Sangkring Art | Blog Large Image Whole Post
18956
paged,page-template,page-template-blog-large-image-whole-post,page-template-blog-large-image-whole-post-php,page,page-id-18956,page-child,parent-pageid-1815,paged-9,page-paged-9,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

Sangkring Art Space at Art Stage Jakarta

image5

Established on May 31, 2007, the gallery embrace and invite many art in various spaces. Various art practices are held and displayed, the differences and experiments of creativity are equally high. Stabile with slogan “the old respected, the young appreciated, the fringe is noticed and the alternatives are given the opportunity to both work”. Sangkring Art open itself as a friendly gallery and open to anyone.

Sangkring name taken from the founder’s ancestor, Putu Sutawijaya. The word is deliberately chosen with the consideration that the name can be a spirit between the self with the past, as well as the motivation to step in the creative process in the art world.

The gallery facilities are offered with a variety of showrooms. Sangkring Art Space, the space accommodates conventional art exhibitions by represen­tative artists. Sangkring Art Project, the space puts forward the art project of experimental artists from various backgrounds, including age and discipline. Bale Banjar Sangkring, the gallery is adapted from the local spirit of Balinese society brought by Putu Sutawijaya and intended as public space. A meeting room that anyone can access, an art activist dialogue room that opens up pos­sibilities for everything, it run with an educative spirit. Sangkring also present other facilities such as Library and Art Shop, Home Stay, Warung Sangkring and Music Studio.


maxresdefault ok

As the bridge between the global art world and Southeast Asia’s largest and most dynamic contemporary art scene, ART STAGE Jakarta is the world’s platform  to discover and engage with Indonesia’s artists, collectors and galleries.

download catalogue exhibition at Art Stage Jakarta

https://goo.gl/3FtVn3

Purpose, Pameran Kelompok Semut

unnamed (1)

PURPOSE

Pematung:

Dedy Maryadi, I Nyoman Agus Wijaya, Khusna Hardiyanto, Ostheo Andre, Rizal Kethis, Yusup Dilogo.

Para pematung dalam kelompok Semut ini merupakan generasi yang dibesarkan setelah perdebatan mengenai seni kontemporer berulangkali dipanggungkan di medan wacana seni. Mereka hadir setelah generasi pematung Indonesia sebelumnya seperti Anusapati, Hedi Hariyanto, Ichwan Noor, Awan Simatupang, Joko Apriyanto, dan lain-lain, yang tetap memilih seni patung sebagai media ekspresi di tengah kaburnya batas-batas seni rupa. Pilihan seperti itu bukan berarti mereka acuh terhadap perkembangan wacana kontemporer, tetapi justru memiliki kesadaran bahwa patung masih memiliki tempat dalam medan seni, namun dengan kesadaran dan cara pandang yang berbeda.
Perbedaan cara pandang terhadap patung itu, dipengaruhi oleh kesadaran bahwa patung tidak lagi berkembang secara otonom dalam medan sosialnya sendiri, namun juga terpengaruh atau bahkan bersilangan dengan bentuk-bentuk ekspresi lain, seperti objek, seni instalasi, teknologi, lukisan, seni grafis, disain, arsitektur, media baru, dan sebagainya.

Para pematung yang rata-rata memiliki rentang usia antara menjelang 30an tahun hingga 35an tahun ini secara akademis menempuh studi mengenai seni patung di ISI Yogyakarta. Namun mereka juga dibesarkan dalam kancah seni rupa di Yogyakarta yang secara dinamis berdialog dengan bentuk ekspresi seni lain. Dinamika di luar tembok studio itu, berpengaruh pula pada apa yang terjadi dalam studio masing-masing pematung. Mereka memiliki kekhasan tertentu dalam karya-karya mereka, karena ruang studio secara tidak langsung menjadi salah satu aspek yang membangun karakter karya mereka. Peralatan, kemampuan mengolah material, dan kapasitas studio mereka menjadi bagian penting dalam lahirnya karya-karya para pematung muda ini.

Dalam pameran ini, keenam pematung ini menggunakan ruang-ruang tersendiri untuk membangun secara utuh gagasan mereka masing-masing. Masing-masing pematung diberi keleluasan untuk membangun gaya penyajian di setiap ruang. Keleluasaan ini memberikan peluang bagi masing-masing pematung untuk membangun kesadaran bahwa salah satu aspek penting dalam karya patung adalah presentasi karya itu sendiri. Sebuah karya tidak cukup diselesaikan dalam ruang studio, tetapi juga memerlukan perlakuan khusus sampai pada format display penyajian karya sebagai bagian dari konsep seni mereka. Dalam ruang galeri kita akan melihat bagaimana mereka memilih cara penyajian yang berbeda, dengan memanfaatkan dinding ruang, lantai galeri, menggantung karya, atau menggunakan setumpu untuk patungnya. Purpose menjadi semacam ruang eksperimen kreatif para pematung ini dalam memanfaatkan ruang untuk menyajikan karya patungnya, selaras dengan gagasan yang hendak mereka sampaikan, mulai dari isu identitas budaya, teknologi, lingkungan alam, hingga tubuh dan kejiwaan manusia.

