Sangkring Art | Blog Large Image Whole Post
18956
paged,page-template,page-template-blog-large-image-whole-post,page-template-blog-large-image-whole-post-php,page,page-id-18956,page-child,parent-pageid-1815,paged-7,page-paged-7,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

[Pameran] YAA #4 Incumbent

Download now!!!

67126667_10219198422379482_5998149981821730816_n

YAA #4 “Incumbent” 2019

           Tahun ini Yogya Annual Art memasuki tahun ke empat. Sebuah angka yang cukup berbahaya dalam filosofi dan hitungan China. Angka ini disebut “Si” yang artinya mati. Makanya tidak heran dalam banyak kegiatan bersifat regular, urutan ke empat ini sering dianggap sial, penuh rintangan dan hal buruk lainnya, Namun jika berhasil melewatinya, hasilnya akan luar biasa.

Jadi tidak perlu terlalu khawatir sebab dalam kegiatan kesenian berkelompok, seperti grup band misalnya. Kelompok yang beranggotakan empat orang, banyak yang berhasil. The Beatles, Queen, Rolling stone, Koes Bersaudara, Koes Plus, Gigi, Noah, Sheila on 7 adalah beberapa contohnya. Grup lawak Kwartet Jaya dan Jayakarta adalah contoh lainnya di grup lawak. Bahkan ada kelompok superhero beranggotakan 4 orang yakni The Fantastic Four.

Apalagi YAA bukanlah sekadar kegiatan kesenian atau senirupa biasa. Aktivitas regular bersifat tahunan yang diselenggarkan di Bale Banjar Sangkring ini lebih tepat disebut sebagai Kebudayaan dengan huruf K besar. Dimulai dengan “Niat” di tahun 2016. Dilanjutkan dengan “Bergerak” di tahun 2017 . Lalu sampai pada “Positioning” di tahun 2018 kemarin. Nah di tahun 2019 ini YAA memilih tema “Incumbent”

Incumbent jelas kata berbahasa Inggris yang terjemahannya petahana, berasal dari kata “tahana”, yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Istilah ini biasanya digunakan dalam kaitannya dengan pemilihan umum, di mana sering terjadi persaingan antara kandidat petahana dan non petahana. Lebih mudahnya dapat dimaknai sebagai, “yang saat ini masih berkuasa/menjabat”

YAA #4 tentu bukan kegiatan politik praktis, namun sebenarnya posisinya saat ini memang menyerupai incumbent. Ini bukan ilmu gothak-gathuk atau dipaksakan. Demi melihat sejarahnya (sebagimana tertulis di atas)  dimulai dengan niat yang tulus, bergerak dengan dinamis lalu menemukan posisi yang ideal dalam positioningnya. Maka saat ini tidak berlebiihan disebut sudah memiliki kedudukan, kebesaran atau kemuliaan dalam politik kesenian dan kebudayaan.

Ini saat yang menguntungkan namun juga bersifat krusial karena mengandung resiko dan bahaya. Maka satu-satunya cara mempertahankannya adalah berbuat terbaik dan kerja keras. Artinya setiap peserta YAA #4 Incumbent haruslah bekerja maksimal sekaligus professional. Selamat berjuang!

Yuswantoro Adi

[Pameran] Made Sukadana

56247971_10214943039510101_6523577262699184128_n

Single Fighter #3:
Pameran Tunggal karya-karya
MADE SUKADANA
@ Sangkring Art Space
jl Nitiprayan 88, Ngestiharjo , Yogyakarta

pembukaan pada
MINGGU, 7 April 2019
jam 19.00

dibuka oleh Bp Ridwan Mulyosudarmo

Pameran berlangsung 7 April – 7 Juni 2019

[Pameran] Perupamuda #3 “Ring Road”

poster prpmuda

index

ww

Youthquake

Menyoal pemuda memang tidak ada habisnya, terlebih soal frasa klise “pemuda adalah agen perubahan” di mana hingga hari ini masih mampu menunjukkan tajinya. Pada 2017 lalu, Oxford Dictionary mengukuhkan terma “Youthquake” sebagai word of the year. Terma tersebut bukanlah hal baru, mengingat Diana Vreeland pernah mengemukakannya melalui majalah asuhannya, Vogue, pada 1965. Jika Diana Vreeland menggambarkan youthquake sebagai kebangkitan budaya pemuda di London yang terjadi pada 1960-an, terutama dalam cara berpakaian, maka Oxford Dictionary menjabarkannya lebih luas. Yakni mengacu pada perubahan budaya, politik, atau perubahan sosial yang signifikan karena aksi atau pengaruh dari pemuda. Hal ini menandakan bahwa pemuda memiliki peran dan caranya masing-masing untuk mendayagunakan energinya merespon geliat zaman atau bahkan menciptakan maknanya sendiri.

