Sangkring Art | Blog Large Image Whole Post
18956
paged,page-template,page-template-blog-large-image-whole-post,page-template-blog-large-image-whole-post-php,page,page-id-18956,page-child,parent-pageid-1815,paged-19,page-paged-19,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

SUMARAH by Doni Kabo @Sangkring Art Project

Pembukaan : Kamis, 12 Mei 2011, Jam 19.00 wib
Pameran dibuka oleh : Bob Six Yudhita
Performance : Pinx Cobra, Latex

Diskusi seni : Jumat, 13 Mei 2011, Jam 15.00
Pameran berlangsung : 12 – 20 Mei 2011

‘sumarah’ dan Liminalitas
Hendra Himawan*

Jarak dan Kerudung
Perempuan itu tampak begitu mencermati dot bayi (tempat minum susu bayi) di hadapannya, mengisyaratkan sebuah intensitas perhatian yang begitu kuat diantara keduanya. Namun mengapa mesti ada jarak diantaranya? Meminjam semiotika Barthes dalam second order semiotic, mungkinkah ada sesuatu yang terjadi antara perempuan dengan dot ini, antara seorang ibu muda dengan bayinya? Andaikan melihat atribut yang dikenakan, tentunya perempuan ini bukanlah perempuan yang biasa, atau ibu rumah tangga yang banyak menghabiskan waktu di sumur dan dapur. Gelang beruntaikan mutiara berikut jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, setidaknya mengisyaratkan sosok perempuan yang ‘berada’, mungkin juga seorang perempuan karier.
Dilema perempuan seakan tertangkap lugas dalam karya-karya ini. Problematika diri ketika dihadapkan pada pilihan antara bekerja dan mengurus buah hati, dihadirkan dalam kadar yang sangat kuat. Bagaimana jarak yang hadir diantara dua objek (figur perempuan dan dot) tersebut, memicu perhatian kita untuk melihat dilema itu sebagai sebuah realita yang nyata hadir, sebuah pilihan yang begitu berat tentunya. Disatu sisi ia harus bekerja mencari sekaleng susu, di sisi lain buah hatinya ‘menuntut’ tanggung jawab seorang ibu. Dualisme peran inilah yang memungkinkan lahirnya gesture maupun atribut yang mencerminkan identitas tertentu. Singlemother, mungkin adalah identitas yang dapat kita sematkan pada figur perempuan dalam karya-karya ini.
Di tengah kegamangan dan dilema yang begitu kuat, pasrah dan menyerah terkadang menjadi sebuah jalan ringkas yang kemudian dipilih. Berpasrah diri pada kenyataan yang ada, sedikit mencoba bangkit, kemudian berlari mencari sandaran. Hal ini adalah upaya-upaya untuk memahami wilayah kesadaran diri dan eksistensi lain diluar dirinya, maka dikenakanlah kerudungnya. Kerudung dimaknai sebagai sebuah penghormatan akan eksistensi Ketuhanan, sebuah kesadaran akan adanya dimensi lain yang mengatur manusia.  Kerudung telah menjadi simbol kebaikan dan ketaatan terhadap sebuah keyakinan. Hampir semua agama menggunakan dan menghormatinya sebagai simbol pakaian yang agung, meski tidak semua menetapkannya sebagai kewajiban.
Membaca gerak dan narasi emotic yang dihadirkan ataupun sebagaimana yang dipaparkan diatas, keberadaan kerudung yang dikenakan sang perempuan sesungguhnya merupakan bentuk ke’sumarah’an dirinya. Sumarah (bahasa jawa) berarti kepasrahan, menyerah. Meminjam istilah Umar Kayam dalam Sri Sumarah dan Bawuk (1975:12), “sumarah” adalah menyerah pasra, tetapi “sumarah” (menyerah) tidak berarti diam saja. Menyerah disini berarti mengerti dan terbuka, tetapi tidak menolak. Dalam karya-karya ini, kerudung sekan menegaskan dirinya menjadi simbol kepasrahan diri perempuan, yakni bersandar pada atribut keagamaan.

