Sangkring Art | Blog Large Image Whole Post
18956
paged,page-template,page-template-blog-large-image-whole-post,page-template-blog-large-image-whole-post-php,page,page-id-18956,page-child,parent-pageid-1815,paged-13,page-paged-13,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.4,stockholm-kudaterbang-net,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12.1,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-22345

Solo Exhibition Dewi Candraningrum “Dokumen Rahim” @ SAP

Solo Exhibition

Dewi Candraningrum

“Dokumen Rahim”

Opening : Friday, march 13th 2015  7.30 Pm

Opened by :

Saras Dewi

Curator by:

Kris Budiman
Exhibition will be held until : march 25th 2015

 

Dokumen Rahim

 1.

Gagasan-gagasan di dalam benak niscaya berseliweran tidak sistematis. Menuangkan gagasan ke dalam sebuah tulisan pada dasarnya adalah membuatnya menjadi sistematis, terstruktur. Begitulah dunia Dewi sehari-hari, baik sebagai seorang akademisi maupun pemimpin redaksi sebuah jurnal ternama, yakni menata kata-kata dengan tertib. “Kata-kata membutuhkan engkau untuk disiplin dalam ritme terstruktur,” ujarnya. Yang mungkin belum banyak diketahui khalayak adalah sisi lain dari dunia Dewi. Ia bagaikan sisi lain dari sebuah koin yang sama, namun memiliki karakteristik yang berkebalikan. Melukis adalah dunia lain seorang Dewi Candraningrum. Dia sangat terobsesi dengan kerja melukis, mengolah warna, semenjak beberapa tahun belakangan ini. Warna-warna, dalam pandangannya, merupakan ranah diksi yang jauh berbeda, yang tidak membutuhkan sistematisasi demi membangun tatanan. “Tetapi warna-warna? Mereka meminta engkau untuk tak waras seutuhnya,” demikian simpulnya.

2.

Ratusan gambar dan sketsa charcoal-nya, dengan garis-garis liris dan permainan bayang nan lirih, menyodorkan gugusan tanda-tanda monokromatik yang sebagian berupa tubuh-tubuh perempuan telanjang, di samping potret. Di dalamnya mungkin dapat kita tangkap makna-makna emosional tentang kesedihan, duka dan derita. Akan tetapi, seperti pernah dikatakan juga oleh Dewi, toh “[k]esedihan tidak niscaya monokromatik. Kesedihan juga memiliki warna.” Maka dari itu, tidak perlu heran jika melalui sebagian besar karya-karya lukisnya kita akan diterpa oleh karnival warna. Lukisan-lukisan yang memanfaatkan media akrilik dalam genre potret (portraiture), rangkaian closeup wajah-wajah itu, menghadirkan goresan-goresan liar dan bidang-bidang chaotic yang gila warna.

Di luar aspek yang menerpa mata ini, pilihan genre-nya sendiri telah berhasil membangkitkan kembali ingatan saya akan pernyataan yang pernah dikemukakan oleh Michael J. Shapiro dalam The Politics of Representation (1988: 126), bahwa potret adalah sebuah genre yang cenderung “tersedia” bagi mereka yang berstatus menengah-ke-atas. Oleh karena itu, adalah suatu pengalaman yang menarik ketika kita melihat potret seseorang yang tergolong “freak”, yakni mereka yang dianggap “menyimpang”, yang terpinggirkan dari tatanan sosial yang mapan. “As a result,” lanjut Shapiro, “the viewer, whose interpretive codes are challenged, is inclined to reflect upon status or place within the social order.” Di titik inilah kita dapat menempatkan sebagian dari lukisan potret Dewi yang menantang determinasi kode genre-nya. Sebab dia telah melukiskan sosok-sosok yang dengan cara dan kadarnya masing-masing tergolong sebagai devian, mulai dari Yesus sampai dengan Hannah Arendt; pun sosok-sosok marginal yang anonim, tanpa identitas, kecuali sebagai anak-anak perempuan korban pemerkosaan. Serial lukisan yang terakhir ini, bagi saya, merupakan salah sebuah penanda empati Dewi yang paling ketara.