Rain Rosidi

 

Adu Domba #6, Yaksa Agus vs Luddy Astaghis

unnamed

Permainan (dan) Selera

Oleh Ida Fitri

Seri Pameran Adu Domba a la Sangkring Art Space telah memasuki putaran yang ke-6. Perlu menarik ingatan kembali bahwa perhelatan ini merupakan simulasi –meniru situasi adu domba, untuk mengetengahkan dua perupa dalam satu arena pameran. Karena bukan kompetisi, maka kemampuan teknis dan ketajaman konsep yang diadu bukan untuk memunculkan pemenang dan menyingkirkan yang kalah, melainkan untuk memberikan kondisi bagi seniman untuk siaga berkarya dan siap berwacana.

Pameran Adu Domba seri ke-6 menampilkan lukisan-lukisan Yaksa Agus dan Luddy Astaghis, dua perupa yang berbeda gaya melukis (how to say) dan berbeda penggunaan bahasa visualnya untuk menyampaikan pesan (what to say). Namun keduanya sama sepakat bahwa karya rupa tak bisa berdiri sendiri tanpa konteks sosial atau imun dari problematika kehidupan sehari-hari.

Yaksa:

Berpijak dari ajaran Jawa dari R.M. Panji Sosrokartono “menang tanpa ngasorake”, bahwa kontestasi  bukan sekedar perkara menang dan kalah, tetapi hendaknya juga menghidupi moralitas tentang bagaimana bersikap ksatria, jika menang maka tidak untuk merendahkan yang kalah. Untuk itu Yaksa lebih memilih dam-daman sebagai wahana kontestasi dalam karya-karyanya kali ini ketimbang jenis permainan tradisional yang lain.

Berbeda dengan catur, permainan yang dalam bahasa lain dikenal sebagai bas-basan atau checker ini, mengalahkan lawan dengan lebih santun. Tujuannya tidak untuk menyingkirkan lawan demi mendapatkan posisi atau ruang yang diinginkan, tetapi mesti cerdik dengan melampauinya. Demikian moralitas yang diajarkan dalam permainan tradisional ini, dan begitu pula pesan yang ingin disampaikan oleh Yaksa dalam lukisan-lukisan akrilik di atas kanvasnya. Ia membuatnya dalam dua sekuel yang masing-masing terdiri dari tiga panil. Seri pertama berjudul “Kopi Darat” yang masing-masing berukuran 100 Cm X 310 Cm. Tiga panil ini merupakan gambaran ruang interaksinya bersama Goenawan Mohamad, yang ditampilkan sebagai pria berbaju dan bercelana putih sedang duduk menghadap ke arah pembaca lukisan, dan di sampingnya tergelar papan dam-daman. Di ujung yang lain dari papan permainan tampak Yaksa sendiri sebagai lawannya. Pada suatu kesempatan GM –demikian sebutannya, pernah mengatakan bahwa jika dengan menggambar dan berpameran tidak laku maka ia akan kembali menulis. Pernyataan ini memberikan ide untuk berseloroh tentang dirinya, bahwa menulis itu sebagian ekspresi saja, sedangkan menulis dan melukis, keduanya sama-sama dilakukan.

Tiga lukisan dengan judul yang sama “Kopi Cangkir Blirik”, masing-masing berdimensi 145 Cm X 100 Cm, menjadi gambar permainan dam-daman Yaksa dengan tokoh seni rupa lainnya di Yogyakarta. “Kopi Cangkir Blirik #1” melawan Djoko Pekik yang lukisannya berjudul “Hari Pahlawan 10 November” dibuat tahun 2014 menjadi pemantik ide mengangkat dam-daman ke dalam Adu Domba #6. Sedangkan “Kopi Cangkir Blirik #2 merupakan momen ia melawan Heri Dono yang hanya terlihat gestur tubuh bagian belakangnya saja. Nasirun pun dilawannya di lukisan “Kopi Cangkir Blirik #3”. Ketiga seri ini merepresentasikan arena seni rupa Indonesia, di mana seorang perupa berkontestasi dengan perupa yang lain. Namun dari sekian banyak macam jenis kontestasi, Yaksa memilih karakter dam-daman, alih-alih pertandingan catur, sebagai metafora.

Di permainan dam-daman, setiap bidak menempati kedudukan dan menggenggam hak yang sama, tidak seperti biji-biji catur yang berperan dengan susunan hierarkis yang kedudukannya menentukan pola langkah tertentu. Dengan semangat egaliter, setiap orang atau bidak hanya bisa melangkah satu langkah saja, yaitu maju, mundur, kiri, kanan, atau serong sesuai dengan garis jalannya. Ada kesempatan menyingkirkan atau memakan musuh, namun tidak secara langsung. Hanya bisa melompati atau melewati tanpa merebut kedudukannya.

Yaksa mengasumsikan dirinya sebagai bidak di papan dam-daman yang bergerak melompati bidak lawannya untuk menang. Sebagai seniman, ia tak perlu menempati posisi perupa lain dengan cara menjatuhkan. Setiap perupa hanya perlu strategi yang terukur untuk melampaui perupa lainnya, bukan menyingkirkannya dari posisi yang telah diperjuangkan.