Ambang
Memandang semua karya Doni Kabo dalam Pameran Tunggalnya yang bertajuk “Sumarah” di Sangkring Art Project, kita akan di ajak untuk menyelami dunia ambang. Figur perempuan yang dihadirkan  oleh Kabo merupakan individu yang , dalam istilah Victor Turner (1967), berada dalam wilayah liminal dari dua dunia yang mereka geluti, baik dunia kultural maupun dunia sosial. Liminalitas dihadirkan Kabo dalam tensi yang begitu kuat. Bagaimana ambiguitas “sumarah” dan paradoks antara ibu yang mungkin seorang perempuan karier dengan bayinya (yang disubtitusikannya dengan dot) dipaparkannya dalam narasi yang bisa berarti ”neither living nor dead from one aspect, and both living and dead from another“.
Beragam atribut yang disematkan dalam figur perempuan dalam karyanya,  pun, menyiratkan wajah dunia liminal. Gelang mutiara, jam tangan dan dot bayi, menunjukkan tegangan peran dan intensitas emosi tersendiri. Hadirnya kerudung yang tidak terpasang dengan baik menyiratkan asumsi dua kutub yang berlainan, budaya santri (religi) dan budaya ‘bukan santri’ (tadisi). Dari sinilah lahir  dunia ‘abangan’, sebuah dunia abu-abu, tidak hitam, pun putih. Visualitas karya yang monokromatik yang mengesankan labilitas dan keraguan, merupakan citra yang kuat akan liminalitasnya. Dunia yang kelabu, dunia ambang, dunia betwixt and between, sebuah dunia yang tanpa struktur.
Meski ranah liminal dihadirkan Kabo dengan tensi yang kuat, andai kita memandang secara keseluruhan karya-karya yang dipamerkan kita akan merasakan bahwa struktur narasi kehidupan yang membuat peristiwa dibelakangnya  terkesan rumit, menjadi  dapat dipahami karena dalam tataran dan bingkai simbolis, narasi ini dapat dirangkai mengikuti garis-garis penalaran yang berada pada tataran nirsadar sekalipun.
Dalam perspektif nalar jawa (Javanese Mind) -perkenankan penulis menggunakannya- melihat karya-karya ini tampak sebuah konsepsi atau cara nalar “orang Jawa” menampilkan kelenturan, tatanan (order) serta pandangan bahwa segala sesuatu harus temata (tertata). Dan ketertataan ini mempunyai tiga komponen yaitu kesatuan (unity), kesinambungan (continuity) dan keselarasan (harmony), dan inilah yang ingin diungkapkan oleh Kabo lewat karya-karyanya. Bagaimana kesatuan tematik hadir dalam masing-masing karya, kesinambungan narasi yang diusung, dan keselarasan makna hidup yang menjadi landasan spiritual tergelarnya pameran “sumarah” kali ini.

*Penulis adalah rekan seniman di kampus Pascasarjana ISI Yogyakarta, tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Image karya
[nggallery id=20]

Super Semar by Yaksa Agus @ Sangkring Art Project

Pembukaan : Jumat, 18 Maret 2011, Jam 19.00 wib di Sangkring Art Project
Pameran di buka oleh : Bapak Ridwan Mulyosudarmo
Performance : Tauzi’ah Budaya Oleh Nasirun; Goro-goro oleh Jatilan Conthong


SUPER SEMAR
Yaksa Agus.

Bukanlah Super Semar  yang merupakan kepanjangan dari ‘Surat Perintah Sebelas Maret’, yang  45 tahun silam hingga kini tetap menjadi mistri dan kontroversi.

Tetapi Super Semar di sini adalah bagaimana saya mencoba memaknai ‘Rakyat yang Super’. Jadi Super Semar adalah Super Rakyat atau Rakyat yang Super.

Setiap Rakyat pada hakikatnya adalah juga perwira pembela tanah air, karena setiap Rakyat mempunyai kewajiban untuk membela tanah air.

Konon sejarah Super Semar ; surat perintah sebelas maret yang akhirnya mengantar soeharto menjadi Presiden Indonesia . dan bahkan hingga berkuasa selama 32 tahun.

Bahkan Super Semarpun menjadi propaganda selama pemerintahan soeharto, dengan mendirikan yayasan super semar , yang memberikan Beasiwa Super Semar  bagi siswa sekolah menengah dan mahasiswa yang berprestasi. Walaupun  sejarah Super Semar ini sangat kontrofersi , super semar tetaplah telah memberikan  andil besar dengan mengantar para siswa dan mahasiswa yang super dalam menempuh pendidikan.

Bahkan Beasiswa Supersemar tetaplah akan menjadi kebanggaan bagi para penerimanya.

Dan Bea siswa supersemar itupun menghilang setelah lengsernya soeharto di tahun 1998.

Sesungguhnya  jika kita  Soeharto di tahun 1966 adalah seorang rakyat yang super , yang mendadak seolah memberi solusi sebuah perubahan, walaupun lambat laun dari periode ke periode berikutnya Soeharto pun    tergoda oleh naluri primitive  hagemoni kekuasaan. Walaupun sebenarnya naluri primitive itu tumbuh subur selama 32 tahun karena di pupuk oleh lingkungan,kroni, dan jaringan yang mengkondisikan.

Dan hingga di Tahun 1998 munculah Rakyat- rakyat yang Super bagaikan SEMAR yang mampu menggulingkan soeharto dari tahta kepemimpinan. Dan naluri primitive kekuasaan itupun terulang dan terulang lagi hingga saat ini, dan bahkan di rayakan dan di syukuri bersama.

Pada karya-karya lukisan saya  seri super semar yang saya pamerkan di Sangkring Art Project pada 11 maret-11 april 2011 ini adalah  gambaran tentang Rakyat yang Super, yang memiliki kekuatan dan keberanian untuk tampil  memberi kontribusi pada lingkungannya. Dan saya meminjam bentuk visual perangko untuk menterjemahkan  karya –karya saya tersebut.

