Sangkring Art | Blog Large Image Whole Post
18956
page-template,page-template-blog-large-image-whole-post,page-template-blog-large-image-whole-post-php,page,page-id-18956,page-child,parent-pageid-1815,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive

[Exhibition] Pameran Tunggal Nyoman Erawan “Rekakara Pangurip Bumi”

Pada sosok Erawan,  komponen-komponen tradisi (termasuk religi), modernitas dan seni rupa mengalami konvergensi. Ketiga pokok tersebut menjadi keseharian Erawan. Bukan hal yang mudah menyatukan aspek tradisi yang komunal dan modernitas yang individual. Namun tegangan antara keduanya justru menjadi bahan bakar bagi gagasan kesenian Erawan dalam karya-karyanya. Keberadaannya sebagai seniman kontemporer merupakan penanda Erawan adalah individu modern yang juga mementingkan identitas dan ekspresi (-seni) personal. Bahwa identitas personal tersebut tetap berkait dengan komponen dan permasalahan tradisi menunjukkan bahwa Erawan berada dalam situasi post-tradisi.
Gagasan Pengurip Gumi, berangkat dari pakem upacara tradisi agama Hindu-Bali mengenai ekosistem alam yang tidak lagi berada dalam keseimbangan. Saat ini kondisi bumi memang berada dalam kondisi kritis dikenal sebagai era Anthrophocene, yaitu era geologi atau bumi karena pengaruh cara hidup manusia modern. Umumnya manusia tradisi menempatkan dirinya sebagai bagian dari alam, sementara manusia modern melalui teknologi berkehendak mengeksploitasi alam. Dalam karyanya Erawan menampilkan tegangan antara yang tradisi dan yang modern. Simbol-simbol tradisi ditampilkan melalui material masa kini (alumunium dan cat candytone). Alumunium yang penyok di sana-sini, dengan tatahan pola tradisi serta cipratan, sapuan dan lelehan cat candy menjadi paduan ketegangan visual. Tampak menyatu, namun menyisakan “pertanyaan.” Dapat kita rasakan di balik “keindahan” karya-karya Erawan, tersimpan narasi “kerusakan”, “ancaman” dan “destruksi”.
Seni rupa kontemporer terutama merepresentasikan kondisi masa kini (the quality of being current or of the present).  Gagasan dan karya-karya Erawan dalam topik Rekakara Pengurip Gumi sangat relevan dengan situasi manusia dan bumi saat ini. Erawan menawarkan nilai dan kearifan tradisi dalam konteks masa kini, menjadi bagian dari modernitas post-tradisi, katakanlah modernitas lokal ala Bali.  Harapannya, melalui pendekatan post-tradisi, praktik dan daya kreatifitas para seniman Bali bisa tumbuh lebih subur serta memberikan refleksi kritis dan kontributif bagi perubahan dunia, baik lokal dan global yang lebih baik.

[Exhibition] Sanggar Dewata Indonesia (SDI) “Rethinking”

 

Rethinking
Diaspora Kala Patra of SDI

“Semuanya masuk dan tidak ada yang diam,
Anda tidak dapat melangkah dua kali ke sungai yang sama,
Bahkan materi yang paling tenang terdapat aliran serta gerakan yang tidak terlihat.”

Heraclitus (540-475 SM)

 