3.

Apabila pameran ini dibubuhi tajuk Dokumen Rahim, hal ini pun kemudian menjadi sebuah pilihan yang masuk akal. Sebab Dewi telah mencoba untuk mencatat pengalaman-pengalaman personalnya, perjumpaan-perjumpaan intersubjektifnya dengan beragam duka-cerita manusia dan peristiwa. Dengan kesengajaan memilih istilah dokumen, Dewi seolah hendak merekam, pinjam sepenggal larik dari Goenawan Mohamad, “sesuatu yang kelak retak” dan dia ingin “membikinnya abadi” di atas permukaan kanvas dan kertas. Peristiwa dan beragam manusia itu pun dia ringkaskan ke dalam sepatah kata, yaknirahim. Kita tahu, baik di dalam percakapan sehari-hari maupun wacana religius tertentu, kata ini secara konvensional dipahami sebagai kualitas yang bahkan cenderung ilahiah (divine), yaitu penyayang, welas-asih, dan mengampuni. Kecuali itu, sebagai kata benda, rahim juga merujuk kepada organ reproduksi tertentu pada tubuh perempuan, yaitu kandungan (uterus). Dari ruang sakral yang dinamakan rahim inilah kelak dilahirkan anak-anak kasih-sayang. Dengan demikian, di sini rahim telah menjelma sebagai sebuah tanda metonimik bagi Yang Feminin (the Feminine), yang tentu saja perlu kita pahami tanpa implikasi pembatasan biologis (seksual) apapun.

Kris Budiman

 

Solo Exhibition FRANZISKA FENNERT “Place the King in the Right Position” @ SAP

 

Solo Exhibition

FRANZISKA FENNERT

“Place the King in the Right Position”

Opening : Thrusday, January 15th 2015  7.30 Pm

Opened by :