“Kopi Hari Ini” berukuran 140 Cm X 100 Cm dengan medium cat akrilik di atas kanvas, merupakan karya yang berbeda namun menampilkan satu subyek yang hadir di seluruh karya Yaksa, yaitu kopi. Secangkir kopi dianggap sebagai alat strategi sosial yang lunak di tengah papan percaturan hidup yang makin keras. Karena, secangkir kopi selalu layak mendampingi pertemuan-pertemuan, yang menghubungkan diri dengan orang lain, di ruang tamu, angkringan, pos ronda, café, di manapun. “Pertemuan” 145 Cm X 180 Cm merupakan deskripsi dari keterhubungan satu manusia dengan manusia lain tersebut untuk membentuk ikatan sosial.

Yaksa Agus, pelukis cum penulis dan kurator seni rupa ini memanisfestasikan wacana yang penting dalam situasi politik, ekonomi dan sosial saat sekarang ini ke dalam gaya melukis yang segar dan cenderung bermain-main. Di saat strategi licik penuh tipu daya menjadi panglima, dan upaya mengaburkan kebenaran dengan wacana yang seolah benar diviralkan tak terbendung, Yaksa menawarkan strategi bermain di arena sosial secara santun, yang bisa diinisiasi kembali dari permainan tradisional dam-daman.

 Luddy Astaghis

Tiga seri panil masing-masing berukuran 37 Cm X 129,5 Cm dengan cat akrilik di atas kanvas berjudul “Kamu Suka Yang Mana?” merupakan pertanyaan sekaligus tawaran Luddy sebagai pelukis kepada para penikmat seni untuk mempersoalkan selera. Pria yang pernah menerima penghargaan Pratisara Affandi Adi Karya Yogyakarta dan Indofood Art Award tahun 2002 ini membuat ketiga panil tersebut dengan narasi yang seolah berlapis-lapis. Seri “Kamu Suka Yang Mana” #1, terdiri dari tiga lapis narasi yaitu sepotong kepala ikan berkualitas fotografis, dua figur berhadapan berkarakter karikatur dan lapis ketiga berupa lukisan monokrom biru sebagai latar. “Kamu Suka Yang Mana” #2 merupakan tiga lapis kesatuan antara ayam panggang tampak seperti foto, dua figur karikatur dan latar berwarna monokrom salem. Sementara yang terakhir “Kamu Suka Yang Mana” #3 adalah rangkaian lapisan apel hijau, tiga orang figur dengan latar monokrom hijau.

Kepala ikan, ayam panggang dan apel hijau, masing-masing dimaksudkan oleh Luddy sebagai representasi simbolik dari selera. Dari sekian banyak hal tersedia, mengapa orang memilih yang berbeda dengan orang lain? Apa yang membuat selera satu orang dengan lainnya tidak sama? Mengapa Luddy menggunakan apel, ayam panggang dan kepala ikan sebagai preferensinya sendiri dari sekian banyak hal yang sebenarnya mampu mewakili wacana yang sedang diangkatnya, yaitu selera?

Studi tentang selera dan diskursus yang berkembang telah cukup tua dipelajari orang. Kant menyatakan bahwa selera adalah murni tanpa kepentingan dan tujuan, serta niscaya. Tetapi Bourdieu dalam surveinya yang panjang berhasil menganalisis bahwa selera, termasuk preferensi terhadap seni, dikonstruksi secara sosial dan merupakan produk adanya perbedaan kelas. Ia membedakan kelas selera tinggi atau aristokrat, dengan selera popular atau jelata. Kelas selera tinggi memandang dari aspek estetika semata yaitu bentuk dan perspektif, yang dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan. Sehingga ia berjarak dan meniadakan kondisi obyektifnya. Sedangkan selera populer atau jelata berkembang lebih alamiah akibat persentuhan obyek tersebut dengan kehidupan sehari-hari, sehingga lebih dibaca atau dipahami kualitas fungsinya ketimbang aspek dekorasinya.

Lebih jauh Bourdieu menyimpulkan bahwa selera merupakan relasi antara habitus, kapital dan arena sosial. Sehingga selera bukan sesuatu yang personal atau privat dan berorientasi pribadi, melainkan penanda orientasi sosial. Jika selera konsumsi seseorang menunjuk pada apel ketimbang ayam panggang dan ikan sebagai preferensi, maka sesungguhnya ia tidak sedang memilih secara bebas. Secara sederhana, pilihannya ini terbentuk dari produksi interaksi antara tiga hal tersebut: pola perilaku (habitus) tertentu, mungkin telah sejak lama mendapatkan manfaat mengkonsumsi apel bagi tubuh; kapital (sosial, budaya, ekonomi, politik) mungkin secara ekonomi mampu membeli; dan arena sosial di mana individu ini mungkin berada di lingkungan vegetarian.