Kenapa Perangko? Karena perangko adalah salah satu alat penghubung atau alat penghantar  komunikasi  dari kota yang satu ke kota yang lain , serta dari negara yang satu ke negara yang lain. Dan ketika sebuah surat atau benda yang lain akan dikirim via post , tentunya akan ditentukan harganya dengan perangko, yang sekaligus akan masuk dalam ruang deteksi sensor sebelum dikirim ke alamat yang di tuju.

Dan sesungguhnya gambar-gambar visual perangko adalah salah satu dokumentasi visual  sebuah sejarah,budaya,peristiwa hingga kekayaan alam yang di miliki oleh suatu negara.

Perangko pun saat ini nyaris tinggal kenangan, karena komunikasi saat ini sudah di wakili oleh alat-alat yang lebih cepat dan murah dengan munculnya  Handphone dengan vasilitas SMSnya, internet dengan Email hingga Face book.

Bercermin pada falsafah Semar, Semar adalah  gambaran sosok  seorang  Rakyat dalam  pewayangan : seorang Rakyat yang mempunyai keberanian untuk mengungkapkan suara kebenaran , dan berani untuk menyampaikan suara kebenaran di kala para pemimpin telah salah langkah.

Banyak orang yang sering menyuarakan kebenaran, bersikap dan bertingkah seolah-olah jelmaan Sang Semar, mengkritik sikap penguasa dengan kerasnya dan rajin mencari kelemahan sang penguasa.

Mereka bersikap seolah-olah menjadi penyambung lidah Rakyat dan kalimat-kalimat kerakyatan menjadi komoditi bagi dirinya sendiri. Akan tetapi jika telah nyaris ada hasil dari yang diperjuangkan, sering lupa diri dan melupakan apa yang pernah diperjuangkan. Egoisme akan kekuasaan telah membayanginya dan sikap yang bagai Semar pelan-pelan menghilang.

Teriakan yang berdalih Kerakyatan itu hanyalah Slogan kepura-puraan, dan hanya untuk membungkus naluri primitive. Dan naluri primitive yang semula ditertawai akhirnya di nikmati seolah sebagai pahala dari sebuah perjuangan.

Image karya SUPERSEMAR
[nggallery id=18]

GESTICULATION by PUTU SUTAWIJAYA

GESTICULATION
oleh PUTU SUTAWIJAYA

Pembukaan : Minggu, 20 Februari 2011 Jam 19.00
Penulis : Kris Budiman, Karim Raslan
Pameran berlangsung 20 Februari – 10 Maret 2011

Kris Budiman, esais dan kritikus

Sudah semenjak awal karier kesenimanannya Putu Sutawijaya terus terobsesi dan bersitekun menyodorkan tubuh sebagai tanda-tanda melalui karya-karyanya. Tubuh-tubuh itu direpresentasikan dalam formasi tertentu, bergerak mengisi dan memenuhi ruang, yang kadang memperlihatkan pola tertentu, meskipun lebih sering menunjukkan kecenderungan acak. Kial atau gestur (gesture) menjadi salah sebuah komponen ekspresif utama Putu. Ia menjadi semacam kosakata, di samping postur, pose, gerak, arah, dan irama. Ketika representasi tubuh-tubuh itu keluar dari kanvas, masuk dan melintas ke dalam ruang tiga-dimensional, mereka seperti terlempar untuk mencari konteks-konteks pemaknaan yang berbeda, menggestikulasi diri tidak semata-mata mengikuti perubahan karakteristik materialnya.

Proses dan praktik badani memproduksi tanda-tanda melalui gestur bisa dengan jelas dianalogikan dengan tindakan memproduksi tanda-tanda lingual-akustik melalui seperangkat alat ucap. Jika yang terakhir ini biasa disebut sebagai artikulasi, maka yang sebelumnya dapat dinamakan sebagai gestikulasi (gesticulation). Di dalam gestikulasi segenap anggota badan –bukan hanya tangan, lengan, dan jemari– berubah menjadi wahana makna (vehicle of meanings), instrumen signifikasi. Para penari, aktor, dan pelaku-pelaku seni pertunjukan lainnya, niscaya menyadari hal ini ketika mereka berkomunikasi dengan dan mengekspresikan pesan tertentu kepada audiens melalui berbagai tanda gestural. Begitu pula di dalam ritual-ritual, entah yang bersifat keagamaan, kenegaraan, maupun praktik hidup sehari-hari dengan bermacam konteks situasional dan sosialnya.