Para pemuda masa kini itu dikelompokkan dan diberi nama generasi milenial oleh generasi sebelumnya. Menjadi rahasia umum jika generasi milenial dilabeli hal-hal negatif seperti individualis, apatis, pemalas, dan lain-lain. Namun, ketika Oxford Dictionary memberikan sorotan terhadap terma youthquake, setidaknya sedikit banyak mematahkan label-label yang menempel pada generasi milenial. Hal ini, salah satunya, didasari pada meningkatnya jumlah keikutsertaan pemilih muda di UK dan New Zealand yang mendukung partai oposisi.

Bisa jadi, hal ini pula yang mendorong para capres dan cawapres di Indonesia berlomba-lomba menjadi yang paling mewakili milenial. Daripadanya, menarik kemudian untuk menelisik kembali bagaimana praktik generasi millenial di Indonesia hari ini. Terutama, ketika generasi ini tidak mengalami perang dunia, revolusi, maupun reformasi namun mengalami perubahan zaman bernama kemajuan teknologi informatika.

Satu hal yang perlu menjadi catatan ialah, bahwa menyoal generasi tidaklah mungkin untuk digeneralisir. Meski kemajuan teknologi menjadi payung besar pengaruh sosio-historis generasi milenial, lantas tidak dengan begitu saja menihilkan order di mana mereka mengada. Misalnya, generasi milenial yang lebih sering mendiskusikan ihwal kritis akan berbeda dengan milenial yang mengikuti akademi kepolisian akan jauh berbeda ketika merespon isu-isu kenegaraan. Bukan berarti bahwa yang satu lebih baik dari lainnya, melainkan terdapat perbedaan daya cerap dan mengaktualisasikan diri berdasarkan arena di mana mereka berada.

Para  muda di ranah seni rupa, misalnya. Hari ini memang jarang sekali yang menyoal isu kenegaraan atau bahkan menawarkan gagasan-gagasan segar. Jim Supangkat secara implisit dalam sebuah wawancara untuk pameran Manifesto “Multipolar”, mengatakan bahwa seniman hari ini tidak jauh beda dengan wartawan yang memberitakan sebuah realitas melalui produksi visual. Tetapi toh, seperti disebut dalam paragraf sebelumnya, generasi milenial hari ini tidak mengalami gejolak konflik yang konfrontatif seperti generasi sebelumnya.

Lingkar Perupa Muda

Pameran Perupamuda kembali digelar untuk yang ke-3. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan ruang Bale Banjar Sangkring sebagai salah satu upaya mendistribusikan kerja-kerja yang bersifat edukatif dan partisipatif. Program Perupamuda merupakan kesempatan dalam membuka ruang inisiasi dan kolaborasi antara galeri Sangkring dengan anak-anak muda. Pameran ini, seluruhnya diorganisir oleh anak muda, mereka punya hak penuh dari konsep hingga eksekusi sesuai dengan pertimbangan dan kesepakatan kolektif.

Menyimak peristiwa yang berhasil terselenggara sebelumnya, ada upaya panitia dalam meletakkan atau menegaskan kembali terkait prinsip, perspektif, konsep, pemahaman, mengenai perupa muda dan seni kontemporer sesuai dengan konteks di mana peristiwa itu digelar, yang setidaknya menjadi tawaran medan untuk dinegosiasikan bersama subjek yang berkepentingan secara terbuka. Masih dalam wacana kontemporer, setidaknya, tiga kali penyelenggaraan Perupamuda, ada pembacaan ulang mengenai medium karya yang terikat secara tema, misal pameran yang pertama fokus mengenai karya kanvas, kedua kertas, lalu yang ketiga ragam media.