Masih melanjutkan membincang selera, enam lukisan “Ingkung” berukuran 28 Cm X 29 Cm memberikan hanya satu pilihan saja, yaitu ayam ingkung tetapi dengan beragam warna. Abu-abu, kuning, fuchsia, hijau, salem, dan biru, mencolok mata karena berada di antara lukisan cat akrilik berwarna perak di atas kanvas. Bagi Luddy, ingkung atau ayam yang dimasak utuh seluruh badan itu sarat dengan muatan makna. Ia muncul setiap kali acara-acara penting digelar untuk mengungkapkan rasa syukur (Syukuran), mengharap keselamatan (Slametan), atau acara-acara baik lain yang biasa disebut Kenduri atau Kenduren. Setelah doa dipanjatkan, biasanya Ingkung dikepung peserta acara untuk dimakan bersama-sama. Hal ini dilihatnya sebagai simbol kebersamaan dan bisa mewakili selera semua golongan karena tak mengenal strata sosial. Dalam level ini, Luddy menyodorkan fakta lain, meskipun muncul ide untuk mengelompokkan orang-orang dengan selera yang sama –yaitu terhadap Ingkung, namun sesungguhnya preferensi setiap individu terhadap detail pun mustahil sama, entah rasa, warna, tekstur, aroma dan derajat perbedaan selera lainnya.

Di karyanyanya yang lain “Pecinta Ikan Koki” berukuran 145 Cm X 200 Cm menggunakan cat akrilik di atas kanvas, Luddy menggiring ke alam imajinasi. Ia melukis banyak hal di dalam satu bidang kanvas yang terbuka untuk diterjemahkan, teks-teks berupa subyek-subyek yang lepas menggugah para pembaca karyanya untuk mencoba menemukan sendiri kaitan-kaitannya dalam konteks yang melingkupi.

Dengan kompleksitas yang berkelindan seperti di atas, Luddy menggelitik kesadaran kita bahwa selera orang niscaya berbeda karena konstruksi sosial yang melatarinya pun berbeda. Dengan cara bagaimana kita akan melihat karya Luddy? Dengan selera tinggi atau rendah? Apakah kita akan membacanya dengan kacamata yang hanya melihat forma estetis (perspektif dan bentuk) atau mengapresiasi fungsinya sebagai bahasa ungkap realitas sosial yang ada di sekiling kita? Distingsi tinggi-rendah ini mungkin tak bisa kita abaikan, tapi kita tak harus tunduk padanya. Sebab kita bisa mengapresiasi karya Luddy secara tinggi dan rendah, dari forma estetis sekaligus fungsinya.

10th Sangkring Art: Terus Mencipta dan Merekah

27072_1274309418464_1143129_n

Proses Pembangunan Sangkring Art Space

Ada puluhan galeri seni di Yogyakarta. Dari puluhan itu, masing-masing punya karakteristiknya sendiri. Misalnya galeri A hanya akrab untuk seniman-seniman dengan nama besar, galeri B cenderung mengakomodir wacana seni tertentu, galeri C akrab dengan anak muda, dan entah banyak lagi karakter lainnya. Jika anda pelancong atau pegiat seni, anda harus paham dulu karakter-karakter ini jika ingin datang ke galeri yang sesuai selera. Namun alih-alih membatasi diri pada publik dan pegiat seni tertentu, Sangkring Art mencoba merangkum berbagai karakter tersebut dalam satu ruang, tanpa kemudian kehilangan identitasnya.

Dibangun oleh Putu Sutawijaya, pelukis asal pulau Dewata pada 31 Mei 2007 lalu, Sangkring Art kini kian memantapkan keberadaannya. Keberadaannya di Nitiprayan juga turut mempengaruhi citra daerah ini sebagai ‘kampung seniman’. Diisi oleh rumah seniman, studio, kantor maupun galeri seni yang menyebar, kampung ini seolah jadi kawasan edgy baru di Yogyakarta. Sangkring Art yang sudah diakui jadi salah satu galeri seni kontemporer yang mapan jadi salah satu bangunan mencolok di kawasan ini. Nama Sangkring sendiri diambil dari leluhur Putu Sutawijaya, dengan pertimbangan bahwa nama ini dapat menjadi spirit untuk mempertautkan diri dengan masa lalu dan motivasi untuk melangkah dalam medan seni rupa. Dengan makin banyaknya ruang dan programnya kini, Sangkring makin terbuka dengan berbagai macam eksperimentasi dan eksplorasi seni dari berbagai pegiat. Ibarat kata, di ruang ini, yang tua dihormati, yang muda dihargai, yang pinggiran dibela, dan yang alternatif diberi kesempatan. Sangkring menyadari sepenuhnya bahwa ruang seni sebagai ruang berbagi dan solidaritas masih sangat dibutuhkan di negeri ini.

Pameran di Lantai Atas Sangkring Art Space

Pameran di Lantai Atas Sangkring Art Space

Dalam satu dekade kini, perkembangan dan inovasi program serta bangunan terus dilakukan. Dengan lebih dari 55 judul pameran telah dilaksanakan di sini, Sangkring bisa dibilang sangat establish dalam mengelola beragam acara seni. Dengan spiritnya tadi, Sangkring tentu membutuhkan ruang-ruang untuk mengakomodasi beragamnya ide dan bentuk kesenian. Untuk itu, tak hanya secara program, Putu Sutawijaya dan tim Sangkring juga membangun ruang-ruang baru. Jika dulu di awal berdirinya Sangkring Art Space hanya punya satu galeri, sekarang ini area pameran Sangkring mencapai lebih dari 500 m2.