Putu Sutawijaya, dengan karya-karya tiga-dimensional (patung dan instalasi) terbarunya, tetap bertahan dengan representasi tubuh dan gestikulasi, meskipun kali ini dia menawarkan konteks yang berbeda-beda demi mencapai pengucapan tertentu yang diinginkannya. “Agar tubuh-tubuh itu dapat berkisah,” ujarnya. Maka dari itu, gestukulasi tubuh-tubuh di dalam serangkaian karyanya ini menjadi lebih variatif dengan lontaran-lontaran gagasan di sekitar tegangan dan ketaksaan (ambiguity) yang menyelubungi proses-proses sejarah, kontinuitas dan diskontinuitas, tradisi dan perubahan, kepatuhan dan resistensi, juga masalah pendefinisian-ulang atas identitas-identitas kultural yang mapan. Putu Sutawijaya menyodorkan pertanyaan-pertanyaan kritisnya dengan kecenderungan gestikulasi yang keras namun rawan.

Karim Raslan, kolumnis

Tanggal 1 Desember 2005, kakek dari Putu Sutawijaya – figur pengayom keluarganya – berpulang. Ketut Mutri adalah sosok yang sangat dicintai dan dihormati di masyarakat, sekaligus orang yang begitu berpengaruh dalam hidup Putu. Setelah mengalami jatuh dan patah kaki, Ketut yang tadinya selalu aktif terpaksa diam di tempat tidur. Karena tidak terbiasa dengan keadaan ini, dalam waktu singkat kondisi Ketut Mutri merosot dan akhirnya meninggal dunia.

Untungnya, Putu (yang baru saja menyelesaikan pameran tunggalnya di Kuala Lumpur) masih sempat terbang ke Bali dan menghabiskan waktu bersama kakeknya.

Tapi, baik Putu maupun istrinya, Jenni, yang berkebangsaan Malaysia, tidak menyadari seberapa besar pengaruh kematian kakeknya ini – dan juga kremasi yang berlangsung lima belas hari kemudian – bagi kehidupan mereka, dan tentunya bagi karya-karya Putu.

Lahir dan besar di keluarga yang sangat nyaman dan berkecukupan – kedua orangtuanya adalah petani yang makmur – Putu tidak pernah terpikir untuk mempertanyakan masyarakat Bali dan segala kompleksitasnya. Seperti yang Putu sendiri bilang, “Saya ingat waktu kecil dulu suka berlari melewati lapak-lapak yang didirikan untuk upacara di kampung. Waktu orang-orang tahu siapa saya, para pemilik lapak bilang, “Dia bisa ambil apa saja yang dia mau. Keluarganya bisa bayar. Orangtua saya orang terhormat.”

Dalam dua minggu setelah kematian kakeknya, Putu merasakan hebatnya tekanan dan ketegangan dalam masyarakat Bali, ketika komunitasnya memilih untuk tidak ikut campur ketika keluarganya mempersiapkan upacara kremasi yang sangat penting .

Terasing dan terkucil, pengalaman ini mengejutkan Putu dan menariknya keluar dari sikapnya yang tak pernah mempertanyakan masyarakat Bali. Sejak itu, kepahitan di masa-masa tersebut tertuang dalam karyanya. Dalam pameran patung dan instalasinya di Bentara Budaya Jakarta, mencuat ketegangan antara ekspresi individual dan kebebasan personal di satu sisi, dengan identitas komunal yang kuat dan didukung secara penuh oleh banjar.

Karya Gesticulation
[nggallery id=17]

Opening GESTICULATION@ Sangkring ARt Space
[nggallery id=19]

ORGANIC MIND by MANTRA

“ORGANIC MIND”
Oleh : MANTRA
Pembukaan : Senin, 10 Januari 2011, Jam 19.00 wib
Pameran akan di buka oleh : Bpk. Dewa Budjana
Pameran di tulis oleh : Sugi Lanus, Luki Prang, Wahyudin
ORGANIC MIND music perform : Kamis, 13 Januari 2011, Jam 19.00
Music perform oleh : Mantra, Yonas, Wukir, NO’ART (Lombok)
Pameran berlangsung : 10 – 28 Januari 2010READ MORE

MATAHATIJOGJA

MATAHATIJOGJA
Oleh : Matahati
Pembukaan : Senin, 1 November 2010, Jam 19.00 wib
Pameran di buka oleh : Dr. Melani Setiawan, Msc
Pameran ditulis oleh : Drs. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum
Artist Talk : Selasa, 2 November 2010, Jam 16.00 wib
Pameran berlangsung : 1 – 20 November 2010

Pengantar Sangkring Art Space

Gagasan pameran Matahati ini di mulai 2 tahun yang lalu, ketika itu Bayu Utomo (salah satu penggagas Matahati) datang ke jogja dan singgah ke Sangkring.  Meskipun sempat mundur dari jadwal semula, tak menurunkan semangat kami dan kelompok MATAHATI untuk tetap menyiapkan pameran ini. Kami merasa senang dan bangga akhirnya pameran Kelompok Matahati bertajuk MATAHATIJOGJA terealisasikan di Sangkring Art Space.