poster merah

Rethinking Diaspora Kala Patra, bermakna memikirkan kembali; mempertimbangkan ulang proses perjalanan 51 tahun Komunitas seni Sanggar Dewata Indonesia, terkaitan dinamika seni dan produk pengetahuan dengan alur masa transmisi tradisi, batas-batas geografi, persilangan budaya, hingga reinterpretasi dan rekontekstualisasi estetika seni diaspora Bali di Yogyakarta. Perupa SDI, melahirnya kultur baru dalam identitas kesenian diaspora Bali sebagai akibat dialektika ‘nilai-nilai’ budaya Bali dengan atmosfer budaya setempat (medan seni rupa Yogyakarta-nasional-global) sehingga ‘seakan-akan’ menyiratkan model penyembunyian identitas kesenian dan representasi ke-Bali-annya melebur bersama identitas kultural lainnya. Benarkah demikian? Kehadiran medan seni kontemporer mematik ‘memori-ingatan tradisi’ diaspora Bali ke arah dialektika ‘pos-tradisi’ Bali yang bersilang dengan dengan konsep ‘tempat dan kondisi’ dari era kontemporer yang bersangkutan. Kebudayaan hibrid hari ini bergerak ulak-alik ke masa lampau, kini, dan proyeksi masa depan, dengan penyerapan aspek-aspek ‘ideologi-identitas’ hingga membongkar kelaziman transmisi nilai yang biasanya diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam aspek visualitas,  bentangan proses kreatif berpuluhan tahun di tanah Jawa, seniman diaspora Bali di Yogyakarta memunculkan identitas kebudayaan baru, utamanya dalam lelaku berkesenian  dengan tampilan visualitas sederhana/minimalistik (dibandingkan dengan gaya lukisan tradisional dan modern Bali),  paradigmatik konsepsi kontekstual, sensibilitas eksplorasi transmedia dengan hibridasi nilai-nilai budaya lokal (tradisi Bali dan lokalitas Nusantara), modern, dan kontemporer. Hal ini menegaskan bahwa visualitas seni rupa Bali ditangan seniman diaspora Bali di SDI akan terus bertumbuh dan berkembang dinamis, mengubah dan beradaptasi atas konstelasi ruang, waktu, dan situasi tanpa kehilangan makna nilai-nilainya yang hakiki. Tentu tumbuhnya kesenian Bali dilandasi oleh kedalaman pemahaman dan praksis sehari-hari berdasar atas filosofis nilai-nilai agama Hindu-Bali. Nilai-nilai praktis dan normatif kesenian tersebut tentu sudah lama ada dan mengendap dalam kedirian falsafah lokalitas seniman Bali.
Momentum estetika keberagaman visual seniman diaspora SDI sebagai ruang dialektika, rethinking kontekstualitasnya bisa dilacak dalam pajangan karya-karya di sejumlah pameran seni rupa dan arsip katalogus pameran SDI seperti (beberapa diantaranya):  32 Tahun Kebersamaan Sanggar Dewata Indonesia (2003), Termogram: Mengukur Suhu Kreatif SDI (2004), Reinventing Bali (2008), SDI Now (2008), Vibrant Vision of Lempad (2012), Tribute to The Maestro I Nyoman Gunarsa (2017), Partitur (2017), Proud to be an Artist (2018), Samasta (2019), dan yang terkini Rethinking Diaspora Kala Patra of SDI (2022) yang melibatkan 31 seniman SDI di Sangkring Art Space-Yogyakarta. Performa lanskap kreativitas seni seniman SDI yang lebih spesifik tercatat dalam pameran-pameran seni rupa yang aktif diadakan oleh ranting-ranting kolektif SDI dari kelompok-kelompok angkatan mahasiswa seni rupa dan media rekam ISI Yogyakarta maupun pameran tunggal eksponen SDI.