Pameran ini mengambil tajuk “Ring Road”, judul ini sengaja dipilih dengan maksud memberi kesempatan bagi seniman muda secara lebih luas, semacam pemekaran wilayah untuk menjangkau berbagai medan dan disiplin seni rupa. Terkhusus di Yogyakarya, sebab hanya dalam areal yang dilingkari jalan utama saja, bisa menawarkan begitu banyak model kesenian. Dimaksudkan para muda-mudi yang turut berpartisipasi dapat secara bersama-sama membuat lingkaran besar, sekaligus jalan, sebagai kekuatan generasi muda. Perihal mengenai lingkaran, lebih lanjut bisa menjadi simbol atas kebersamaan dan persatuan.

Sebab generasi kini, dengan fasilitas akses informasi yang melimpah justru rentan terpecah belah oleh sebab sajian konten yang provokatif, misal seperti terjadi dalam perang medsos. Maka pameran, dengan kemungkinan aktivitas dan interaksinya secara komunal, dapat memberi ikatan yang lebih intim dan manusiawi. Pameran Ring Road bisa menjadi ruang sosial dan distribusi nilai dan makna antar pemuda, juga sebagai upaya konkrit dalam membedah bias dunia virtual yang menjadi bagian identifikasi para milenial.

Beberapa karya memiliki kemiripan satu sama lain seperti kehadiran warna-warna fosfor, bisa dijumpai dalam karya Aldi Wahyu, Kadek Suardana, Tahta Gilang, Ricky Qaliby dan Yula Setyowidi, yang seolah butuh wahana tersendiri untuk menempatkannya. Karya-karya ini membutuhkan jangkauan ruang tertentu, misal pengaturan cahaya relatif. Karya Suardana menempatkan gambar tradisional Bali yang telah digubah menjadi semacam latar namun juga ornamen. Latar ini seolah hadir dan hilang dalam lanskap alam natural tanpa kehadiran manusia. Suardana seolah ingin melukiskan, bahwa tradisi hadir selaras dengan alam, karyanya sebagai ungkapan harmonis antara spirit alam dengan tradisi.

Satuan panel-panel, baik dalam satu media utuh dan terpisah, hendak membangun narasinya tersendiri, seperti terdapat dalam karya Amri Cahya, Iwan Santika, Pradani Ratna, Taufiq HT, Ungky Prasetyo, Raka Hadi dan Roy Adhitama. Khusus karya kolaborasi Amri Cahya dan Janur Kilat bertolak dari permainan ular tangga. Ular tangga, yang bisa diasosiasikan sebagai perjalanan, perjuangan, nasib… ditampilkan secara menyenangkan lewat aktivitas berkebun. Bagi mereka, berkebun itu merupakan hal yang menyenangkan, membuat rileks saraf-saraf yang mulai menegang. Salah satu alternatif kegiatan untuk melepas penat. Dalam berkebun, lewat karya, sesungguhnya menyiratkan kemandirian, dan kebahagiaan atas interaksi langsung dengan alam. Sebagaimana hadir dalam karyanya, tak hanya suka ria memanen hasil kebun, namun juga mendapat kebahagiaan hakiki berupa cinta.

Adapun yang terus dan terus dilakukan dan mungkin selalu dirayakan adalah eksplorasi mengenai figur-figur rekaan, terlihat dalam karya milik Fika Ariestya, Diky Prasetyo, Wayan Sudarsana, dan Diana Puspita. Pada karya Sudarsana, Evolusi Alam, adalah gambar tentang keberlangsungan alam, masa depan yang ia cemaskan oleh sebab perubahan lingkungan yang tidak berpihak pada hari esok. Hewan, manusia, dan tumbuhan, ia gubah dalam satu subjek utuh, sebagai penegasan bahwa idealnya, sesama makhluk alam memiliki hak yang sama untuk hidup dan keberlangsungannya. Saya menganggap bahwa proses menghadirkan figur-figur baru, yang mungkin akan terus-menerus dilangsungkan tiap generasi, sebagai hasrat mencari pengalaman baru, dan juga secara tegas selalu menyampaikan muatan keberbedaan. Bahwa yang berbeda harus ditegaskan, namun dengan berbeda bukan berarti tidak bisa bersatu. Sayang, sepanjang sejarah, sebagaimana banyak kita tahu, perbedaan senantiasa menjadi alasan permusuhan. Tidakkah dunia ini mencoba kesempatan untuk berdamai?