Dr. Oei Hong Djien
Exhibition will be held until : january 30th 2015

Franziska Fennert tumbuh di Jerman bagian timur, di kota Rostock, sebuah kota pelabuhan di tepi Lautan Baltik. Saat ia berusia lima tahun, Franziska beserta kedua orangtuanya pindah ke tempat yang sangat terpencil, ke sebuah rumah di tengah hutan. Suatu tempat yang sedikitnya mengingatkan kita akan adegan-adegan dari cerita rakyat Jerman (“Marchen”). Rumah ini berlokasi di hutan yang dikelilingi pepohonan dengan bermacam fauna hutan seperti rusa dan babi liar hidup di sekitarnya.
Di masa dewasanya Franziska Fennert masih mempertahankan jiwa petualangnya; melancong sendirian ke negeri-negeri asing, mencari segala hal yang berbeda dari yang ia alami sebelumnya, atau [sekadar] mencari tantangan baru. Pada kisah-kisah romantik, topik pengembaraan seringkali muncul. Sang tokoh utama meninggalkan tempat mereka berasal, biasanya dengan berjalan kaki, mencari sesuatu yang berbeda, atau berupaya meraih kebahagiaan. Beberapa dari para petualang dan pengembara ini pada akhirnya mencapai tujuan mereka, atau menemukan cita-cita yang mereka cari. Sebagian lagi gagal, pulang atau tak pernah menuntaskan petualangan mereka.
“Place the King in the Right Place” adalah sebuah perbincangan dan pertukaran pada tataran yang adil dan sejajar, dan bukannya mengenai penguasaan atau pemanfaatan budaya lain. Saat ditempatkan ke dalam sebuah dialog antar kebudayaan, karya-karya Franziska ini mampu memposisikan ulang seni rupa pada tempat yang semestinya: sebagai jembatan sejati dan cara yang efisien untuk berkomunikasi. Franziska Fennert dengan kepeduliannya terhadap arah gerak dunia bukanlah seorang penganut Neo-Romantik, dan tentunya karya-karyanya bukanlah campuran eklektik antara berbagai kebudayaan di seluruh penjuru dunia namun sebuah pilihan yang disadari bersandar pada alasan-alasan filosofis dan artistik. Dengan demikian Franziska menyodorkan cermin di hadapan khalayak dan bertanya kepada mereka di mana dan siapa anda dalam gambaran utuh ini. Ia telah membawa kita dalam sebuah petualangan sepanjang Jalur Sutera dan kini kembali ke Yogyakarta.
Pameran ini oleh Franziska diberi tajuk Place the King in The Right Position. Sesunggunya Raja yang dimaksud oleh Franziska bisa merupakan metafor dan dengan berbagai kemungkinan makna.Hal itu juga terefleksikan dalam karya-karya Franziska.Raja bisa berarti penguasa dalam beberapa pengertian sekaligus.Saat ini kapitalisme bisa dinobatkan sebagai raja-diraja global, sebab kapitalisme mampu mengatur segala sesuatu di dunia ini sesuai kehendaknya.Raja juga bisa diwakili oleh para pemilik kapital, yang menjadi agen utama nasib masyarakat dunia.Demikian berlapis-lapis tingkatan raja, sampai akhirnya setiap orang, menurut Franziska sesugguhnya adalah raja bagi dirinya sendiri.Artinya, jika setiap orang sadar bahwa dirinya adalah miliknya paling utama, tentu dia dapat ikut bermain dan memiliki posisi tawar, sejauh dia memahami pola-pola kekuasaan yang berlaku.
Sulit disangkal bahwa kapitalisme telah menjadi pemain utama dalam sistem global saat ini. Namun tak kurang pula pihak yang dapat menunjukkan bagaimana kapitalisme akan membawa dunia pada kehancuran. Kapitalisme melalui jejaring neoliberalisme memang telah menyebabkan eksploitasi yang berlebih atas segala sumber yang ada di muka bumi ini, untuk memenuhi konsumsi masyarakat global. Tentu saja selalu ada pemikiran dan gerakan yang berupaya mengoreksi kapitalisme.Cukup banyak pemikiran dan analisis yang dapat menunjukkan betapa kapitalisme pada akhirnya hanya menguntungkan segelitir pemilik modal, dan itu harus dibayar melalui degradasi sumber daya alam. Berbagai ramalan buruk ke depan berkenaan dengan kapitalisme tentu saja bisa menjadi pemicu bagi banyak pihak untuk waspada pada sistem ekonomi kapitalisme yang saat ini menguasai dunia. Masalahnya, di Indonesia kesadaran mencari alternatif atau sikap kritis terhadap sistem kapital tersebut bisa dikatakan absen.
Situasi global terakhir merupakan babak terakhir dari perjalanan manusia. Namun cerita manusia dari awal peradaban sampai saat ini tidak lain tidak bukan adalah: mengenai upaya manusia untuk saling menguasai. Sejarah perjalanan manusia tak lain adalah perjalanan segelintir manusia yang berkuasa dalam menentukan nasib sebagian besar manusia lain: rakyat jelata. Catatan sejarah kurang lebih merupakan catatan mengenai segelintir penguasa menentukan sejarah dunia. Saat ini, di penghujung perjalanan manusia, situasinya kurang lebih sama. Segala kemajuan yang dibuat manusia tampaknya selalu berbanding lurus dengan kehancuran yang menyertainya.Kemajuan teknologi informasi, alih-alih menyebarkan kebaikan, namun lebih mudah menyebarkan kerusakan.Pengrusakan alam semakin parah, dengan hasil anomali cuaca karena global warming.Kekerasan antara bangsa, agama (bahkan sesama agama), ras, etnis terus berlanjut.Jurang antara kelompok kaya dan miskin semakin melebar, baik antara negara maupun kelompok sosial. Penjajahan antar manusia tak berkurang.Penjajahan dan eksploitasi melalui kekuatan ekonomi saat ini agaknya menjadi hal yang paling nyata, dan marasuk ke seluruh penjuru dunia.
Itu semua kita tahu.Namun kita sepertinya tak tergerak untuk berani mengubahnya.Atau mulai mengubahnya.Franziska adalah seniman yang memiliki semangat dan pemikiran untuk mencari alternatif, setidaknya dari sikap hidupnya sendiri.Franziska ingin menjadi raja bagi dirinya sendiri, tak ingin mudah kalah oleh gempuran prinsip-prinsip kapital.Hal ini menjadi dasar dari misi kesenian Franziska.Keyakinan tersebut yang menjadikan pendorong utama dan bahan bakar bagi intensitas berkeseniannya. Dia bergerilya secara mandiri.Franziska adalah penganut perubahan kecil atau sedikit demi sedikit. Misi tersebut disampaikan melalui karya-karyanya dan menjadi gaya hidup yang diyakininya dengan rasa bahagia.
Sumber imajinasi lain bagi Franziska adalah sastra dan filsafat, dengan menukil karya Gottfried Willhelm Leibniz sebagai filsuf idolanya. Franziska berkisah mengenai perpustakaan kakeknya, tempat ia menemukan buku-buku. Beberapa di antaranya adalah buku mengenai legenda dan kisah-kisah dongeng; dan mengenai “Perpustakaan Sastra Dunia” yang memuat novel-novel karya penulis tenama dari bermacam negara. Franziska berujar: “Apa yang bisa kau lakukan di tengah hutan? Tak banyak kegiatan menghibur tersedia di sana…” Membaca telah membawa Franziska ke sebuah dunia paralel penuh dongeng mitos dan imajinasi.