Dinamika rethinking diaspora Bali mempertimbangkan keniscayaan terjadinya medan tafsir hingga rekontekstualisasi ‘the past & today’ tanpa merusak-leburkan atau terlepas seutuhnya benang merah konsepsi filsafat lokal Bali, namun mentransformasikannya ke dalam berbagai kemungkinan artistika di medan seni rupa kontemporer. Sikap kritis memaknai ‘re-thinking’ menjadi tindakan reflektif yang harus terus menerus dilakukan oleh seniman diaspora Bali. Memikirkan ulang, dan menandai pengetahuan atas pengalaman diri/kolektif sosial terhadap respons zaman adalah cara bertahan hidup/survival dan membangun eksistensi berkesenian.  Pergerakan seni seniman diaspora SDI yang konsisten dalam ruang dan waktu yang cukup lama, akhirnya menemukan struktur baru kesenian, yang tercatat dengan sebutan seni rupa kontemporer (Bali). Alhasil, struktur bangunan seni tersebut sudah menjadi ‘newly-established art practice’, menyublim sesuai dengan idiom dan paradigma ideologis zaman terkini. Terlepas dari sebutan yang sangat etnisitas tersebut, kontribusi utama dari visi pergerakan seni komunitas seni rupa SDI adalah membangun identitas multikultural seni yang berpijak pada kedalaman nilai-nilai lokalitas dan konteks zamannya, dalam relasi wacana keberagaman estetika seni rupa kontemporer Indonesia. Diaspora Kala Patra seniman SDI tidak sekedar entitas personal yang berkumpul-berserikat, berproses seni dan bergaul di seberang tanah Bali, tapi mereka meracik formula baru dengan bahan suci spirit warisan leluhur Bali, memperkaya benteng filosofis kultural Bali dengan ragam estetika cipta, rasa, karya sesuai dengan falsafah Desa Kala Patra.
Oleh karena itu, pikiran saya adalah sekiranya menantang untuk membayangkan bagaimana seniman Diaspora Bali (di wilayah manapun dia berada) yang terikat atas “identitas ideologi Bali” aktif ‘memberontak-melompat’ sebagai ruang introspektif geopolitik-ajeg  (tradisional) Bali; berbekal memori-ingatan tradisi, bersenggama dengan realitas produk budaya luar Bali, melahirkan hasrat otensitas seni baru yang diciptakan dengan mendefinisikan ulang inti sari formula filosofis Bali; berpikiran terbuka dan kritis, percaya diri, adaptif, teratur, dan berwawasan keluar; mengembangkan suatu gagasan yang lebih dinamis tentang kesenian mereka hari ini yang menawarkan peluang bagi hibriditas dan dimensi-dimensi transnasional-global sebagai representasi estetika kontemporer seniman diaspora/perantauan Bali.