Berkunjung ke Sangking, di bagian depan terdapat Sangkring Art Space, anda akan menemui galeri white cube ala galeri seni New York –beberapa media menyebutnya begitu. Terdiri dari dua lantai, ruang ini mengakomodasi pameran seni konvensional oleh seniman-seniman representatif. Ruang tertutup bercat putih polos dengan lantai kayu dan pencahayaan artificial yang mumpuni mampu menonjolkan kontras antara karya dan ruang. Di ruang ini berbagai pameran berskala besar pernah diadakan. Salah satunya adalah pameran yang diadakan di bawah Kementrian Luar Negeri Italia, yang berjudul “Doppio Sogno dell’Arte – 2RC Tra Artista e Artefice” pada 2010 lalu. Pameran yang hanya diselenggarakan di 3 kota di Indonesia ini memamerkan 145 karya dari seniman-seniman grafis dunia seperti Francis Bacon, Sam Francis, Helen Frankenthaler, Nancy Graves, Henry Moore, Louise Nevelson, Victor Pasmore, George Segal, dan Graham Sutherland. Karya-karya mereka ini turut membentuk linimasa seni rupa internasional. Selain itu, nama-nama besar seperti Nasirun, Jumaldi Alfi, Pupuk Daru Purnomo dan lain-lain juga pernah menggelar pameran tunggal di sini. Pameran tunggal Nasirun tahun 2009 yang berjudul “Salam Bekti” bahkan mendapat sorotan media cukup besar kala itu.

Bekerja Sama dengan Kedutaan Italia, Memamerkan Karya-karya seniman Avant Garde

Bekerja Sama dengan Kedutaan Italia, Memamerkan Karya-karya seniman Avant Garde

Presentasi: Enin Supriyanto

Presentasi: Enin Supriyanto

Pameran Doppio Sogno dell’Arte – 2RC Tra Artista e Artefice

Pameran Doppio Sogno dell’Arte – 2RC Tra Artista e Artefice

Peristiwa Sebuah Kelas, Proyek oleh Grace Samboh

Peristiwa Sebuah Kelas, Proyek oleh Grace Samboh

Melewati lorong menuju ke belakang anda akan menemui area luas dengan beberapa gedung. Secara berurutan, Putu Sutawijaya dan Jenni Vi Mee Yei juga membangun Sangkring Art Project dan Bale Banjar sebagai galeri pamer. Sangkring Art Project menempati lantai dua bangunan di tengah area terbuka Sangkring. Ruang ini mengedepankan laku proyek seni eksperimental seniman dari berbagai latar belakang, termasuk usia dan disiplin ilmu. Sangkring Art Project diresmikan pada 18 Maret 2011 dan didesain sebagai ruang yang lebih ramah dan terbuka untuk berbagai kemungkinan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Gelaran yang ada di Sangkring Art Project juga tidak melulu berupa pameran, tapi juga berbentuk pertunjukan seni, kolaborasi, presentasi seni dan lain-lain. Salah satu program reguler Sangkring, Adu Domba diadakan di ruangan ini. Program ini mempertemukan dua seniman untuk membahas satu wacana, yang pada saat pembukaan pameran biasanya juga melibatkan pertunjukan atau bentuk seni lain.

Dialog bersama Goenawan Mohamad di Sangkring Art Project

Dialog bersama Goenawan Mohamad di Sangkring Art Project

Program Adu Domba Perdana

Program Adu Domba Perdana

Ruang galeri ketiga dan terbaru adalah Bale Banjar Sangkring. Galeri ini diadaptasi dari spirit lokal masyarakat Bali yang dibawa Putu Sutawijaya bersama Nyoman Adiana dan dimaksudkan sebagai public space di Sangkring Art. Sebuah ruang temu yang bisa diakses siapa aja, ruang dialog pegiat seni yang membuka kemungkinan terhadap segala sesuatu. Spirit edukatif Sangkring juga terwujud dalam desain ruang kelas Bale Banjar yang punya sekat-sekat terbuka, bukan untuk membeda-bedakan, tapi justru untuk tetap memberikan ruang untuk menghargai perbedaan dalam satu ruang yang sama. Ruang ini memungkinkan untuk pameran kolektif, lokakarya, pertunjukan seni dan kegiatan lain. Pameran “6 in 1” yang digelar akhir bulan lalu oleh 6 perupa angkatan 1991 mewujudkan spirit ini. Mereka adalah Putu Sutawijaya, Bunga Jeruk, Feintje Likawati, Bob Sick, Anggar Prasetyo dan Yustoni Volunteroo. Mereka membuat pameran tunggal kolektif di masing-masing ruang di Bale Banjar. Dipisahkan sekat-sekat terbuka, mereka tetap bisa memunculkan karakteristik masing-masing sekaligus merepresentasikan gaya seni rupa angkatan mereka.