Artwork

 

group exhibition “Eyes To Think” @ SAS

 

Group Exhibition

Emest Chan, Ina Conradi Chavez, Lau Eng Seng, Leroy Sofyan, Mark Joyce, Muang Nyan Soe, Raymond Yap, Terry Wee, Yong Kah Kin, Zulkhairi zulkiflee.

“Eyes To Think”

Opening : Friday, September 12th 2014  7.30 Pm

Guest of  Honour :

Mr. Suwarno Wisetrotomo

Curator:

Lau Eng Seng and Raymond Yap
Exhibition will be until : September 27th 2014

 

Frequently, the relationship between arts and sight has been extremely bonded together; our eyes have been a crucial tool for us to see and to communicate with one another. Yet, have we taken our eyes for granted? That we use it to see, rather than to observe?

How often have we caught ourselves skimming through the webpages or just glancing through subjects without much thoughts going through our mind? Is that becoming a habit to us, subconsciously, that we tend to stop asking ourselves questions when we are looking around? Or have we lost our curiosity as a child? Have we failed to distinguish the stark difference between seeing and observing?

“Eyes To Think’’ exhibition will entice the participating artists to question their ways of seeing and will be presenting their output or conclusion in the period of this exhibition.

As the American educator, Bill Cosby, once said, ”Every closed eye is not sleeping, and every open eye is not seeing.”

The main objective of this exhibition is to question our ways of seeing, our sense of sight and to have a conclusion or understanding at the very least, through their perceptions that is to be presented through the artworks.

The other objective is to hope that throughout this exhibition, it will spur a new perspective (wisdom) within the participating artists whom have already demonstrated their creativity in their current practice, and for the audience to observe different approaches in arts at an emotional and intellectual level.

Last but not least, the objective of this project is to promote a friendly relationship between Singapore and Indonesia, establishing a greater understanding between the two cultures and exchanging of ideas in visual arts as well.

 

Lau Eng Seng

Independent Artist & Curator

Lau Eng Seng is a Singapore-born artist, graduated with Diploma in Fine Art from the Nanyang Academy of Fine Arts in 2012. Much of his work concentrates on the current period with research interests in sociology and anthropology. His art practice is driven by research-based methodology and presented through various languages of art. Lau has been exhibiting actively in Singapore & overseas.