Selamat menikmati lanskap Rethinking Diaspora Kala Patra of SDI.

 

I Gede Arya Sucitra
Anggota SDI & Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta

[Exhibition] Yogya Annual Art #7 “Flow”

― The act of living is the act of flowing (Masaru Emoto).
Kreativitas dapat digambarkan sebagai flow. Ia serupa air yang mengalir. Capaian atasnya dapat dilakoni bukan dalam kondisi hidup nyaman, berleha-leha, atau enak-enakan, melainkan dalam sebuah tensi dan intensitas. Sebab aktivitas estetis selalu melibatkan tantangan kreativitas yang tidak mudah. Hanya melalui tegangan dan keintensifan, perhatian seorang seniman dapat sepenuhnya “terserap” ― suatu kondisi yang dalam perspektif psikologi disebut sebagai pengalaman-mengalir (flow-experience). Pada fase inilah proses kreatif seorang seniman betul-betul mengalir.
Dengan kodratnya yang mengalir, merujuk kepada Carl G. Jung, air merupakan salah sebuah arketipe atau simbol arkais universal. Ketika filsuf Heraclitus merumuskan adagiumnya, panta rhei (segalanya mengalir, berubah), dia tentu sembari membayangkan kehidupan seperti air atau sungai yang tidak pernah tetap. Agaknya, begitu pun Sunan Kalijaga ketika merenungkan problem yang sama: anglaras ilining banyu, angeli nanging ora keli (selaras dengan aliran air, mengalir tetapi tidak hanyut). Air dengan kodrat dasarnya yang mengalir adalah simbol pokok kehidupan.
Walau demikian, flow itu sendiri menyisakan ambiguitas. Ia bisa ditafsirkan sebagai ‘mengalir’ atau ‘aliran’. Dalam rentang tafsiriah ini ― tegangan di antara kata kerja dan kata benda, dinamika (proses) dan statika (keadaan) ― dapat kita cermati sebagian besar karya dalam YAA #7. Secara langsung Irwandi, Pupuk DP, dan Iabadiou Piko mengajak kita ke dalam citra-citra tentang perubahan lewat metafora mengalir yang parodik, meleleh, atau bergelombang. Kana Fuddy Prakoso dan Taufik Ermas demikian pula, namun melalui presipitasi dan osmosis. Dian Anggraeni menambahkan intensitas metaforis dengan perahu, rentang tangan serupa cakrawala, dan keluasan langit. Agus Baqul Purnomo dan Riduan menyentuh ranah yang sama, namun secara tidak langsung, melalui pantulan (refleksi). Proses dinamis ini dihampiri pula oleh Katirin, Joni Ramlan, Suharmanto, Elka Alva Chandra, dst. Oscar Motuloh dan Dipo Andy sekaligus menambahkan dimensi makna ironis ketika flow menjelma wolf, bagi yang pertama, dan keceriwisan media sosial, bagi yang kedua. menyentuh ranah yang sama, namun secara tidak langsung, melalui pantulan (refleksi). Proses dinamis ini dihampiri pula oleh Katirin, Joni Ramlan, Suharmanto, Elka Alva Chandra, dst. Oscar Motuloh dan Dipo Andy sekaligus menambahkan dimensi makna ironis ketika flow menjelma wolf, bagi yang pertama, dan keceriwisan media sosial, bagi yang kedua.
Secara intermedia Soni Irawan menerjemahkan bunyi-bunyi musikal, yang niscaya mengalir, ke dalam jejak-jejak visual, khususnya paralelisme dan repetisi. Sementara lingkup ungkap perupa yang lain menjangkau jejak-jejak aliran. Citra Sasmita dan Ayu Rika merunut jejak itu ke dalam fase-fase kritis daur-hidup manusia. Laila Tifah memosisikan sungai sebagai metafora kehilangan. Beatrix Hendriani menyikapi dinamika datang-perginya peristiwa. Hari Budiono menangkap momentum singkat di jalanan yang mengingatkan pada fenomena puisi mbeling yang sarat humor, sedangkan Raka Hadi permadi sebuah momen doa yang khusuk mengalir. Nindityo Adipurnomo, dalam sebuah mediated performance, masker-masker jumbo, rudal-rudal, dan ranting, memberikan respons ketubuhan atas gejolak konfliktual dalam konteks ekonomi-politik global semasa pandemi. Dan, tentu saja, Nyoman Erawan melalui special project-nya bakal menyerap kita secara total, memasuki proses ritual purifikasi pengurip gumi, untuk memulihkan kesucian dan keselarasan kosmik.
Jikalau ada satu titik fokal yang hendak dikedepankan lewat pilihan tematik ini, ia adalah impermanensi. Segalanya mengalir, mulai dari energi, cahaya, ruang-waktu, hingga sejarah, kesadaran, bahkan non-aksi dalam filsafat Tao ― pendeknya, sejak dari fisika sampai dengan metafisika. Betapa gagasan-gagasan dan imajinasi kita mengenai segenap sisi kehidupan niscaya bergerak! Ad infinitum (cf. Danni Febriana). Tiada yang tetap, bahkan pandemi sekalipun. Keep on flowing! (Kris Budiman)

[Pameran] MengAlir

MengAlir: Memori atas Jejak Historis yang Majemuk

MengAlir secara praktis dapat diartikan sebagai ihwal apapun yang tak statis, jika itu gerak maka ia dinamis, jika itu air maka ia dapat turut menerobos merasuk pada tiap bagian ruang, ruang dalam konteks imajinasi dalam kerja-kerja seni lukis cat air. Lebih jauh lagi menjadi spirit upaya praktik berkarya yang memiliki bentang panjang, terus mengalir sampai jauh, tak enggan menilik ke belakang, memunculkan memori-memori personal tentang identitas kebudayaan dan sejarah sebagai upaya melihat, merasakan, atau bahkan dengan kemampuan artistik dan estetiknya, perupa dalam praktiknya sebagai laku mengkonservasi warisan kebudayaan lewat goresan-goresan cat air.