Matahati yang merupakan kelompok seni di Malaysia terbentuk sekitar tahun 1990an dan melaksanakan pameran perdananya pada tahun 1993. Kala itu kemunculan Matahati dianggap sebagai pelopor seni baru, nadi seni kontemporer Malaysia. Matahati yang beranggotakan 5 orang : Ahmad Fuad Osman, Ahmad Shukri Mohammed, Bayu Utomo Radjikin, Masnoor Ramli Mahmud dan Hamir Soib @ Mohammed ini, kini telah mempunyai sebuah wadah seni di Malaysia bernama House of Matahati (HOM). HOM tidak hanya khusus untuk anggota Matahati saja melainkan juga untuk seniman lain dan pertukaran seniman tamu.

Pada pameran MATAHATIJOGJA kali ini, Fuad membawa figur-figur dalam karyanya, yang merupakan ekpresinya terhadap masalah sosial, politik baik peristiwa dalam maupun luar negeri. Ahmad Shukri dengan kemampuannya mencerna kejadian dan peristiwa, mengalir bersama karya yang diterjemahkan lewat  simbol, ikon penegasan persoalan yang diangkat. Bayu sebagai salah satu anggota Matahati yang kerap menggambarkan dirinya sebagai objek utama dengan ekpresi dan olah tubuhnya masih tetap dengan tema yang sama. Hamir menampilkan warna-warna monokromatik, serta figur-figur ilusionis, dan magis dalam karyanya. Dan Masnoor  dengan mengambil sosok figure dalam film, wayang  dan iklan dalam karyanya sebagai isu yang diangkat. Kendati ke lima seniman itu mempunyai tema yang berbeda, tapi hal tersebut merupakan hal yang sangat menarik, bahwa Matahati merupakan kelompok yang tidak membatasi kebebasan individu untuk berekspresi dalam berkreasi.

Pada kesempatan kali ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Melani Setiawan, Msc atas kesediaannya membuka pameran MATAHATIJOGJA pada tanggal 1 November 2010, kepada Bp. Suwarno Wisetrotomo atas kesediannya menulis pameran ini, kepada seniman Matahati yang berpameran, dan semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu terselenggaranya pameran ini. Semoga pameran kali ini dapat diapresiasi dan memberikan pemahaman tentang dunia seni rupa kontemporer Malaysia.

Sangkring Art Space

Pembukaan pameran MATAHATI
[nggallery id=12]

GESTICULATION

Gesticulation

Oleh : Putu Sutawijaya
Pameran berlangsung :28 September – 7 Oktober 2010

Pameran di buka oleh : Butet Kartaredjasa

Tempat : Bentara Budaya Jakarta (Jl. Palmerah no 17 Jakarta)

Proses dan praktik badani memproduksi tanda-tanda melalui gesture, bisa dengan jelas dianalogikan dengan tindakan memproduksi tanda-tanda lingual-akustik melalui seperangkat alat ucap. Jika yang terakhir  tadi biasa disebut dengan artikulasi, maka yang sebelumnya dapat dinamakan sebagai gestikulasi (gesticulation). Putu Sutawijaya dengan karya-karya tiga dimensional (patung dan instalasi) terbarunya, tetap bertahan dengan representasi tubuh dan gestikulasi, meskipun kali ini dia menawarkan konteks yang berbeda-beda demi mencapai pengucapan tertentu yang diinginkannya.

“Agar tubuh-tubuh itu dapat berkisah,” ujarnya. Maka dari itu, gestikulasi tubuh-tubuh di dalam serangkaian karyanya ini menjadi lebih variatif dengan lontaran-lontaran gagasan di sekitar tegangan dan ketaksaan (ambiguity) yang menyelubungi proses-proses sejarah, kontinuitas dan diskontinuitas, tradisi dan perubahan, kepatuhan dan resistensi, juga masalah pendefinisian ulang atas identitas-identitas kultural yang mapan. Putu Sutawijaya menyodorkan pertanyaan-pertanyaan kritisnya dengan kecenderungan gestikulasi yang keras namun rawan.

Putu Sutawijaya dilahirkan di Banjar Angseri, Tabanan, Bali, 27 November 1971, Pendidikan seni rupa diselesaikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1991-1998) dan telah beberapa kali melakukan pameran tunggal di China, Jakarta, Hongkong, dan Malaysia. Ia memperoleh beberapa penghargaan, yang terpenting adalah Lempad Prize dari Sanggar Dewata Indonesia (2000), serta Best Painting dari Yayasan Seni Rupa Indonesia dan Philip Mooris Art Award (1999).

Pameran yang menampilkan karya-karya Putu Sutawijaya ini ditulis oleh Kris Budiman dan Karim Raslan. Acara pameran ini akan di buka pada tanggal 28 September 2010, Jam 19.30 oleh Bpk. Butet Kartaredjasa, dipandu pembawa acara Trio Kirik, dan akan menghadirkan bintang tamu Dewa Budjana.. Selain pameran, juga diselenggarakan peluncuran buku Ceritalah Indonesia oleh Karim Raslan. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 28 September – 7 Oktober 2010 di Bentara Budaya Jakarta (Jalan Palmerah 17, Jakarta 1070).