Lau took up the interest of curating under the guidance and mentorship from Royal Academy graduate (2001), Raymond Yap, who is now a lecturer in the Nanyang Academy of Fine Arts and also the co-curator of “Eyes To Think”

Dokumentasi Display


group exhibition “THREESOME” Dedy Maryadi, Khusna Hardiyanto dan Putra Eko Prasetyo @ SAP

 

 

THREESOME

Threesome adalah memakai atau melakukan “hubungan/sesuatu” dengan tiga orang secara bersama/sekaligus.


Threesome sebagai tajuk yang perupa pakai/ pinjam ini berpeluang untuk di ketengahkan dalam sebuah pameran. Perupa yang terlibat dalam pameran ini adalah Dedy Maryadi, Khusna Hardiyanto, Putra Eko Prasetyo. Mereka bertiga nekat memamerkan diri dalam pameran yang akan di gelar di Sangkring Art Project, pada tanggal 12 – 30 juli 2014.

 

Sedikit tentang perupa:

 

Khusna Hardiyanto merupakan perupa yang cukup konsisten menggarap karya tiga dimensi. Karya-karyanya berbicara tentang lingkungan dan sosial. Dan beberapa karyanya mengandung tema yang personal sekali. Yang menarik dari karya Khusna adalah dia menjelajah ke semua material dan teknis, dari mencetak dengan Fiber, memahat, mengecor logam, menempel, sampai ‘found object’.

 

Dedy Maryadi juga perupa yang intens berkarya dengan media tiga dimensi. Karya-karyanya membicarakan tentang keseharian, lingkungan dan sosial. Karyanya juga personal, apapun tema atau objek yang menarik baginya dapat dijadikan gagasan sebuah karya. Karena bagi dedy, hasil atau eksekusi akhir sebuah karya bukanlah segalanya namun proses berkaryalah yang terpenting dan mengasyikkan.

 

Putra Eko Prasetyo, perupa yang inkonsisten pada media dalam berkarya, tema yang digarap kali ini lebih ke persoalan personal dan sosial.

 

Dalam pameran ini, mereka bertiga bersepakat bahwa tema yang di usung adalah tema yang sangat terbuka. Media ataupun teknis tidak dibatasi. Dan dalam pameran ini mereka berencana menampilkan karya-karya patung, drawing, lukisan dan mungkin instalasi.

group exhibition “melankolia” proyek seni rupa rsks #1 @ SAP

rsks mempersembahkan sebuah pameran bertajuk :

“melankolia”

proyek seni rupa rsks #1

 

seniman:

1. Antoe Budiono

2. Gatot Pujiarto

3. Iwan yusuf

4. Joni Ramlan

5. ‘Keo’ Budi Harijanto

 

pembukaan:

kamis, 19 Juni 2014  19.30 WIB

di buka oleh :

Nyoman Masriadi
Pameran berlangsung sampai  2 Juli 2014

 

“melankolia”

kemandirian tema-tema lukisannya sendiri, yakni aktifitas rutin sehari-hari yang dilukis dengan teknik melukis realis yang teliti, dengan teknik “barikan” yang diterapkan oleh banyak seniman di Batu dan Malang. Sejak lama kedua kota ini memang dikenal menghasilkan pelukis-pelukis dengan teknik melukis realis yang tinggi.

Gatot Pujiarto, 44 tahun, barangkali paling dikenal di antara nama-nama yang lain. Seniman lulusan Jurusan Seni Rupa dan Desain, Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP; sekarang dikenal sebagai Universitas Negeri Malang) ini sudah pernah menjalani program residensi dan beberapa kali mengadakan pameran tunggal. Karyanya menggunakan medium yang tidak biasa, yaitu sisa kain atau kain perca. Dia memanfaatkan teknik jahit menjelujur untuk menyusun mosaik potongan kain, menggabungkannya dengan teknik memilin dan mengikat benang. Kain dan benang menjadi sarana yang ekspresif, mengikuti mood dan intuisi seniman untuk menyusun garis, bidang, bentuk dan warna.