Empat pelukis cat air, Made Sutarjaya, Ngurah Darma, Nanang Widjaya, dan S. Yadi K hadir menggunakan cat air sebagai medium yang paling fundamental dalam praktik berkarya. Praktik melukis cat air sendiri telah menangkap imajinasi para pelukis selama berabad-abad. Menilik ke belakang, di Mesir cat air mendapat popularitas yang luas yakni pada praktik melukis pada media kertas papirus, sementara di Cina pada media kain sutra kemudian secara bertahap berkembang menjadi media kertas. Di Eropa lukisan cat air muncul selama periode Renaissance seiring dengan perkembangan teknologi kertas.

Sekiranya pada tahun 1700-an cat air menjadi populer dan mapan sebagai media artistik dalam seni rupa Barat. Misalnya, J.M.W. Turner, Thomas Girtin, hingga Paul Cezanne. Di Indonesia kita mengenal pelukis Mohammad Toha yang pernah menggunakan cat air sebagai medium dokumentasi visual yang saat itu terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda ke-II di Yogyakarta yang sempat menggunakan teknik lukis cat air on the spot untuk membuat dokumentasi visual peristiwa bersejarah tersebut. Selain itu Wakidi, Kartono Yudokusuma, Lee Mang Fong sebagai seniman yang kerap mengeksplore cat air dan kertas, hingga Bung Karno muda pun turut memproduksi lukisan cat air semasa kuliah sekiranya pada tahun 1926 berjudul Lanscape in West Java.

Sebagaimana sketsa, pada awalnya melukis dengan cat air banyak digunakan seniman sebagai sarana gambar studi tentang anatomi manusia, flora, fauna dan alam. Pada saat yang sama, Penggunaan media cat air juga kerap dijadikan media yang praktis untuk melakukan on the spot, maupun on the studio oleh keempat pelukis cat air pada pameran MengAlir ini.

***
Sutarjaya pada 4 seri Purnama misalnya, lewat visual tarian Legong Condong dan Tari Oleg ia menyodorkan perasaan ingin melestarikan budaya salah satunya adalah tarian, tarian menjadi hiburan yang dekat dan inklusif pada diri Sutarjaya sebagai masyarakat bali. Figur-figur anatomis menjadi penanda bagaimana logika bentuk terjadi, lekuk dan lenggam bentuk tubuh, ekspresi keindahan, kencantikan, dan ketenangan pada paras perempuan. Bulan purnama keemasan tidak seterik matahari sebagai penanda kehidupan yang penuh keteduhan dan kedamaian. Perempuan menjadi figur dominan yang sangat ekplisit tampak pada seluruh karya-karya Sutarjaya, pemaknaan lebih intim terjadi pada representasi dari figur perempuan sebagai memori atas seorang ibu baginya.

Pada Pura Taman Ayun dan Memasak Gula di Desa Pegringsingan, Ngurah Darma menyandarkan tema-tema keseharian yang kerap dilihat sebagai gagasan kreatifnya. Ngurah Darma dengan sengaja menyodorkan situasi dan aktivitas dari tampak belakang dari aktivitas keagamaan yang kultural, ia mengambil sudut-sudut yang tidak biasa diambil. Baginya menangkap visual apa yang dilihat dengan cara melukis sebagai ajang dialogis atas situasi, ruang, bentuk, dan objek-objek di depan mata.

Sementara Nanang Wijaya menitik beratkan pada aspek visual dan historis bangunan heritage sebagai jejak sejarah peninggalan kebudayaan indis yang saat ini masih ada, sekaligus popular. Bangunan peninggalan era kolonial di Jawa misalnya, Gedung Monod Diephuis Kota Lama Semarang, Sudut Kota Lama Pasar Pecinan, menjadi gambaran pertarungan politik, pertaruhan identitas, negosiasi kultural, hingga akulturasi budaya dalam konteks Masa Kolonial di Indonesia. Pada Sudut Tugu Jogjakarta, Nanang sandarkan pula bagaimana bangunan heritage bukan saja sebagai bangunan atas hasil persentuhan Belanda di Yogyakarta, tetapi lebih dalam lagi memiliki nilai historis dan magis yang kerap dipercaya  sebagai titik sumbu garis imajiner antara utara pada Gunung Merapi, hingga sisi ujung pantai Selatan.