Pameran 6 in 1 di Bale Banjar Sangkring, Memberi Tanda Hormat Kepada Subroto SM

Pameran 6 in 1 di Bale Banjar Sangkring, Memberi Tanda Hormat Kepada Subroto SM

The Gift; Gelaran 10 Tahun Sangkring

The Gift; Gelaran 10 Tahun Sangkring

Bale Banjar sekaligus menjadi tempat diselenggarakannya program tahunan Sangkring Art, yaitu Yogya Annual Art dan Biennale Perupa Muda. Event tahunan ini diadakan Sangkring Art Space secara rutin untuk merangkul seniman dari berbagai kalangan, memunculkan nama-nama baru, untuk menyegarkan wacana di meda seni rupa maupun pasar seni rupa sendiri. Sedangkan wacana kesenian yang bergulir di ruang Sangkring Art Space dikelola oleh Dewan Sangkring; Kris Budiman, Samuel Indratma, Yuswantoro Adi dan Putu Sutawijaya. Mereka ini lah yang juga mengatur program-program internal yang diadakan Sangkring. Dewan yang terdiri dari beberapa seniman senior ini secara tidak langsung juga telah membentuk medan seni rupa sendiri di lingkungan Sangkring Art, kolega, dan publik yang lebih luas. Bagaimana Sangkring mengelola ruangnya secara mandiri pun juga turut mempengaruhi wacana yang dibentuk. Sebagai ruang seni, Sangkring tak seperti kebanyakan galeri atau ruang lain yang mendapat suntikan dana dari lembaga tertentu. Sangkring adalah institusi mandiri, yang menghidupi ruang dari usaha-usaha internalnya sendiri. Hal ini juga menjamin independensi wacana yang dilahirkan Sangkring sebagai sebuah ruang seni.

Sajian Musik bersama Warning Magazine

Sajian Musik bersama Warning Magazine

Beberapa komunitas juga turut memberi warna, baik menjadikan Sangkring sebagai lokasi bertemu dan berbincang sekaligus menampilkan program dan pertunjukan. Tempat inilah yang mencatat beberapa peristiwa lewat aktivitas kawan-kawan Bol Brutu, Folk Mataraman Institut hingga yang paling hangat BARDI. Selain itu, Sangkring sebagai sebuah ruang menyatakan makin terbuka terhadap program-program yang berasal dari pihak luar. Sangkring juga tak menutup diri pada program kesenian saja. Fasilitas lain yang ada di Sangkring Art selain ruang-ruang galeri pamer, seperti Sangkring Stockroom; Library n Artshop, Home Stay dan Warung Sangkring, area outdoor dan Studio Rekaman juga bisa dimanfaatkan untuk membuat event tertentu. Beberapa waktu lalu, kolektif WARN!NGMAGZ mengajak Sangkring berkolaborasi mengadakan acara musik dan pameran ilustrasi berbasis pada karya musik. Acara berlangsung meriah dan didominasi oleh anak-anak muda. Atmosfir menyegarkan seperti ini yang ingin dicapai oleh Sangkring kedepannya sebagai ruang seni. Ruang yang terbuka bagi siapapun yang punya karya dan mau maju dengan pemikirannya. Kesempatan lain juga pernah diisi oleh Community binaan Go A Head People yang mengakomodir para pengjkarya muda dengan semangat yang lebih Pop.

Di tahun kesepuluhnya ini, Sangkring Art makin membangun dirinya sebagai sebuah ekosistem seni dan ruang kreatif yang lengkap dan suportif. Sebab hanya di ekosistem semacam itulah akan lahir sosok-sosok baru dengan karya dan pemikiran yang patut mendapat tempat dalam sejarah. (Titah AW & Huhum Hambilly)

Allegory of The Origin

18953598_10210022167131367_3851766148816297767_o

Allegory of The Origin
by Willy Himawan
13 – 28th June 2017
Opening start with discussion, 13th June 2017 16:00 WIB
At Sangkring Art Project
Nitiprayan Rt 1 Rw 2 No. 88 Ngestiharjo, Kasihan Bantul Yogyakarta 55182


Jogja Editions

poster JE_ok (1)
 
Ruang Berlapis Intaglio Sebuah Catatan untuk JIMB 2017

Jogja International Miniprint Biennale (JIMB), sebuah ajang internasional dua tahunan berhasil menempatkan dirinya sebagai tolak ukur perkembangan seni grafis di Indonesia. Berbeda dengan tradisi bienale di arus utama yang rumit dan gigantik, JIMB justru secara leluasa dan responsif menawarkan kesederhanaan melalui karya-karya berukuran mini. Model bienale ini melancarkan terciptanya mobilitas dan efisiensi. Sejak digelar, JIMB pada gilirannya telah menjadi sebuah ajang yang turut mewakili nama Indonesia di forum seni grafis kontemporer dunia. JIMB telah menawarkan berbagai kemungkinan dalam teknik seni grafis yang belum dikembangkan penggrafis tanah air (dengan alasan miskinnya infrastruktur studio grafis yang bisa segera bisa dimaklumi bersama), terutama kekayaan teknik intaglio dan litografi. Pengalaman melihat karya-karya grafis mancanegara ini sangat penting guna mengukur semaju apa perkembangan seni grafis kita dan, tentu saja sejauh mana kita sudah tertinggal.  Dari perjalanannya, JIMB membuktikan bahwa karya-karya cetak sanggup menembus keterbatasannya yang mana kemudian bisa dihargai sebagai analisa kritis atas representasi kebudayaan kontemporer yang selama ini didominasi seni lukis.