Iwan Yusuf, 32 tahun, berkarir melalui lukisan-lukisan potret sebagai pelukis emperen. Semangat belajarnya untuk mengembangkan teknik melukis potret yang rinci dan ketertarikannya akan pesona wajah seseorang mendorongnya untuk memahami potret sebagai narasi wajah seseorang yang tidak bersifat verbal. Iwan juga tertarik dengan variasi medium, dengan berbagai alternatif bahan yang dengan cepat bisa merangsang sensibilitas realisnya. Iwan menggunakan berbagai bahan, dari kanvas, silikon, kayu, eceng gondok sampai jaring ikan untuk karya-karya realisnya.

Di antara nama-nama itu, ada seniman dari Mojosari yang namanya dikenal di kalangan galeri dan kolektor setempat, yakni Joni Ramlan, 44 tahun. Lukisan-lukisan Joni disukai karena keartistikan garis dan penggunaan warna-warnanya yang manis. Dalam pameran ini Joni berusaha menemukan abstraksi bentuk-bentuk karyanya untuk memperoleh kemungkinan bahasa visual yang lain yang tidak terlalu dekoratif. Dia juga tertantang untuk menggubah karya instalasi rongsokan sepeda sebagai cara untuk menjelajahi kepekaan ruang.

“Keo” Budi Harijanto, 55 tahun, sudah dikenal sebagai pelukis komik yang mumpuni sejak tahun 90-an. Dia sudah melahirkan ratusan jilid komik, umumnya komik-komik adaptasi gaya manga dengan cerita yang dikembangkan sendiri. Tapi “Keo” adalah juga seorang yang piawai dalam teknik menggambar. Kepekaan pada gambar inilah yang kemudian ditemukannya kembali pada foto-foto digitalnya. Foto-foto Keo sangat rinci dan peka pada warna, pada nuansa gelap dan terang. Dengan sangat mendalam ia menggali sisi-sisi traumatis pengalaman personalnya sendiri di masa kecil sampai remaja.

Mengapa pameran ini bertajuk Melankolia?Melankolia pada pameran ini bukanlah suatu metode pembacaan terhadap karya-karya yang dipamerkan, melainkan usaha untuk memaknai perjuangan para seniman, baik secara artistik maupun psikologis. Usaha-usaha itu dilakukan seniman untuk menempatkan diri dalam perkembangan seni rupa di masa ini. Di satu sisi, mereka sudah memilih berkarier di dunia kesenimanan, di sisi lain, seringkali muncul rasa frustrasi untuk memahami seluk-beluk seni rupa yang mereka cintai. Rasa frustrasi itu kerapkali juga bisa ditemukan dalam rangka memaknai representasi karya-karya mereka sendiri. Antara rasa frustrasi dan dorongan untuk terus mengembangkan diri di tengah percaturan seni rupa yang makin luas, ditambah perasaan sebagai seniman-seniman yang di lingkungan yang dianggap marginal, melahirkan semacam perasaan melankoli pada seniman-seniman ini.

Perjuangan para seniman ini didukung oleh rsks, dengan cara memfasilitasi dan mendorong para seniman agar tampil di kancah seni rupa yang lebih luas seraya merelatifkan kemarginalan mereka sebagai seniman.

 

Karya Seniman


 

Art Exhibition ” IJOL : in justify our love ” @Sangkring Art Space

 

Art Exhibition

I Dewa Made Mustika, I Gusti Ngurah Udiantara, Made Sadnyana, Maslihar, Robet Kan,

Nyoman Adiana, Nyoman Darya, dan Wahyu Wiedyardini

” IJOL : in justify our love “

Writer :

Apriadi Ujiarso, Ida Fitri

Opening : Tuesday, May 7th 2014  7.30 Pm
Exhibition will be until : May 31th 2014

 

Solo Exhibition “GEGAT PENGGALIH GUGAT” by Sri Setyawati Mulyani (cipluk) @Sangkring Art Project

 

Selasa, 15 April 2014
Tuesday, April 15th 2014
 Pukul 19.00 wib
at 7.00 pm
Officiated by:
Subroto S.M 
exhibition until : April 27th 2014
Gegat Penggalih Gugat