Sifat dan sikap individual, seperti dialami pada kebanyakan generasi milenial hari ini, mungkin telah menjadi bagian dari karakteristik anak zaman yang tak bisa terelakkan. Perkembangan teknologi dan informasi terutama, telah menancapkan sistem dan gaya hidup yang khas. Berbagai kebutuhan hidup dapat, dan mungkin wajib  terakomodir dalam media-media yang lebih bersifat artifisial. Alih-alih mengelak jadi tertinggal sementara ikut jadi terjerumus. Di zaman ini, hidup semakin lebih terasa untuk memilih dan menjalani risiko, kita hanya memiliki alternatif dalam menjalankan pilihan-pilihan yang tidak diinginkan, dengan bahasa lain yang cukup melegakan yaitu ‘memanfaatkannya’, seperti memanfaatkan medsos untuk berjejaring atau mempromosikan karya contohnya.

Angkatan muda, sejumlah 52 perupa yang terlibat dalam pameran ini, bisa jadi menandakan generasi seni rupa yang tidak diwarnai dengan perdebatan sengit dan terbuka, sikap kritis, juga terobsesi pada gerakan tertentu. Kita tahu bahwa sejarah seni rupa Indonesia dibentuk dari perdebatan-perdebatan yang melahirkan berbagai angkatan. Apakah ini sebuah kemunduran? Seperti sering dituduhkan oleh generasi sebelumnya, atau jangan-jangan ini merupakan sikap perupa muda untuk menolak model-model legitimasi generasi. Tak hanya Supangkat yang menganggap tiada perubahan berarti, laman histography.io juga tidak mencatat adanya karya seni penting sejak dirampungkannya patung Cristo de la Concordia pada tahun 1994.

Saya melihat bahwa semakin lunturnya peran tunggal pada medan, ruang, komunitas, atau peristiwa tertentu yang sebelumnya memiliki kuasa penuh dalam menjalankan atau menentukan arah perkembangan seni rupa, menjadikan semakin sulit dalam membaca generasi. Tetapi mungkin, justru kondisi ini memicu sikap kritis dalam perlu atau tidaknya, dan bagaimana mencatat generasi. Perubahan ini tentu banyak dipengaruhi perkembangan teknologi informasi, di mana setiap seniman kini bebas mengakses dan menjadikan dirinya sebagai subjek dimanapun ia ingin berada sesuai pilihan. Karya-karya yang berhasil dipamerkan dalam kesempatan ini kebanyakan merupakan narasi personal yang memuat dialektika perupa dengan dunia global yang dihadapinya.

Dalam buku populer khas generasi milenial “Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat” karya Mark Manson, dikatakan bahwa, “Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda.” Kunci untuk kehidupan yang baik, bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting. Tanpa berlebihan menggapai cita-cita besar yang menjadi keinginan orang banyak, sikap perupa muda dalam pameran “Ring Road” ini menjadi bermakna oleh karena dapat melakukan hal yang sederhana dan konkrit. Dengan membuat lingkaran kecil melalui pameran bersama justru menjadi kontribusi penting sebagai pemuda, sebab di waktu yang bersamaan, banyak anak muda tidak melakukan apa-apa.

 

Huhum Hambilly

Yogyakarta, 2 November 2018

[Pameran] Mahandini, Dewa Budjana, Pameran Cover CD

48375123_10210192671973112_6136221523846889472_n

Mari maju bersama, berpartisipasi dalam penggalangan Dana Abadi Seniman ‘Suka Pari Suka’ melalui Pameran Cover CD Album MAHANDINI Dewa Budjana pada 20 Desember 2018, di Sangkring Art Project, Yogyakarta.

Sudah beberapa lama perupa Yogya memiliki Dana Abadi Seniman. Dana tersebut dihimpun dari hasil kegiatan pameran.

Selama ini dana tersebut didepositokan dan dari bunga deposito itu secara bergiliran digunakan untuk membantu seniman yang tertimpa sakit dan “kesripahan”.

Sudah puluhan seniman penerima dana tersebut. Mereka tidak hanya dari kalangan para perupa, tapi juga dari kalangan seniman lainnya dan siapa saja yang terlibat dalam urusan seni.

Mari hadir dan berbagi.

Salam ‘Suka Pari Suka’

 

-List Karya

Peaceful Seeker #2

peacefull

 

Dear friens and art lovers,

We cordially invite you to join us, to attend the exhibition Peaceful Seeker #2

Presented by Sangkring in a 6 in 1 program collaboration in the Peaceful seeker project.