JOGJA PSYCHEDELIA Flower From Yunizar

JOGJA PSYCHEDELIA Flowers From Yunizar
Oleh : Yunizar
Pembukaan 23 September 2010, Jam 19.00
Pameran berlangsung : 23 September – 5 Oktober 2010
Pameran di buka oleh : Dr. Oie Hong Djien
Kurator pameran : Aminudin Siregar
Tempat : Sangkring Art Space (Nitiprayan Rt.1 Rw.20 Ngestiharjo, Kasihan Bantul Yogyakarta 55182, Telp.(0274) 381032, 0812277675678)
Pameran ini merupakan kerjasama antara Gajah Gallery dengan Sangkring Art SpaceREAD MORE

Solo Exhibition Jumaldi Alfi “Life/Art #101: Never Ending Lesson”


Pameran ini adalah PREVIEW dari pameran di Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur

Life/Art #101: Never Ending Lesson

Oleh : Jumaldi Alfi

Pembukaan : 1 September 2010, Jam 19.00

Pameran berlangsung: 1 – 7 September 2010

Pameran di buka oleh : Bpk. Zawawi Imron

Kurator : Enin Supriyatna

Melalui karya-karya terbarunya, Alfi mengajak kita merenungkan kembali pepatah ini: pengalaman adalah guru terbaik, experientia docet. Ia menampilkan pengalaman sebagai kata kerja dalam tindakan si seniman mengenang dan mengingat. Dengan demikian, hidup yang dijalani dan dialami dari masa lalu hingga hari ini, kini muncul kembali secara acak namun beruntun dalam karya-karyanya. Ini adalah “jalinan ingatan” yang dirangkai terus menerus.

Lebih jauh lagi, dalam karya-karya Alfi kali ini kita juga bisa menyaksikan bagaimana Alfi memanfaatkan pengetahuannya akan sejarah seni rupa dunia yang ia jadikan juga bagian dari pengalaman dan proses belajarnya. Kata-kata dan kalimat-kalimat yang ia tampilkan seringkali merupakan pinjaman dari pernyataan dan pemikiran sejumlah seniman yang ia kagumi (dari Joseph Beuys, Martin Kippenberger, Ed Ruscha, sampai lirik lagu Pink Floyd). Sambil meminjam dan menghubungkan kata/kalimat itu dengan pengalaman pribadinya, ia menyempatkan diri untuk “bermain-main” dengan teks-teks itu. Seperti seorang murid yang iseng melihat sisa-sisa tulisan di papan tulis di dalam kelas, Alfi menghapus satu dua huruf atau mengaburkan kata tertentu sehingga terjadi perubahan kata dan kalimat yang kemudian membuat maknanya jadi melenceng dari aslinya.

Sembilan lukisan yang menampilkan papan tulis sebagai subyek utama, satu instalasi—perahu kayu dengan sosok jerangkong diatasnya—serta satu karya video hadir serentak dalam pameran kali ini. Keseluruhannya bisa kita perlakukan sebagai bentuk sajian karya yang utuh menyatu. Tiap karya adalah ruangan-ruangan yang akhirnya membentuk satu rumah, sambil setiap ruang sesungguhnya telah hadir sendiri dengan segala isinya. Di sini, kita bisa melihat bagaimana Alfi dengan sengaja memanfaatkan aspek teatrikal sehingga tersedia cukup udara segar dalam atmosfir ruang pameran yang memungkinkan karya-karyanya untuk bernafas lega bersama para pemirsanya.

CUT2010

CUT2010: New Photography from Southeast Asia:PARALLEL UNIVERSE

Kurator: Eva McGovern

6 Agustus – 11 September 2010 di Sangkring Art Space

Mempersembahkan karya: Eiffel Chong (Malaysia), Shooshie Sulaiman (Malaysia), Mintio (Singapore), Zhao Renhui/The Institute of Critical Zoologists (Singapore), Michael Shaowanasai (Thailand), Tanapol Kaewpring (Thailand), Frankie Callaghan (Philippines), Wawi Navarroza (Philippines), Agan Harahap (Indonesia), Sara Nuytemans dan Arya Pandjalu (Indonesia) dan Wimo Bayang (Indonesia).

Seniman menciptakan pandangan alternative dan (sur)realis yang menghibur dan menantang persepsi audiens. CUT 2010 mengekplorasi dunia-dunia parallel melalui fiksi dan sudut pandang miring dari balik lensa kamera.  Keotentikan seni photografi sebagai penyampai kebenaran telah didistorsikan dan dipergunakan sepanjang masa evolusinya dari daguerreotype ke film dan digital. Eksperimentasi dengan media berlanjut dan seniman berkesempatan untuk menciptakan teknik-teknik ilusi yang beragam, juga bisa menciptakan panggung dramanya sendiri serta menangkap momen-momen istimewa dari kehidupan sehari-hari.  Pengolahan pada dikotomi seperti anatara dongeng dan mimpi buruk, dystopia dan utopia, membawa pameran ini pada pengungkapan massif pada dunia khayal dan realitas yang terpilin yang mampu menghibur indera dengan apa yang nyata dan apa yang khayal.