Sedangkan S. Yadi K, menyoroti masyarakat yang kerap dianggap publik sebagai kelas yang marjinal. Menjadi menarik pada momentum kali ini, tiga dari empat karyanya yakni Tertegun, Ku tertawaiku, Dekapan Kasih, merupakan sosok yang baru kali ini sengaja ia hadirkan, tentu ini merupakan visual yang sama sekali berbeda dari apa yang menjadi visual yang biasa ia ciptakan yakni penari dan objek-objek yang Jawasentris. Sosok itu adalah figur anak Papua, terdapat narasi kemanusiaan di sana. Darinya narasi dan visual atas wajah polos, dan apa adanya memancarkan masa depan yang menjadi hak setiap orang. Sebagai identitas karakteristik karya-karya lukisnya. Lukisannya memiliki bobot secara teknik dan medium yang saling silang, bertumpang tindih, bergelut dengan proses eksperimental. Darinya Yadi menciptaan karya dari hasil pengembangan medium cat air diwujudkan yang tidak saja dari kertas tapi juga ke medium lain seperti kanvas, kaca, akrilik, hingga krayon yang memunculkan efek sumamburat aquarelle cat air miliknya.

Dalam konteks spirit keIndonesiaan, tema-tema yang dibangun keempat pelukis mewujud dalam visual yang dapat ditengarai sebagai identitas local wisdom, selain melukis apa yang terlihat, di saat yang sama pula pemikiran kritis atas keprihatinan terhadap lunturnya kebudayaan, tradisi, hingga jejak-jejak warisan budaya hadir dalam diri seniman.  Jejak itu bagai kolase-kolase kebudayaan yang tak lain adalah hasil dari peran penting pertarungan sejarah bangsa Indonesia, di saat yang sama pula terdapat titik-titik persinggungan baik secara kebudayaan dan juga kepercayaan yang kemudian mampu mewujudkan apa yang disebut adaptasi terhadap pengaruh budaya, akulturasi, hingga inkulturasi yang saling menubuh.

Dengan cat air, visual dan makna menjadi majemuk-menimbulkan makna baru, lebih intim dan kultural, setidaknya bagi masing-masing diri pelukis. Padanya unsur cat, air, dan kertas sudah menjadi segmen-segmen penting bukan saja atas jejak historis, merawat identitas budaya, tetapi juga nilai solidaritas, dan epistemik humanisme melalui praktik seni rupa.

Karen Hardini
Sleman, 8 April 2022

[Exhibition] “Belantara Kaca”, Ivan Bestari Minar Pradipta

Lebih dari itu, Ivan juga tampak asyik mengeksplorasi kemungkinan kinetik karya-karya seni kacanya, terutama patung-patung kaca mini, melalui permainan cahaya dan bayangan yang dia proyeksikan ke permukaan dinding galeri. Belantara kaca Ivan, saya yakin, masih penuh dengan peluang dan tantangan, petualangan kemungkinan lain yang menantinya di depan.

(Kris Budiman)

 

 

Katalog

[Exhibition] “Dry Rain”, Made Wianta

 

DRY RAIN
Karya-karya terakhir Wianta adalah obsesinya tentang pertukaran Pulau Run di Banda Maluku dengan Manhattan yang tadinya dikuasai Belanda dan diberi nama New Amsterdam. Karena keinginan Belanda menguasai Pulau Rempah-rempah maka Manhat tan dia tukar dengan Pulau Run yang waktu itu dikuasan English.
Karena pertukaran ini Manhattan/New Amsterdam dimiliki English dan diubah nama menjadi
New York.