The exhibition will be held on Wednesday, Nov 7th 2018 at Bale Banjar Sangkring, Yogyakarta.

Location @balebanjar.sangkring

Jl. Nitiprayan no.88 RT 02/RW 20
Sanggrahan, ngestiharjo, kasihan bantul
Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Telp (0274) 381023.
www.sangkringart.com

Two Side of Medal – Mahdi Abdullah

mah di

Mahdi Abdullah sebagai “Monumentasi” dengan mengetengahkan konsepsi mengenai ingatan kolektif, segenap benda-benda memorial, akhirnya membawa seni ke dalam sebuah arena baru, yakni lukisan sebagai “monumen sejarah”. Oleh sebab itulah saya menyebut hasil kerja kreatifnya sebagai gaya “narasi-simbolik” yang bersifat pengendapan peristiwa. “Dia sampai pada kesimpulan bahwa ada dualisme mendasar dalam kehidupan manusia, struktur ganda yang mencakup setiap aktivitas manusia, tetapi sering lolos dari kesadaran kita. Kegelapan dan cahaya, tinggi dan rendah, kebaikan dan kejahatan adalah kesatuan yang tak mungkin berdiri sendiri. Seperti dua sisi mata uang, kita hanya dapat melihat satu sisi, untuk melihat sisi lainnya kita harus membalik koin tersebut” ungkap Anton Larenz dalam buku pameran “Two Sides of the Medal Mahdi Abdullah”.

Pendidikan terakhirnya: Magister Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (2010). Artist Residency di ICP Tokyo, Japan (2002). Artist Residency di Centre for Southeast Asian Art, Passau, Germany (2009) Lithography Course di Kultur Modell, Passau, Germany (2009). Karyanya telah dikoleksi oleh Modern Kuns Museum, Passau (Germany), Museum of Indonesian Art (Australia), GBI (Tokyo), OHD Museum, Magelang (Ind), Aceh Museum (Ind), Ali Hasymi Museum (Ind), Tsunami Museum (Ind), dan dikoleksi oleh beberapa galeri dan individu di Indonesia dan luar negeri.

Sadulur Rupa

NAFL2621

Pameran ini mengambil tema sadulur rupa yang bisa dimaknai sebagai citra atau tolak ukur perkembangan karya lukis yang berakar dari gaya lukis tradisional bali, dengan perkembangan-perkembangan dari segi tekhnik dan tematik, dan kita juga bisa melihat regenerasi dari seniman-seniman tua/ old master serta karya-karya mumpuni dari seniman muda.

Adapun tujuan pameran ini merupakan cara para pemerhati seni, pecinta seni untuk melestarikan karya lukis para seniman bali, khususnya yg berakar pada tradisional bali dengan segala pengembangannya, dan yang terpenting ini merupakan media jendela bahwasanya seni lukis bali masih tetap eksis dan terus berkembang,dengan style atau corak yang beraneka ragam,sehingga karya seni ini mampu sejajar dengan karya seni lukis modern kontemporer dan yg lain.

Open Submission Perupa Muda 2018

IMG_7388

IMG_7390

IMG_7389

PXFR5606

OPEN CALL !
.
Panggilan terbuka pameran Perupa Muda #3 dengan tajuk ‘RING ROAD’ kepada seluruh Perupa ‘muda’ yang berdomisili di Yogyakarta.
– Batas akhir pengumpulan karya tanggal 1 November 2018 !
– karya yang lolos seleksi akan diikut-sertakan dalam pameran di Bale Banjar Sangkring pada tanggal 7 Desember 2018.
*Syarat dan ketentuan lebih lengkap ada di poster. .
Tim Seleksi :
Kris Budiman ( Penulis, kurator)
Samuel Indratma (seniman)
Erizal Art ( seniman)
.
“Muda, Bugar, Bahagia dan Berkarya.”
Karena muda saja tidak cukup jika tidak bugar dan berbahagia dalam menghasilkan karya ?
.
SEMANGAT DARAH MUDA !
.
.
.
Info detail: @perupamuda @balebanjar.sangkring
.
#bukusenirupa #perupamuda #youngartist #balebanjarsangkring #sangkringart #opencall #opensubmission #infoseni #artnews #artinfo