Karya-karya yang mendapat perhatian istimewa dalam JIMB kali ini menampilkan teknik intaglio yang berkembang di Eropa setelah cukilan kayu. Intaglio – populer di Indonesia dengan sebutan cetak dalam –  menggunakan plat tembaga sebagai bidang yang ditoreh sehingga area cekungnya menahan tinta. Saya sebelumnya mengatakan bahwa teknik ini belum seberapa berkembang mengingat masih sedikit karya-karya di tanah air yang sanggup keluar dari sejumlah kendala. Bagi penggrafis yang berkutat pada teknik ini, mereka bertahan tak lebih dari sekedar teknik kalau tidak bisa disebut belum memperlihatkan penjelajahan tema yang dengan kerangka konseptual dan estetika yang maju. Kita akan melihat bagaimana kualitas teknik intaglio dalam pameran JIMB saat ini dan bagaimana karya karya terpilih dari seniman Paolo Ciampini, Dimo Kolibarov, dan Deborah Chapman unggul dari segi teknik, konseptual dan estetika.

Karya Paolo Ciampini (Italia) cenderung memadukan nuansa gelap di mana impresi manusia dan hewan muncul akibat pencahayaan yang menempatkan mereka ke dalam sebuah situasi sunyi, puitis sekaligus nostalgis. Sementara beberapa sosok di situ tampil secara ikonografis, yang lainnya berpose untuk sebuah komposisi fotografis yang ganjil. Potongan anatomi atau pose-pose wanita di situ juga seakan menata keilahian yang telanjang dari sebuah inspirasi klasik seraya mengembalikan bayangan kita pada seni-seni renesans. Semua itu tak hanya memperlihatkan teknik grafis Ciampini dengan efek tonal yang tampil secara prima, tetapi juga untuk mengembangkan gagasan. Karyanya menghadirkan tingkat kesulitan dan juga sebuah bukti keterampilan dalam menggambar. Ini tentu bukanlah pekerjaan mudah bagi pengamat yang memahami bagaimana teknik intaglio dalam seni grafis dikerjakan.

Dimo Kolibarov (Bulgaria) tampaknya berminat pada ruang-ruang berlapis yang saling menghubungkan satu tempat ke tempat lain, menghubungkan satu citra ke citra lainnya. Ruang itu menempatkan manusia ke dalam situasi abnormal meski masih mengacu pada realitas dan kita kenali sebagai pantai, labirin, atau sebuah sudut rumah dengan kursinya. Kolibarov juga mempersoalkan transisi ruang yang mengubah imaji manusia sebagai hewan sehingga mengesankan peristiwa janggal – kalau tidak bisa disebut surealistis. Seorang anak kecil tampil simultan di beberapa karya dalam sebuah obsesi kejiwaan. Ia mendekap seekor hewan (atau sebuah boneka) yang menjaganya dari sebuah ancaman dan dari konflik antara ruang pribadi dan ruang publik, antara ruang keluarga dan ruang sosial, antara ruang budaya dan ruang yang berguna, antara ruang santai dan pekerjaan. Anak itu mewakili kehadiran tersembunyi yang suci.

Dengan teknik mezzotint, Deborah Chapman (Canada) melayani fantasinya yang tak terbatas melalui perpaduan janggal antara benda, buah, hewan dan figur manusia. Dengan latar gelap (ciri khas teknik ini), objek-objek itu berjalinan membangun narasi misterius. Sementara di karya lainnya, Chapman lebih memperkuat komposisi – suatu keseimbangan untuk menyempurnakan simbolisme. Objek bola memantulkan bayangan di sekitarnya: sebuah tangga teronggok di celah lubang kotak. Kesan bayangan itu mengambil sifat-sifat teritorial manusia, dengan pengawasan sadar dan bawah sadar tentang kehadiran dan ketidakhadiran, masuk dan keluar. Pengungkapan akan demarkasi perilaku dan batasannya memungkinkan terjadinya definisi tentang apa yang ada di dalam dan di luar dan yang dapat mengambil bagian dari sublimasi yang melekat.

Sehelai hasil cetakan semula hanyalah sebuah kesan pada kertas dari sebuah gambar yang ditinggalkan oleh objek lain. Itu berbeda dengan melukis, di mana kesan ditinggalkan oleh kuas yang gambarnya  sudah terbentuk sempurna. Namun peradaban berhutang ingatan pada cetakan ini. Ketika dia dibebaskan menjadi kerja otonom seniman, seni grafis mengambil tempat dalam berbagai gejala seni, termasuk gejala-gejala yang meninggalkan prinsip seni modern melalui duplikasi merek panganan kaleng oleh Andy Warhol. Seni grafis tampaknya akan terus keluar-masuk menjadi bagian dari peradaban dan berpeluang besar menjadi instrument kritikal di tangan seniman.

Leiden, 29 April 2017

Aminudin TH Siregar

 

Yogya Annual Art #2 2017, Bergerak

Poster YAA #2 oke

Yogya Annual Art #2 2017
“Bergerak”

15 Mei-15 Juni 2017
Galeri: Bale Banjar Sangkring

Pembukaan: 15 Mei 2017, 19.00 W.I.B
Oleh: Bre Redana

Seniman:
AGUS ‘BAQUL’ PURNOMO

ANDY WAHONO

AT. SITOMPUL

AYU ARISTA MURTI

BEATRIX HENDRIANI KASWARA

CITRA SASMITA

DADI SETIADI

DEDY SUFRIADI

EKO DIDYK ‘CODIT’ SUKOWATI

ERIANTO

ERIZAL AS.