Repetisi tubuh dalam konteks karya-karya yang dipamerkan kali ini menjadi sesuatu yang enigmatik lantaran dimanfaatkan sebagai suatu strategi yang dinamakan sebagai masquerade, yakni strategi penyelubungan identitas. Penyelubungan atas tubuh ini terutama beroperasi melalui proses-proses metaforik. Akan tetapi, metafora tubuhan (embodied metaphors) di dalam karya-karya Bu Cipuk ini tidaklah dimaksudkan untuk merujuk kepada metafora tentang tubuh atau yang dilekatkan pada tubuh, melainkan terutama kepada metafora yang muncul dalam pengalaman ketubuhan (bodily experience).

Dengan karya-karya visualnya, Bu Cipuk telah berupaya meng-gugat (untuk tidak mengatakannya sebagai melawan) pemosisian tubuh perempuan sebagai objek hasrat yang tanpa daya. Baginya tubuh itu pertama dan terutama adalah subjek yang mengalami. Dia menyodorkan ke hadapan kita makna terdalam dari menjadi-manusia (baca: perempuan) adalah menjadi tubuh yang mampu mengalami gegat penggalih, mengatasi luka (pain) dan alienasi diri, kemudian menjelmakannya sebagai—dalam ungkapan Bu Cupuk sendiri—ruang permenungan sekaligus siasat untuk bertahan hidup.

 

(Kris Budiman)

 

Art Work

Art Exhibition “FRIENDSHIP” of D’nyon2 n’ D’nyin2 by Septi Asri Finanda & Kadek Primayudi @ Sangkring Art Project

 

Sabtu, 29 Maret 2014
Saturday, March 29th 2014
 Pukul 19.00 wib
at 7.00 pm
Officiated by:
Koni Herawati
FRIENDSHIP

Pameran tunggal www.dnyonnyin.com merupakan pameran pertama sebagai upaya untuk kembali memperkenalkan karakter D’nyon2 n’ D’nyin2 (baca: de nyon nyon en de nyin nyin) yang selama ini teraplikasi dalam produk fashion. “Friendship of D’nyon2 n’ D’nyin2” merupakan penggambaran dari kedekatan hubungan kedua karakter yaitu D’nyon2 n’ D’nyin2 yang memiliki cerita kehidupan. Dua karakter ini tercipta dari persahabatan kreatornya yaitu Septi Asri Finanda (Septi) dengan teman semasa kuliahnya yaitu Setyo Eko Widodo (Dodo) sejak tahun 2005. Karakter ini diciptakan pada tahun 2008 dan mulai diperkenalkan ke masyarakat Yogyakarta dengan mengikuti Festival Kesenian Yogyakarta 2010.

Pada pameran ini mengikutsertakan dua peserta pameran yaitu Septi Asri Finanda sebagai kreator karakter dan Kadek Primayudi sebagai desainer grafis lepas yang akan merespon kedua karakter sebagai object eksplorasi. Karya-karya yang akan ditampilkan merupakan respon secara visual terhadap karakter moral dan pikiran yang dimunculkan oleh Septi seperti kelucuan, kegembiraan, kesedihan dan sebagainya. Oleh karena itu, Kadek, sebagai perespon harus mengetahui peran kedua karakter tersebut.

Friendship yang bermakna kedekatan hubungan, tidak hanya terjalin antara dua teman, tapi bisa muncul dari kedekatan dalam hubungan keluarga, antara Ayah dan Ibu, orang tua dan anak, maupun kakak dan adiknya. Kedekatan dari kedua karakter ini menjadi strategi bagi www.dnyonnyin.com untuk memposisikan merek dengan konsumen melalui aplikasi karakter ke dalam produk seperti tas, t-shirt, dompet, batik dan sebagainya. Kedekatan inilah yang ingin selalu dipertahankan sebagai benefit dan diperkuat melalui tagline www.dnyonnyin.com yaitu “Love Everybody Around You”.

Semoga pameran ini memberi makna yang lebih dari sebuah persahabatan dan mengajak kita untuk merangkul orang di sekitar kita.

 

ArtWork