Wianta berpikir berapa tinggi nilai Pulau Run hingga ditukar dengan New
York, pada abad ke 16. Pada waktu Wianta berkunjung ke Pulau Run Maluku, dia bertemu dengan petani petani Pala, Wianta merasa heran karena ditanah yang begitukering Pala tumbuh dengan subur. Menurut petani petani disana jika musim hujandating, maka hujan yang turun tajam tajam seperti jarum dan langsung menghujanitanah.
Dari situlah lahir karya Dry Rain/Hujan kering, sebuah Puisi tentang alam yang melindungi kelestarian dan keindahan Pulau Run di Maluku. Wianta juga terkesan dengan Benteng yang dibuat begitu kokoh dan juga Gereja yang mirip Gereja-gereja di Eropa. Wianta meskipun Hindu selalu mengagumi salib Kristus (cross) yang menurut
dia ini adalah Sacrifice/Pengorbanan/Yadnya untuk menebus segala kesalahan umat
di dunia.
2 karya instalasi ini merupakan highlight pameran Wianta di JAA ke 6 di Sangkring Project.
Diruangan bentuknya adalah karya karya yang menggambarkan keindahan alam bawah laut di Pulau Run Banda, terumbu karang CORAL REEF. Yang dibuat sangat minimalis dengan warna warna pastel, bebatuan dan binatang laut yang seperti warna warna indah Rainbow dikedalaman laut Banda.
Wianta selalu suka berpameran di Jogja tempat dia memperdalam ilmunya di ASRI
Jogja. Jadi dia ingin berbagi proses dan teknik menuju terciptanya Spatial Calligraphy,
Coral Reef, dan Mosaic. Jadi pada exhibition ini dia tampilkan dua karya drawing (UNTITLE) tapi bias juga disebut The Drawing Leading toward to the spatial callihraphy, coral reef dan mosaic. Dua karya drawing diikuti tiga karya seri Spatial Calligraphy yang mendasari Coral Reef dua dimensi dan tiga dimensi dan karya karya Mosaic.
Semoga pameran ini bias membawa sedikit angin segar dalam masa pandemic.
Dirangkai oleh Emma Sukarelawanto
Dari wawancara dengan Dr. Urs Ramseye

 

 

[Exhibition] “DOA”, Theresia Agustina Sitompul

DO’A. Sebuah pameran tunggal karya Theresia Agustina Sitompul atau yang lebih kita kenal dengan nama panggilan Tere. Pameran akan berlangsung di Sangkring Art Project dan menjadi bagian dari program  “Single Fighter #5”. Tere, lahir di Pasuruan (1981), dikenal sebagai perupa yang berani melakukan eksplorasi pada penguasaan teknik, material dan cara menghadirkan karya. Tere juga secara konsisten menghadirkan  pengalaman-pengalaman yang dekat dengan kesehariannya tetapi mempunyai relasi kuat dengan isu-isu seputar lingkungan hidup, persoalan sosial politik dan kesetaraan. Dengan menggunakan teknik drypoint di atas plat galvalum, Tere mengekspresikan suatu laku spiritual yang menjadi bagian dari pengalaman  hidupnya dalam 40 karya dengan nuansa hitam putih serta beberapa karya berupa teks. Pada karya-karyanya kita dapat melihat suatu proses kreatif yang kemudian menjadi laku spiritual Tere untuk bertahan menghadapi situasi-situasi pelik dalam hidupnya. Sesungguhnya apa yang dilakukan Tere melalui karyanya juga dapat menjadi refleksi bagi banyak orang ketika menghadapi ketidakberdayaan, maka DO’A menjadi sumber kekuatan. Pada hari-hari ini dalam situasi yang tidak menentu mendorong manusia untuk meminta pada kekuatan di luar dirinya agar diberikan ketenangan dan kekuatan menghadapai krisis. Dengan berdo’a kita sebagai manusia menyadari keterbatasan dan kelemahan kita. Di sisi yang lain kita juga sedang berkomunikasi dan menghadirkan diri kita secara jujur kepada yang memiliki kendali atas hidup manusia. Dalam do’a ada segenggam harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Pembukaan : 14 September 2021 (Undangan)
Jam : 15.00Wib

Di Sangkring Art Project
Jl. Nitiprayan No.88. Sanggrahan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY

Pameran berlangsung :
15 – 28 September 2021 (Publik)

Registrasi : https://tinyurl.com/VisitYAA6

Narahubung :
Jenny (+62 817-262-328 )
Miu ( +62 821-3841-3746 )

Sampai berjumpa dan selalu taati prokes