GALUH TAJI MALELA

GUSMEN HERIADI

HAYATUDDIN

HONO SUN

I NYOMAN ‘ATENG’ ADIAN

I NYOMAN AGUS WIJAYA

I NYOMAN DARYA

I PUTU AGUS SUYADNYA

I PUTU WIRANTAWAN

IWAN SRI HARTOKO

IWAN YUSUF

JONI RAMLAN LUDDY ASTAGHIS

MASLIHAR

MUJI HARJO

MULYO GUNARSO RIDUAN

RISMANTO

ROBI FATHONY

RONALD APRIYAN

RUDY ‘ATJEH’ DHARMAWAN

SUHARMANTO

SURAJIYA

TAUFIK ERMAS

TOMMY WONDR

WAHYU ‘ADIN’ WIEDYARDINI

WILLY HIMAWAN

YAKSA AGUS

Karya Spesial: SUBROTO SM

The Gift

The Gift: 10 Tahun Sangkring Art Space

poster fix

 

Bagaikan bulan sabit mengembang malam demi malam, demikian pemberian adalah tanah berlimpah panen (petikan dari Anucasanaparvan, Kitab XIII Mahabharata).

Perayaan ulang tahun ke-10 Sangkring Art Space dapat kita pahami sebagai sebuah peristiwa yang dalam risalah antropologi biasa disebut sebagai ritual intensifikasi atau ritual penyatuan kembali. Fungsi utamanya adalah sebagai pemanggungan dan peneguhan kembali ikatan-ikatan sosial. Dramatisasi dan reafirmasi sosial. Melalui peristiwa ini, mereka yang tercerai-berai dapat berkumpul lagi. Ikatan-ikatan sosial yang burai pun dibuhul kembali. Barangkali, ditilik dari sisi romantiknya, peristiwa ini segera ingin diberi makna sebagai ajang kangen-kangenan; tetapi, dari sisi yang lebih formatif, ia dapat menjelma sebagai ajang pertukaran. Adalah hal yang jamak jika sebuah perayaan seperti ini sekaligus menjadi momentum untuk memberlanjutkan pertukaran, saling bertukar pemberian atau hadiah.

Pemberian, apakah ia niscaya obligatoris atau sukarela, sarat-kepentingan atau bebas-kepentingan? Pemberian yang generous, adakah? Konsep tentang sedekah, bahkan persembahan dan pengorbanan bagi dewa-dewi atau tuhan sekalipun, sedikit-banyak obligatoris dan sarat-kepentingan. Maka dari itu, jangan heran jika seorang Marcel Mauss, dalam The Gift: Forms and Functions of Exchange in Archaic Societies (1967), masih terus berhadapan dengan para penanggapnya yang kritis. Donasi darah, misalnya, mungkin bisa mewakili imajinasi kita tentang the free gift. Dalam konteks intensifikasi, tentu ia boleh ditafsir secara metaforik: saling memberi spirit, gairah kehidupan. Daya hidup, jika kita pinjam ungkapan Rendra. Pemberian di dalam momentum ini bak darah yang mengalir, memberi daya hidup bagi siapa saja. Ia mengalirkan doa dan harapan.

Terlebih lagi, sebagaimana dikatakan juga oleh Mauss (1967: 66-77), pemberian bukanlah fenomena atau aktivitas yang parsial. Dalam mengartikulasi tatanan sosial, ia tidak semata-mata bermatra moral dan religius, apalagi sekadar morfologis, melainkan juga estetik. Matra terakhir ini tak bakal terengkuh apabila kita memahaminya dari perspektif moral-ekonomi semata-mata, sebab yang bermain adalah sisi artistik dan simbolik yang sarat makna. Pada sisi ini pemberian mencapai kapasitas produktif, yakni sebagai penciptaan tanda-tanda yang, seperti dikatakan tadi, mengekspresikan keberlanjutan daya hidup. Bagaimanakah tanda-tanda dipertukarkan, diperbincangkan? Adakah perbincangannya bergerak ke dalam, involutif, atau meruyak ke luar menemu potensi makna-makna yang lebih demokratis?

Dalam ungkapan metaforik lain yang kita pungut dari Mary Douglas dan Baron Isherwood, The World of Goods (1996): apakah pemberian ini hendak dibubuhi makna sebagai pagar atau jembatan? Sebaris pagar tentu saja bermakna membatasi, membangun eksklusi; sedangkan sebentang jembatan menghubungkan, menjalin relasi sosial yang inklusif. Jika kita kembali ke dalam pemahaman awal tentang peristiwa intensifikasi yang berfungsi untuk menyatukan mereka yang berserak, Sangkring Art Space telah berkomitmen untuk tetap mempertahankan perannya sebagai jembatan yang inklusif itu. Kita ingin melangkah ke seberang bersama-sama, tidak sebatas pada para seniman yang berpartisipasi di dalam pameran besar ini, melainkan juga jagad seni rupa yang begitu jembar.

Teruntuk sebuah ruang seni yang diberkati, the gifted Sangkring Art Space, mari kita serukan: Dirgahayu!

Kris Budiman