir dan hilang dalam lanskap alam natural tanpa kehadiran manusia. Suardana seolah ingin melukiskan, bahwa tradisi hadir selaras dengan alam, karyanya sebagai ungkapan harmonis antara spirit alam dengan tradisi.

Satuan panel-panel, baik dalam satu media utuh dan terpisah, hendak membangun narasinya tersendiri, seperti terdapat dalam karya Amri Cahya, Iwan Santika, Pradani Ratna, Taufiq HT, Ungky Prasetyo, Raka Hadi dan Roy Adhitama. Khusus karya kolaborasi Amri Cahya dan Janur Kilat bertolak dari permainan ular tangga. Ular tangga, yang bisa diasosiasikan sebagai perjalanan, perjuangan, nasib… ditampilkan secara menyenangkan lewat aktivitas berkebun. Bagi mereka, berkebun itu merupakan hal yang menyenangkan, membuat rileks saraf-saraf yang mulai menegang. Salah satu alternatif kegiatan untuk melepas penat. Dalam berkebun, lewat karya, sesungguhnya menyiratkan kemandirian, dan kebahagiaan atas interaksi langsung dengan alam. Sebagaimana hadir dalam karyanya, tak hanya suka ria memanen hasil kebun, namun juga mendapat kebahagiaan hakiki berupa cinta.

Adapun yang terus dan terus dilakukan dan mungkin selalu dirayakan adalah eksplorasi mengenai figur-figur rekaan, terlihat dalam karya milik Fika Ariestya, Diky Prasetyo, Wayan Sudarsana, dan Diana Puspita. Pada karya Sudarsana, Evolusi Alam, adalah gambar tentang keberlangsungan alam, masa depan yang ia cemaskan oleh sebab perubahan lingkungan yang tidak berpihak pada hari esok. Hewan, manusia, dan tumbuhan, ia gubah dalam satu subjek utuh, sebagai penegasan bahwa idealnya, sesama makhluk alam memiliki hak yang sama untuk hidup dan keberlangsungannya. Saya menganggap bahwa proses menghadirkan figur-figur baru, yang mungkin akan terus-menerus dilangsungkan tiap generasi, sebagai hasrat mencari pengalaman baru, dan juga secara tegas selalu menyampaikan muatan keberbedaan. Bahwa yang berbeda harus ditegaskan, namun dengan berbeda bukan berarti tidak bisa bersatu. Sayang, sepanjang sejarah, sebagaimana banyak kita tahu, perbedaan senantiasa menjadi alasan permusuhan. Tidakkah dunia ini mencoba kesempatan untuk berdamai?

Sifat dan sikap individual, seperti dialami pada kebanyakan generasi milenial hari ini, mungkin telah menjadi bagian dari karakteristik anak zaman yang tak bisa terelakkan. Perkembangan teknologi dan informasi terutama, telah menancapkan sistem dan gaya hidup yang khas. Berbagai kebutuhan hidup dapat, dan mungkin wajib  terakomodir dalam media-media yang lebih bersifat artifisial. Alih-alih mengelak jadi tertinggal sementara ikut jadi terjerumus. Di zaman ini, hidup semakin lebih terasa untuk memilih dan menjalani risiko, kita hanya memiliki alternatif dalam menjalankan pilihan-pilihan yang tidak diinginkan, dengan bahasa lain yang cukup melegakan yaitu ‘memanfaatkannya’, seperti memanfaatkan medsos untuk berjejaring atau mempromosikan karya contohnya.

Angkatan muda, sejumlah 52 perupa yang terlibat dalam pameran ini, bisa jadi menandakan generasi seni rupa yang tidak diwarnai dengan perdebatan sengit dan terbuka, sikap kritis, juga terobsesi pada gerakan tertentu. Kita tahu bahwa sejarah seni rupa Indonesia dibentuk dari perdebatan-perdebatan yang melahirkan berbagai angkatan. Apakah ini sebuah kemunduran? Seperti sering dituduhkan oleh generasi sebelumnya, atau jangan-jangan ini merupakan sikap perupa muda untuk menolak model-model legitimasi generasi. Tak hanya Supangkat yang menganggap tiada perubahan berarti, laman histography.io juga tidak mencatat adanya karya seni penting sejak dirampungkannya patung Cristo de la Concordia pada tahun 1994.

Saya melihat bahwa semakin lunturnya peran tunggal pada medan, ruang, komunitas, atau peristiwa tertentu yang sebelumnya memiliki kuasa penuh dalam menjalankan atau menentukan arah perkembangan seni rupa, menjadikan semakin sulit dalam membaca generasi. Tetapi mungkin, justru kondisi ini memicu sikap kritis dalam perlu atau tidaknya, dan bagaimana mencatat generasi. Perubahan ini tentu banyak dipengaruhi perkembangan teknologi informasi, di mana setiap seniman kini bebas mengakses dan menjadikan dirinya sebagai subjek dimanapun ia ingin berada sesuai pilihan. Karya-karya yang berhasil dipamerkan dalam kesempatan ini kebanyakan merupakan narasi personal yang memuat dialektika perupa dengan dunia global yang dihadapinya.

Dalam buku populer khas generasi milenial “Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat” karya Mark Manson, dikatakan bahwa, “Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda.” Kunci untuk kehidupan yang baik, bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting. Tanpa berlebihan menggapai cita-cita besar yang menjadi keinginan orang banyak, sikap perupa muda dalam pameran “Ring Road” ini menjadi bermakna oleh karena dapat melakukan hal yang sederhana dan konkrit. Dengan membuat lingkaran kecil melalui pameran bersama justru menjadi kontribusi penting sebagai pemuda, sebab di waktu yang bersamaan, banyak anak muda tidak melakukan apa-apa.

 

Huhum Hambilly

Yogyakarta, 2 November 2018