Pameran ini beranjak dari pemikiran bahwa photografi adalah sebuah mekanisme pada imajinasi, petualangan dan pelarian melalui teknik dan subyeknya.  Seperti teater dan film, ada peluang untuk memicu dan mengganggu animasi pada indera kita. dan menimbulkan tanggapan yang kuat dan kompleks. Dunia kemungkinan yang baru ini mengaduk harapan, mimpi, pandangan dan pengamatan dari penciptanya dan menjadikannya sebuah pertunjukan terpadu antara kejutan, hasrat, kesenangan, kesedihan, guyonan dan pencerahan.  Dengan inspirasi visual yang tak berbatas dan didukung kemajuan teknologi pendukungnya, photografi sebagai sebuah wahana, terus mendorong batasan pemahaman dan sensasi visual.

CUT 2010: PARALLEL UNIVERSE, memberikan banyak titik masuk dan titik keluar pada ide yang disajikan oleh tiap seniman. Secara menyeluruh, dunia imaji dalam dunia ini, mempersembahkan pertimbangan personal dan publik akan pertanyaan berkesinambungan di sekitar evolusi gender dan cultural, sub kultur, agama, landscape dan lingkungan urban. Menggabungkan unsur yang anggun dan konyol, jagoan super yang perkasa menertawakan binaragawan, pecandu game online mengejek utopia agamis, perancangan bangunan menjadi sebuah episode siluman dan penjelajahan ilmiah misterius yang menghindari boneka-boneka erotis serta karakter kemanusiaan yang tak terlupakan.  Obsesi-obsesi keberadaan, halusinasi dan ambigu-ambigu dari sang pemotret dan orang sebagai obyeknya dibeberkan pada pemirsa untuk ditengarai dan dipertanyakan.  Apa yang nampaknya sangat akrab bisa berubah menjadi sangat asing dan mengganggu, menggoda dan khayali.  Yang tidak biasa tiba-tiba saja mampu menyuarakan kebenaran yang universal.

Sekarang pada tahap ke tiga, CUT: New Photography from Southeast Asia melanjutkan keberadaannya sebagai paparan yang dikhususkan untuk perkembangan photografi di Asia Tenggara.  Tujuannya untuk menyuntikkan pemikiran segar pada status media ini di wilayah ini, baik dari sisi estetika maupun akademis pada pengolah terhadap bidang beragam oleh pelaku seni photografi dewasa ini.

The Ambassador of Italy

“THE DOUBLEFOLD DREAM OF ART: 2RC BETWEEN THE ARTIST AND ARTIFICER”

Dalam rangka perayaan Hari Nasional Italia (tangal 2 Juni), Kedutaan Besar Italia untuk Indonesia dan Italian Institute of Culture (Pusat Kebudayaan Italia) Jakarta, didukung oleh Italian Trade Commission (Kamar Dagang Italia) dan Biasa Artspace, dipersembahkan kepada masyarakat Indonesia sebuah pameran seni grafis: “THE DOUBLEFOLD DREAM OF ART: 2RC BETWEEN THE ARTIST AND ARTIFICER, yang dikurasi oleh kritikus seni Prof. Achille Bonito Oliva.Setelah pameran ini berkeliling di Cina di beberapa akademi seni penting disana , dan terakhir dipamerkan di Museum of Art of the Seoul National University, pameran yang bekerja sama dengan 2RC ini ,  akan membawa koleksi besar  seniman seni grafis Italia dan seniman dari pelbagai Negara ke Indonesia, di tiga ruang pameran berbeda, antara lain di;  Selasar Sunaryo Art Space ,  Bandung ;  Galeri Nasional Indonesia,  Jakarta dan Sangkring Art Space ,  Jogjakarta.

Karya-karya berbeda akan ditunjukkan di tempat yang berlainan : Seniman  Italia dan seniman  bersejarah dari pelbagai bangsa  akan ditunjukkan di Galeri Nasional Indonesia; seniman  avant garde di Selasar Sunaryo Art Space, seniman Amerika dan Inggris di Sangkring Art Space , jumlah  keseluruhan karya adalah 145 karya grafis – teknis etchings, aquatints, litografi, embossing dan 8 piringan tembaga.

Pemahaman penuh dari koleksi 2RC oleh karenanya hanya bisa tercapai dengan mengunjungi ke-tiga rangkaian pameran ini, dimana kesuksesan piawai pelaku seni kontemporer dan keunggulan teknik percentakan dan engraving Italia telah terbukti.

Mengutip kurator, Achille Bonito Oliva:

“Koleksi ini mewakili pusat pertemuan sejarah Seni Kontemporer dari tahun 60an sampai hari ini. Ia mewakili panorama internasional, untuk bentuk keaslian dan kualitas, yang tentu dibutuhkan untuk kreasi arstistik setengah abad XX lalu hingga sekarang ini. Sebuah tradisi kreatifitas Italia.”

Beralaskan inisiatif penting ini, kehadiran  Prof. Achille Bonito Oliva, Kedutaan Besar Italia dan Pusat Kebudayaan Italia juga bermaksud menggalakkan hubungan erat antara masyarakat Italia dan sistem kesenian Indonesia.

Acara in di sponsori oleh: Eni Indonesia, Finmeccanica, Generali Indonesia, Lotti Associates, Prysmian Cable & Systems.

Tanggal & Tempat :

– Bandung, Selasar Sunaryo Art Space (29 Mei- 22 Juni)

Pembukaan: 29 Mei, pukul 17.00 WIB

Seniman: Francesco Clemente, Enzo Cucchi, Julian Schnabel

Seminar oleh Prof. Achille Bonito Oliva

Bandung, Selasar Sunaryo Art Space 5 Juni pukul 18.30 WIB

Bekerjasama dengan ITB Bandung

– Jakarta, Galeri Nasional Indonesia (4-24 Juni)

Pembukaan: 4 Juni, pukul . 19.00 WIB

Seniman : Pierre Alechinsky, Afro Basaldella, Max Bill, Alberto Burri, Alexander Calder, Giuseppe Capogrossi, Eduardo Chillida, Pietro Consagra, Pietro Dorazio, Lucio Fontana, Adolph Gottlieb, Renato Guttuso, Jannis Kounellis, Juri Kuper, Giacomo Manzu’, A.R. Penck, Beverly Pepper, Arnaldo Pomodoro, Gio’ Pomodoro, Pierre Soulages, Giuseppe Santomaso, Shu Takahashi, Joe Tilson, Walasse Ting, Victor Vasarely.

– Yogyakarta, Sangkring Art Space (11-20 Juni)

Pembukaan: 11 Juni, pukul 19.00 WIB

Seniman : Francis Bacon, Sam Francis, Helen Frankenthaler, Nancy Graves, Henry Moore, Louise Nevelson, Victor Pasmore, George Segal, Graham Sutherland.

Konferensi Pers

Jakarta, Galeri Nasional Indonesia 4 Juni pukul 18.00 WIB dan akan dihadiri oleh Prof. Achille Bonito Oliva.

PAMERAN

Pameran ini adalah proyek seni yang bertujuan untuk saling membagi, pengalaman visual dan teknis proses percetakan – atas penilitian yang dilakukan perusahaan percetakan 2RC sejak tahun 60an oleh pemilik 2RC,  Valter dan Eleonora Rossi , berasal dari Roma.

Tahun 1959, Valter dan Eleonora Rossi memulai usaha percetakan 2RC di Roma, dengan tujuan untuk mendemonstrasikan seni grafis sebagai level sama seperti lukisan dan ukiran dan bukan sebagai sambungannya. Tujuan obyektifnya adalah untuk mengkreasikan pendalaman teknis-artistik bagi seniman untuk bisa secara bebas berkreasi.

Penemuan teknis sempurna etching press, yang di desain sendiri oleh Valter Rossi dan semua peralatan yang yang  dibutuhkannya mampu merealisasikan format etching grafis dalam format besar secara utuh yang menarik banyak seniman terhadap teknis percetak 2RC,  seperti Lucio Fontana, Francis Bacon, Alberto Burri, Henry Moore, Enzo Cucchi, Sam Francis dan masih banyak seniman lainnya yang berperan besar mewakili kemashyuran aliran abstrak  dunia Barat dan seniman informal avant grade di abad 20.

Dalam ungkapan Achille Bonito Oliva: “ Koleksi ini adalah suatu perjalanan dalam sejarah seni kontemporer dari tahun 1960an hingga hari ini, melampaui semua batasan dan ekspresi puitis. Ia mewakili panorama secara utuh, dalam nafas kualitas dan partisipasinya, menyatu dengan tradisi kreativitas Italia. Ia mengungkapkan kapasitas bagi seniman untuk terus mendalami perannya sebagai para ahli dan produser proyek seni dengan nilai tambahan lebih besar daripada konsep awalnya. Kolaborasi ini adalah kerja keras, yang memisahkan seniman dan produsernya, diantara konsep dan pelaksanaannya.”

Sejak 2007 pameran ini telah bergulir di Eropa ( Tirano, Italia ; Moskwa, Saint Petersburg, Rusia, Belgrade, ); Amerika Serikat (Chicago, Indianapolis, San Francisco) dan Asia.

Di tahun 2009 pameran ini telah diajang di Beijing (Central Academy of Fine Arts), Shenyang (Luxun Academy of Fine Arts) dan di Seoul (Museum of Art, sampai bulan April 2010).